Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 33 - Kerjasama yang Jahat


__ADS_3

Apa maksudnya, Alex?" tanya Nona Marie.


"Tak ada maksud apa-apa," ucap Alex.


Tiba-tiba pria itu menangkap sosok wanita yang baru saja datang bersama Nanny tetangga Alex di Apartemen Idaman.


Astaga, apa yang Aliya lakukan bersama Nanny?


Kedua mata Alex tak pernah lepas memandang Aliya dan Nanny yang menuju kerumunan para wanita di lantai bawah. Sebelum Alex mencoba untuk menghampiri Aliya, ternyata Amir sudah lebih dulu menghampiri Aliya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Amir menegur Aliya.


"Hai, Amir! Kamu kok di sini?" Aliya balik bertanya.


"Aku sedang bertugas, aku sedang mengintai, kau jangan buka identitasku, ya?" pinta Amir seraya berbisik di telinga Aliya.


"Oke, aku mengerti. Aku diajak Kak Nanny untuk hadir di acara ulang tahun kawannya," ucap Aliya.


Nanny melambaikan tangannya pada Amir lalu mendekati pria itu.


"Hai, ganteng... kau temannya Aliya, ya?" Nanny mengulurkan tangannya.


"Halo, nama saya Amir, bukan hanya teman kami bahkan pernah hampir menikah," ucap Amir.


"Uwu... Aliya, tak kusangka selera pria-pria mu sangat berkelas," ucap Nanny yang makin membuat tubuhnya mendekat dan menggesekkan dada besarnya di lengan Amir.


"Aku mau ke toilet dulu, ya," ucap Aliya.


Tadinya Amir mau mengantar dan menemani Aliya tapi Nanny dan kawan-kawan wanitanya malah mengerumuni Amir untuk berkenalan.


***


Sementara itu di toilet wanita. Aliya yang selesai melaksanakan buang air kecilnya melihat Nona Marie sedang memandang cermin seraya menata kembali rambut dan penampilan wajah. Aliya mengamati kecantikan perempuan itu dengan seksama.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Nona Marie.


"Kau terlihat cantik sekali dengan make up itu, kalau boleh tau apa usiamu sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun?" tanya Aliya.


Nona Marie tersenyum kecil di sana ia tak menyangka gadis ini akan menebak usianya di angka dua puluh sampai dua puluh lima tahun padahal usia dia sendiri berkisar tiga puluh tiga tahun.


"Tentu saja aku tampak awet muda, perawatan kecantikan yang kupunya itu mahal," ucapnya dengan nada sombong.


"Lalu berapa usiamu?" Nona Marie gantian bertanya.


"Aku dua puluh tahun," jawab Aliya.


"Wow, kau benar-benar masih muda ya, oh iya aku boleh bertanya lagi, apa kau menyukai Alex?" tanya Nona Marie.


"Kenapa kau tanyakan itu?" Aliya mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Alex kini milikku dan aku sangat tergila-gila padanya, aku hanya ingin meyakinkan diriku kalau kau tak akan menyukai Alex. Kalian hanya berteman, kan?" tanya Nona Marie.


Aliya tak bisa menjawab tapi perlahan kepalanya mengangguk.


Sepasang muda-mudi masuk ke dalam toilet mengejutkan Nona Marie dan Aliya. Mereka dengan cueknya melakukan perbuatan kurang enak dipandang yang mengejutkan Aliya dan Nona Marie. Napas keduanya sangat terengah-engah disertai dengan degup jantung yang berdetak kencang.


"Astaga, apa kalian tak bisa mencari tempat lain apa untuk melakukan hal itu?" Pekik Nona Marie yang ternyata mengenal si wanita itu.


"Hai, Marie! Ini menyenangkan tau, coba saja rasakan dengan priamu tadi, nah apa sekarang kalian bisa beri kami privasi, kami sudah tak tahan ingin melakukannya," ucap Eliyana kawan dari Nona Marie. Sementara si pria hanya tersenyum seraya membenamkan kepalanya di leher kuning langsat nan mulus milik kekasihnya itu tanpa malu.


"Iyuh, menjijikkan," seru Nona Marie yang langsung ke luar.


Sementara Aliya malah asik memandangi pasangan tersebut seraya menyentuh lehernya sendiri. Gadis itu mengingat sentuhan bibir Alex di sana.


"Hei, kenapa kau masih di sini?" Hardik si wanita itu.


"Oh iya iya, kenapa aku masih di sini ya, maaf ya saya permisi dulu," ucap Aliya.


