Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 30 - Mencari Jawaban


__ADS_3

Alex terpaksa melakukan pemotretan tersebut demi kontraknya dan juga ia berkesempatan mendekati Nona Marie. Aliya yang tak tahan juga melihat Alex makin dekat dengan Nona Marie pergi menuju sebuah cafe di wilayah apartemen mewah tersebut.


Aliya menyeruput es kopi caramel dan sepotong roti keju kesukaannya. Ia bertemu dengan Brian, tetangga Alex. Pria menyebalkan yang sangat tak disukai oleh Alex. Dengan santainya pria itu duduk satu meja di hadapan Aliya.


"Halo gadis manis, kenapa kau sendirian?" tanya Brian.


"Aku tak sendiri, aku bersama Alex," jawab Aliya.


"Apa dia punya ilmu menghilang, kok aku tak melihatnya, di mana Alex ya, Alex... Alex..." cibir Brian.


"Cih, ingin rasanya kusiram wajahmu dengan es kopi ini," ucap Aliya.


"Uwuuu aku takut. Ku dengar kalian sudah menikah, ya?" tanya Brian.


"Dengar dari siapa?"


"Selena."


"Oh... kalau kau dengar dari Selena, iya aku sudah menikah dengan Alex."


"Uhuk... uhuk... jadi itu benar," ucap Brian terperanjat dengan ucapan Aliya dan tersedak saat menyeruput secangkir kopinya.


"Iya."


"Lalu, di mana Alex sebenarnya?" tanya Brian.


"Tuh, Alex!"


Aliya menunjuk Alex yang berjalan berdampingan dengan Nona Marie di parkiran apartemen dan mengantarnya masuk ke dalam mobil.


"Suamimu itu bersama wanita lain dan kau malah tenang di sini?"


Brian mencoba membuat Aliya panas.


"Tapi... dia sudah mengarah ke sini, wah cepat sekali jalannya," ucap Aliya.


Brian menoleh ke arah pintu cafe, benar saja dugaannya, Alex sudah melangkah cepat dan menghampiri Brian.


"Apa yang kau lakukan bersama Aliya?" Alex mengangkat tubuh Brian dengan mencengkeram jaket hitam yang Brian kenakan.


"Aku hanya menemaninya, kan kau sendiri yang meninggalkannya dengan perempuan lain, aku dan Aliya melihatnya dari sini," sahut Brian.


"Pergi kau, sekarang!"


Brian meraih cangkir di atas meja dengan tatapan sinis lalu berpindah tempat, namun Alex kembali menarik jaket yang Brian pakai.

__ADS_1


"Di mana kau dapatkan jaket ini?" tanya Alex.


Ukiran burung elang di punggung Brian itu sama persis dengan sosok misterius yang ke luar dari ruang perawatan Tuan Sahid.


"Lepaskan aku! Semua anggota Elang Warriors menggunakannya, lalu kenapa?" tanya Brian seraya menepis genggaman tangan Alex dari jaketnya.


"Semua anggota Elang Warriors? Kau bergabung dengan kelompok murahan itu?" cibir Alex.


"Bukan urusanmu, urus saja istrimu itu jangan sampai hilang atau kurebut dia darimu hahaha!" Brian meninggalkan cangkir kopinya itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Alex dan Aliya.


Alex ingin memukul Brian, namun Aliya menahannya dah bertanya, "Ada apa sih dengan jaket yang Brian pakai?"


"Jaket itu... Aku hanya ingin tahu," sahut Alex. Hampir saja ia keceplosan tentang pembunuhan Tuan Sahid pada Aliya.


"Kenapa kau pergi, untung saja aku melihatmu di sini, coba kalau dindingnya bukan kaca, aku tak akan menemukanmu di sini," seru Alex.


"Daripada aku mati karena cemburu lebih baik aku menghindar ke sini. Lagipula kurasa Nona Marie mulai menyukaimu, jadi manfaatkan."


