
Happy Reading...
*****
Alex membawa Aliya ke panti asuhan milik Tuan Edie. Pria itu mencari pemilik panti asuhan kala itu juga.
"Alex, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya pria itu.
"Apa kau tau sesuatu tentang orang tuaku?" tanya Alex.
"Apa maksudmu, Nak, aku tak mengerti."
"Kau mengerti, kau pasti mengerti, lekas beritahukan apa yang kau tau tentang orang tuaku?"
"Aku-aku, baiklah jika kau memaksa."
Tuan Edie menceritakan semua masa lalu Alex dan bagaimana ibunya terbunuh kala itu. Kemarahan terpancar di wajah pria itu.
"Abraham? Maksud Tuan Edie, Abraham si penguasa wilayah barat itu?" tanya Aliya.
Tuan Edie menganggukkan kepala mengiyakan. Ia meraih sesuatu dari kamarnya. Sebuah foto lawas yang menggambarkan seorang wanita cantik sedang menggendong anak laki-laki seraya tertawa menunjukkan kebahagiaan.
"Ini, ibumu..."
Tuan Edie menyerahkan lembaran foto itu pada Alex. Pria itu meraihnya dan menatap foto tersebut dengan wajah sendu. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Ia tertunduk lesu seraya merebahkan bokongnya di sebuah kursi.
"Jadi kau anak dari..."
Aliya tak melanjutkan ucapannya dan memeluk pria itu. Tiba-tiba suara kegaduhan terdengar sampai membuat dua orang itu langsung terkejut dan bangkit menuju asal suara kegaduhan itu.
"Apa aku bilang, dia ada di sini," ucap Marie.
Ia menarik tangan Amir yang terikat dari dalam mobilnya. Rupanya anak buah wanita itu berhasil meringkus polisi itu. Kini, Marie mengancam dengan menodongkan pistol ke kepala pria itu. Wanita itu tersenyum menyeringai.
"Marie, apa yang kau lakukan?"
Aliya berusaha untuk membuat wanita itu tenang.
"Serahkan Alex kepadaku!" pinta Marie.
"Dengarkan aku dulu, pria ini suamiku—"
"Aku tahu! Aku tak peduli dia suamimu, dan aku ingin dia jadi milikku!" bentak Marie.
Tak lama kemudian iringan mobil sedan hitam datang ke halaman panti asuhan. Tuan Abraham turun dari dalam mobil itu. Ia mengacungkan senapan laras panjang ke hadapan Alex.
"Kau sudah membuatku marah dan hilang kesabaran, kini aku akan menghabisimu!" serunya.
"Ayah, hentikan! Aku ingin dia jadi milikku, kalau kau ingin membantuku, maka habisi wanita itu!" seru Marie.
"Nak, kau bisa cari pria lain!" seru Tuan Abraham.
"Aku tak mau! Aku mau dia Ayah!" rengeknya.
"Mereka saling mencintai, tak bisakah kau mengalah sama sepertiku? Biarkan mereka bahagia dan cari kebahagiaan kita sendiri bagaimana?" tanya Amir mencoba berbicara dan bernegosiasi dengan Marie.
"Diam kau, atau kutarik saja pelatuk ini!" ancam Marie.
__ADS_1
Tuan Edie muncul dari balik pintu. Ia menatap ke arah Abraham yang juga menatapnya terperanjat.
"Edie? Bukankah kau sudah meninggal?" tanya Abraham.
Edie melangkah menghampiri pria itu.
"Tuan Abraham, apa itu kau?"
Pria paruh baya itu menghampiri Abraham lebih dekat.
"Kau masih hidup," ucap Abraham yang langsung meletakkan senapannya dan memeluk erat Edie.
"Aku masih hidup, Tuan, aku masih hidup, tapi aku tak bisa menyelamatkan-"
"Aku tau, aku sudah membalas dendam akan kematian Maria dan putraku, aku sudah membalaskan dendam mereka," ucap Abraham.
"Kematian putramu?"
Edie melepas pelukan Abraham lalu menatap ke arah Alex.
"Dia, putramu..."
Edie menunjuk ke arah Alex yang menatap Abraham dengan tatapan bingung. Di satu sisi ia bahagia bisa bertemu sang ayah, di sisi lain sosok Abraham bukanlah sosok pria yang dia inginkan.
"Di-dia, dia putraku?" Abraham menoleh pada Edie yang menganggukkan kepala.
"Ayah, apa maksud dari pembicaraan ini? Apa maksud pria ini menunjuk Alex dan bilang kalau ia putramu?" tanya Marie.