Setelah keluar dari kamar mandi Aliya melihat Nona Marie langsung merangkul lengan Alex.


"Sayang, ayo kita pergi!" ajak Nona Marie seraya merangkul lengan Alex. Ia akan berusaha mati-matian menggoda pria itu malam ini.


"Umm... maaf ya, aku harus pergi, banyak yang harus aku kerjakan malam ini," ucap Alex.


Saat Alex menangkap tatapan Aliya yang terlihat kesal menatap ke arahnya, Alex berusaha melepaskan tangan Nona Marie dari lengannya.


"Tapi kan kau sudah janji malam ini akan menemaniku, bagaimana jika kau menginap di tempatku?" tanya Nona Marie dengan nada bicara manja dan menggoda. Ia mulai mabuk kepayang dengan Alex.


"Baiklah kalau begitu, antar aku pulang dulu ya," pinta Nona Marie.


Aliya yang kesal akhirnya pergi dari hadapan Alex dan Nona Marie. Lalu ia menghampiri kawanan Nanny untuk melanjutkan pesta itu kembali. Malam makin larut suasana di bar makin memanas. Aliya merotasikan kedua matanya berkeliling menatap kondisi bar yang terlihat ramai. Makin malam pengunjung makin ramai karena pertunjukkan dalam bar pun makin panas dan liar.


Beberapa penari wanita berpakaian minim berlenggak-lenggok meliukkan tubuh mereka yang berpegangan pada tiang di atas panggung. Beberapa pria hidung belang menyelipkan uang kertas dalam busana minim yang para gadis itu kenakan.


"Iyuuhhh itu terlihat menjijikkan," ucap Aliya.


"Kita pulang saja, mau?" tanya Amir.


"Di sini saja, aku malas pulang," jawab Aliya.


Amir lalu menarik lengan Aliya menjauh dari bar akhirnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Jessica.


"Ikut saja daripada kita pengap ada di ruangan seperti ini," ucap Amir yang suaranya meninggi akibat hentakan suara musik dalam bar yang mulai kencang mengalun ke gendang telinga.


Amir dan Aliya menuju ke lantai tiga, sekarang pria itu mendorong punggung Aliya menuju sebuah ruangan yang dijaga dua orang pria bertubuh besar memakai setelan jas hitam dan berkaca mata hitam.


"Ada kartu masuk?" tanya petugas itu.

__ADS_1


Amir menunjukkan kartu masuk tersebut. Lalu kedua pria itu membuka pintu berlapis emas untuk dimasuki Amir dan Aliya. Ruangan itu kedap suara. Tak ada kebisingan dari hingar bingar pesta di ruangan bar tadi yang akan terdengar masuk ke sana. Di dalam ruangan itu juga terdapat meja yang dipenuhi beberapa botol minuman mahal lengkap dengan gelas kristal dan es batu.


"Ini ruangan apa, Mir?" tanya Aliya.


Amir mempersilahkan pada Aliya untuk duduk di sofa biru. Pria itu berada di meja minuman lalu teringat pembicaraannya dengan Nona Marie sore tadi. Sebenarnya sejak seminggu yang lalu Amir yang berambisi ingin mengulik lebih dalam tentang gangster Abraham mencoba mendekati Nona Marie. Tapi sayangnya, Nona Marie malah mengaku menyukai Alex.


Akhirnya Nona Marie membuat rencana dengan Amir untuk memisahkan Aliya dan Alex. Wanita itu menyediakan suite room untuk Amir menjebak Aliya. Nona Marie juga membayar Nanny agar membawa Aliya ke bar malam ini. Semua rencana Amir dan Nona Marie berhasil.


Amir melihat sebuah plastik kecil berisi bubuk obat perangsang yang bisa meningkatkan hasrat seorang wanita untuk tidur bersama laki-laki. Awalnya Amir ragu, ia tak tega jika harus menjebak Aliya dengan cara seperti ini. Tapi, setelah mencari status Aliya dan Alex di seluruh kantor KUA dan tak ada daftar nama mereka, Amir jadi yakin kalau Aliya dan Alex belum menikah. Ia mantapkan hatinya untuk menjebak Aliya seperti ini agar bisa ia nikahi.


"Maafkan aku, Aliya. Aku memang laki-laki payah dan egois," gumam Amir yang akhirnya yakin memasukkan bubuk obat itu ke dalam gelas minuman yang akan dia serahkan kepada Aliya.


*******


To be continue...


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Anta's Diary


Vie Love You All...


*******


To be continue...


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Anta's Diary

__ADS_1


Vie Love You All...


__ADS_2