Aliya segera melahap roti yang ia pesan dan menyeruput es kopi miliknya sampai habis. Senyum Alex tersungging di wajahnya. Ia seka bekas kopi di sudut bibir Aliya perlahan. Gadis itu langsung tampak canggung.


"Kau lapar?" tanya Alex.


Aliya mengangguk.


Alex segera meraih tangan Aliya dan menggenggamnya seraya melangkah bersamaan menuju mobil. Aliya yang takjub, tak ada henti-hentinya menatap tangannya yang digenggam Alex begitu saja.


***


"Kenapa Brian bilang kau istriku?" tanya Alex yang teringat ucapan Brian.


Aliya langsung tersedak saat menyantap pasta fetucini di hadapannya. Ia tak percaya setelah sedari tadi diam ternyata hal tersebut yang ditanyakan oleh Alex.


"Tadi dia bilang kalau Selena yang memberitahukan kepadanya kalau kita sudah menikah, ya sudah kubilang saja iya," sahut Aliya.


Prang...


Piring pasta itu jatuh dari tangan Ruby begitu saja sampai membuat Nyonya Solaria terkejut dan menghampiri.


"Apa yang terjadi, Ruby?" tanya Nyonya Solaria.


Alex dan Aliya menoleh kepadanya seraya mengamati.


Gadis itu lalu menangis dan menutup wajahnya seraya berkata, "Alex dan gadis itu sudah menikah, Nek, huhuhu..." Ruby bergegas pergi ke dalam ruangan karyawan.


"Jill, tolong bereskan ini," ucap Nyonya Solaria pada pelayan baru yang ia pekerjaan di sana. Wanita paruh baya itu menghampiri Aliya dan Alex.

__ADS_1


"Benarkah itu, kalian sudah menikah?" tanya Nyonya Solaria, wajahnya terlihat berbinar bahagia.


Alex dan Aliya saling menatap lalu keduanya bersamaan menoleh ke arah Nyonya Solaria. Dan entah apa yang menggerakkan pikiran mereka yang tiba-tiba melakukan gerakan kepala mengangguk bersamaan.


"Apa yang terjadi pada Ruby?" tanya Alex.


"Kau tau lah anak itu, sejak dulu dia menyukaimu, mungkin dia sedih mendengar kalian menikah," ucap Nyonya Solaria.


"Oohhh... Aku tak bermaksud membuatnya sedih, bolehkah aku bicara dengannya?" pinta Aliya.


Nyonya Solaria mengangguk dan mempersilahkan.


"Tunggu di sini ya," bisik Aliya pada Alex.


Namun, Alex tak mendengarkan ucapan Aliya, ia pergi mengurus niatnya tadi mencari Ben.


***


Gerombolan anak muda yang sedang menghisap daun haram itu saling tertawa dan berkelakar tak jelas saat Alex berusaha melewati mereka. Dua orang ajudan Ben datang menghampiri Alex dan melakukan penggeledahan pada tubuhnya mencari senjata tajam.


Setelah dirasa aman dan tak berbahaya, Alex dibawa ke sebuah ruangan untuk menemui Ben. Alex segera menutup pintu ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Alex menceritakan maksud kedatangannya pada Ben. Namun, bukan hal yang mudah untuk mendapatkan jawaban dari Ben. Pertarungan sengit pun terjadi. Dan kali ini Alex lebih unggul dan bersiap mematahkan rahang Ben jika tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Temuilah Abraham, dia yang memberikanku perintah untuk menghabisi Tuan Sahid," ucap Ben.


"Untuk apa dia menghabisi Tuan Sahid?" bentak Alex. Jepitan tangannya makin kuat di leher Ben.


"Aargghh aku tak tahu, aku hanya menjalankan perintah demi keamanan Elang Warriors," sahut Ben.


Alex melepaskan leher Ben dari jepitan kedua lengannya lalu meraih pistol lebih cepat dari Ben dan mengarahkannya pada Ben. Alex pergi kemudian dengan mengancam para ajudan atau siapapun yang menghalangi ia pergi dengan senjata api di tangannya.


*******


To be continue...


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love

__ADS_1


Vie Love You All...


__ADS_2