Tuan Abraham tak menjawab. Ia segera menghampiri Alex dan memeluk pria itu. Alex menatap ke wajah Aliya yang tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Aku sangat sedih saat kehilangan ayahku, jadi kau harusnya bahagia saat menemukan ayahmu," ucap Aliya.
"Ja-jadi?" Marie makin tak mengerti.
"Jadi, si Alex itu kakak kamu!" sahut Amir.
"Enggak, enggak mungkin!" seru Marie masih menatap tak percaya.
"Mungkinlah, kucing kawin sama tikus aja mungkin apalagi itu," sahut Amir.
"Diam kau, dasar bodoh!"
Marie memukul kepala Amir dengan senapan di tangannya.
"Ayah mertua, tolong lepaskan ikatan kawanku!" pinta Aliya memohon pada Abraham agar melepas ikatan Amir.
"Ayah mertua? Jadi kalian sudah menikah?" tanya Abraham.
Alex dan Aliya mengangguk bersamaan.
"Tapi kami belum membuat pesta pernikahan kami," ucap Alex.
"Akan aku buatkan pesta meriah untuk kalian, ayo kita pulang!" ajak Abraham.
"Ayah...!" pekik Marie.
"Anakku sayang, dia adalah Kakakmu, jadi jangan pernah merebutnya dari wanita ini. Lepaskan pria ini, jika ia kembali ke kantornya lalu membahayakan posisi kita maka kau boleh membunuhnya!" ucap Abraham menepuk pipi Amir sambil tertawa.
__ADS_1
Alex langsung melepaskan ikatan Amir kali itu, sementara Aliya meraih pistol di tangan Marie yang masih melongo menatap tak percaya.
"Sudahlah, akhiri saja cerita ini dengan kebahagiaan, lihat sampingmu! Amir tak kalah keren dari Alex, kalau saja aku tak bertemu dengan Alex mungkin aku akan menikah dengan Amir," ucap Aliya.
"Nah kan, Aliya masih menyukaiku..." ucap Amir.
Alex meraih senapan di tangan Aliya yang tadi diambil dari Marie.
"Berani kau sedetik pun bermimpi tentang istriku, kupecahkan kepalamu!" ancam Alex.
"Ah sudahlah, terserah kau mau bilang apa, besok aku akan berhenti menjadi polisi!" seru Amir.
"Kenapa?" tanya Aliya yang melingkarkan lengannya di tangan kekar milik Alex.
"Berhadapan dengan pencuri seperti Alex ditambah ia anak penguasa gangster Tuan Abraham dan kakak dari Marie, lebih baik aku menyerah," ucap Amir membuat Aliya dan Alex tertawa.
Marie masih terlihat syok tak percaya. Alex dan Aliya saling memberi kecupan di hadapan mereka lalu melangkah beriringan menuju mobil Tuan Abraham.
"Kau tau?" tanya Aliya pada Alex.
"Tau apa? Tau kalau kau sangat mencintaiku?"
"Hmmm... itu sih tak perlu diragukan lagi, aku ingin merubah keluargamu, aku akan membuat ayahku menjadi pebisnis dan berhenti menjadi gangster, atau penjahat semacamnya," ucap Aliya.
"Apa kau yakin bisa?"
"Tentu saja, buktinya aku mengubah putranya kadi lebih baik dengan kekuatan cintaku, maka aku akan tunjukkan kekuatan cintaku untuk mengubah ayahmu lebih baik, asal kau membantuku," ucap Aliya.
"Hmmm... baiklah... Aku juga bosan jadi orang jahat," ucap Alex.
Keduanya saling tertawa penuh cinta.
Di belakang mereka, Amir masih berada di samping Marie yang terduduk lemas dalam mobilnya. Pintu mobil itu masih terbuka.
"Kau mau berkencan denganku?" tanya Amir tiba-tiba.
"Kalau aku masih pegang pistol itu, maka aku tak perlu berpikir lagi untuk menarik pelatuknya ke arah kepalamu!" sahut Marie dengan tatapan kesal.
"Sudahlah, ayo kita cari kebahagiaan kita bersama, geser kau pindah ke sebelah, biar aku mengemudi," ucap Amir.
Entah kenapa, Marie malah menurut pada perintah pria itu.
"Kita mau kemana?" tanya Marie.
"Ke pantai, ke hutan, ke gunung, terserah aku..."
Amir mengemudikan mobil milik Marie lalu melambai pada Alex dan Aliya.
"Hahaha... awalan yang hebat," sahut Aliya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Tuan Abraham.
Ia masih menatap mobil Marie yang melaju pergi. Jauh dalam hatinya, ia masih menyembunyikan tentang keadaan mengenai ibunya Marie.
******
Hahaha... Finally...
__ADS_1
Happy Ending ya gaisssss.
Terima kasih yang udah sabar dan baca sampai sini.