
Sergapan anak buah Nona Marie sampai juga di hotel tempat Alex dan Aliya menginap. Para anak buah itu memaksa untuk menyusuri setiap kamar dalam hotel tersebut. Ketukan pintu yang terdengar berkali-kali itu membuyarkan Alex yang terlelap mendekap tubuh Aliya. Kedua tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun dibalik selimut tebal tersebut.
"Siapa sih, masih pukul dua begini, ada apa dengan bellboy hotel ini," gumam Alex.
Pria itu lalu meraih celana dalam dan boxer lalu dipakainya bersama dengan kaus putih polos. Alex melangkah menuju pintu kamar dan mengintip dari celah kecil pintu tersebut. Kedua matanya terbelalak dan tersentak kala melihat dua orang pria yang mengenakan jaket kulit hitam sedang berdiri di hadapan pintu kamar hotel. Alec segera membangunkan Aliya.
"Alex, nanti saja ya main lagi, aku masih capek nih," sahut Aliya.
"Aliya bangun!"
Alex mengguncang tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Apa sih, Lex?" seru Aliya yang langsung dibekap mulutnya oleh Alex.
"Lekas pakai pakaianmu, dan sembunyilah di kamar mandi!" bisik Alex.
Aliya menepis tangan pria itu, "ada apa memangnya?" bisik Aliya.
"Kurasa anak buah Nona Marie sampai ke sini," ucap Alex.
Tanpa banyak tanya lagi wanita itu langsung bergegas meraih pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Aliya mengunci pintu tersebut dari dalam.
Alex mengenakan celana panjang dan bersiap dengan senapan berikut alat peredam di tangannya.
"Cleaning service...!" teriak salah satu pria seraya menggedor terus pintu kamar Alex.
Ia membuka pintu tersebut perlahan dan bersembunyi di balik pintu itu. Pria yang satu sudah masuk ke dalam dan mencari keberadaan Alex, sementara pria satunya menunggu di luar.
Dor! Dor!
"Aarrgghh!"
Pria itu tergeletak di lantai karena Alex menembak kedua kakinya. Pria itu hendak meraih pistol dari pinggang belakangnya tapi Alex segera menendang pistol tersebut sampai ke depan pintu kamar mandi.
Satu pria lainnya masuk dan langsung mendapatkan todongan pistol di kepalanya dari Alex.
"Angkat tanganmu!" seru Alex.
Dor!
Tembakan yang sama tepat mengenai lutut kaki kanan pria tersebut.
"Aaarrghhhhh! Kurang ajar!" seru pria itu.
"Berikan pistolmu!"
__ADS_1
Todongan ancaman pistol itu mampu membuat si pria ciut juga nyalinya dan menyerahkan senjata api miliknya kepada Alex.
"Aliya, ayo kita pergi!" seru Alex membuat Aliya ke luar dari kamar mandi.
Ia meraih tas ransel milik Alex dan menggendongnya di punggung.
"Kemarikan ponsel kalian!" pinta Alex pada kedua pria tersebut.
Alex langsung menginjak dan menghancurkan kedua ponsel tersebut. Lalu, ia menutup pintu kamar tersebut. Seorang bellboy terlihat ketakutan.
"Kau urus dua pria terluka di dalam itu," ucap Alex pada bellboy tersebut.
Kemudian, Alex membawa Aliya pergi menggunakan tangga darurat.
"Alex, aku takut," lirih Aliya.
"Tenanglah, aku akan selalu melindungimu," ucap Alex.
Mereka akhirnya berhasil menuju lobby saat para anak buah Nona Marie menggeledah seluruh kamar hotel.
"Ah, sial! Mereka sudah berjaga di mobilku," ucap Alex.
Lalu...
Suara tembakan terdengar saat Alex menyerang dua penjaga di sekitar mobilnya. Alex berhasil melumpuhkan mereka. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan membawa Aliya masuk ke dalamnya.
Beberapa anak buah tersadar dengan suara tembakan tersebut mereka bergegas memburu Alex dan Aliya yang sudah melaju pergi lebih dulu. Kejar-kejaran pun terjadi di jalan raya yang terlihat sepi tersebut karena masih dini hari.
"Aliya pegang pistolku!" seru Alex saat fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Hah, pistol apa maksudmu, yang tadi aku pegang?" tanya Aliya dengan polosnya.
"Pistol mana yang kau pegang?" tanya Alex.
"Junior mu itu, masa harus kupegang sekarang," seru Aliya.
"Astaga, otakmu itu benar-benar idiot atau memang sudah ketagihan, tak kusangka ckckck," ucap Alex yang tertawa meskipun situasi sedang menegangkan dikejar mobil para anak buah Nona Marie.
"Alex, aku kan benar-benar tak tahu pistol apa yang kau maksud hehehe."
"Di atas dashboard itu kau arahkan ke mobil mereka!" perintah Alex.
"Aku tak pernah memegang pistol seperti itu sebelumnya, bagaimana bisa aku menggunakannya?" Aliya terlihat panik dan tak mau menyentuh senjata api tersebut.
"Nih, begini caranya, kau tarik pelatuknya lalu kau arahkan ke mobil di belakang itu!"
__ADS_1
"Aduh, baiklah akan aku coba," ucap Aliya meraih pistol tersebut dan melakukan apa yang Alex perintahkan.
Kedua mobil itu sudah sejajar dan pria di dalam mobil itu mengarahkan senapan yang sama pada Aliya.
"Aaaaaa!!!" Aliya menarik pistol tersebut lebih dahulu seraya menutup kedua matanya.
Si pengemudi tersebut terkena tembakan dari Aliya yang mengarah asal dan membuat mobil tersebut oleng menghantam bahu jalan.
"Yess... aku berhasil melakukannya, ayo sini kalau berani!" seru Aliya mulai jumawa.
Dor!
Aliya tak sengaja menekan pelatuknya dan mengarah ke jendela mobil Alex. Ia baru saja membuat lubang di kaca jendela itu.
"Liya...!" seru Alex dengan wajah kesal dan berang.
"Maafkan aku, aku tak sengaja hehehe."
Aliya mengerjapkan kedua matanya menatap Alex. Membuatnya makin terlihat menggemaskan.
Tiba-tiba Alex menekan pedal rem secara mendadak. Sebuah mobil sedan rolls royce menghadang mereka di pertengahan jalan raya tersebut.
"Apa lagi ini," gumam Alex.
*****
To be continue....
Follow IG ku @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Anta's Diary
Vie Love You All...
__ADS_1