
Tapi...
Kedua tangan Alex yang terbuka telapak tangannya itu, tak sengaja menyentuh bagian atas paling sensitif yang Aliya punya.
"Aww...!!!" teriak Aliya.
Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya di samping tubuh Alex sambil mengusap buah d*danya yang tak sengaja tersentuh oleh Alex. Aliya merasa kesakitan dan terasa nyeri menjalar di bagian area sensitifnya.
"A-aku, aku tak sengaja," ucap Alex, ia masih memperhatikan kedua tangannya yang tak sengaja meremas area terlarang milik Aliya sambil mengubah posisinya yang kini duduk bersandar pada tepi sofa.
Aliya juga langsung mengubah posisi tubuhnya, lalu duduk di hadapan Alex sambil menatapnya tajam seperti singa betina yang lapar bersiap untuk melahap mangsanya.
"Kau, benar-benar membuatku jengkel... rasakan pembalasanku...!"
Aliya mencekik leher Alex sampai membuat pria itu terbaring lagi. Kini tubuh Aliya tepat duduk di atas perut Alex sambil mencekiknya.
"Lepaskan aku! aku kan tidak sengaja!" pekik Alex.
"Kau menyebalkan, rasakan ini!"
"Kita malah belum impas, kau sudah dua kali menyakiti punyaku, aku baru sekali," ucap Alex membela diri.
"Aarrgghh aku kan juga tak sengaja, lantas kau mau menyentuhnya lagi agar impas, hah?"
Tiba-tiba suster yang sebelumnya masuk ke dalam ruangan itu kembali lagi untuk memeriksa Ayah Aliya. Pada saat itu adalah jadwal pemberian obat melalui suntikan pada cairan infus Tuan Sahid.
"Astaga, maafkan aku Tuhan, mereka benar-benar telah menodai kesucian rumah sakit ini," pekiknya sambil berdoa memohon ampun pada Tuhan kala melihat adegan Aliya dan Alex di hadapannya.
Aliya dan Alex langsung saling bertatapan tak mengerti, sampai akhirnya mereka sadar kalau tubuh Aliya berada di atas tubuh milik Alex.
"Astaga, Nyonya Suster aku bisa menjelaskannya, ini tak seperti yang kau pikirkan," ucap Aliya yang langsung berdiri dan menghampiri suster tersebut.
"Kan sudah kubilang kalian carilah hotel, apalagi di hadapan Ayahmu yang sedang terbaring sakit begini," keluhnya.
"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun, barusan itu aku kecelakaan sampai mencekiknya, sungguh Nyonya Suster, percayalah..."
__ADS_1
"Sudahlah aku paham gejolak cinta anak muda seperti kalian, kali ini ku maafkan, tapi tolonglah jaga perlakukan kalian di rumah sakit ini."
"Tapi suster..." Aliya masih mencoba membela diri sementara Alex hanya menggaruk-garuk kepalanya.
"Oh iya, jika kalian tidak punya uang untuk menyewa hotel, kalau pria mu bawa mobil, pergilah ke tempat parkir, bawa mobil kalian ke sudut parkir samping lift barang, di sana agak sepi dan gelap, jika kalian tak tahan ingin melakukannya. Aku peringatkan sekali lagi, jangan di sini!" Suster itu lalu menutup pintu ruangan tersebut dan pergi.
"Hah? apa-apaan maksud suster tadi, sudah ku jelaskan bahwa tak terjadi apapun di antara kita kenapa dia malah memberikan saran yang menjijikan seperti itu, sih?"
Aliya duduk di samping Alex yang masih menahan tawanya. Pria itu masih tak menyangka kalau Nyonya Suster tadi malah memberi saran seperti itu ketimbang memarahi mereka habis-habisan.
"Apa yang kau tertawakan?" Aliya mendorong bahu Alex.
"Suster tadi, dia benar-benar, wow..." sahut Alex yang akhirnya tak tahan juga untuk tertawa.
Aliya merentangkan tubuhnya ke atas, sambil menguap. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit kala itu. Ia kembali ke atas sofa untuk membaringkan tubuhnya.
"Aliya?" tanya Alex yang kini berhadapan dengan kaki gadis itu.
"Apa? aku mau tidur lagi tau, aku masih merasa mengantuk," jawab Aliya.
Alex menahan tawanya, ia ingin menggoda Aliya dan mengetahui apa reaksi gadis itu terhadap ucapan suster tadi.
Kira-kira Aliya paham tidak ya, maksud dari suster tadi... batin Alex.
Aliya langsung memberikan telapak kakinya ke arah wajah Alex dan mendorongnya. Ia mengaduk-aduk wajah Alex dengan kedua kakinya.
"Rasakan itu! biar ku bersihkan otak mesummu ini dengan kakiku!" seru Aliya dengan nada kesal.
***
Pagi itu, di tengah hangatnya pantulan sinar mentari pagi, Amir tengah sarapan bersama Selena sambil membicarakan Aliya dan Alex.
"Apa kamu yakin, Selena, kalau Aliya sudah menikah dengan pria tadi?" tanya Amir di beranda rumah besarnya saat menikmati sarapan bersama Selena.
"Maksudmu, Alex? tentu saja mereka sudah menikah, mereka tinggal bersama, bahkan Alex mencium Aliya dengan mesra," sahut Selena.
__ADS_1
Ucapannya barusan makin membuat Amir sangat merasa cemburu dengan mengepalkan tangannya di atas lutut dengan wajah geram menahan marah.
"Apa cantiknya sih gadis itu, sampai kau juga menyukai dia?" tanya Selena dengan nada ketus.
"Aku lebih dulu menyukainya, sedari kecil. Kenapa takdir malah membuatnya menikah dengan orang lain setelah ayahnya memberikan harapan bisa menikahinya," lirih Alex seraya berdiri lalu menaruh kedua tangannya di pagar balkon itu.
"Hmmm mana aku tahu."
"Apa kau lihat foto pernikahan mereka?" tanya Amir.
"Aku tak begitu memperhatikan, sih," sahut Selena.
"Berikan aku alamat pria itu, aku akan mencari tahu keberadaan mereka di sana," pinta Amir.
Selena meraih ponselnya lalu ia ketikkan alamat apartemen milik Alex dan mengirimkannya melalui text short message ke ponsel Amir.
"Oh, Apartemen Idaman, iya aku tahu tempat ini. Tapi, bukankah ini daerah pengedar narkoba, bahkan ada beberapa kriminal yang tinggal di area ini?" gumam Amir.
"Mana aku tahu," sahut Selena yang mendengar sekilas saat Amir menggumam.
"Iya, aku ingat, siapa penguasa daerah itu," ucap Amir lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mencari buku catatan di laci meja kecil samping ranjangnya.
******
To be continue...
See you next chapter.
Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang lima.
Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...
Thank you sayang-sayangnya Vie...
Love you all 😘😘😘
__ADS_1