
Satu mobil bersama Alex pagi itu benar-benar membuat Aliya salah tingkah terlebih lagi pria itu dengan sengaja selalu menyentuh tanda kepemilikan di lehernya yang dibuat oleh Aliya.
"Aisshh bisa tidak sih kau hentikan ulahmu itu!" seru Aliya.
"Memangnya kenapa?" tanya Alex yang mencoba menahan senyumnya.
"Aku kan malu..." Aliya menundukkan kepalanya.
"Hahahaha..."
Tawa pria itu pecah juga melihat sikap Aliya yang seperti itu.
"Sudah jangan di bahas lagi," ucap Aliya.
Sesampainya di kantor SW Skincare, Alex dan Aliya langsung menuju kantor Nona Marie.
"Halo, Alex. Silahkan duduk." Nona Marie mempersilahkan Alex untuk duduk.
"Kau juga duduk Aliya!" bisik Alex menarik lengan Aliya agar ikut duduk.
"Oh, dia tidak menyuruhku untuk duduk, kenapa harus duduk?" sahut Aliya.
"Kau juga boleh duduk!"
Nona Marie menunjuk Aliya karena mendengar pembicaraannya dengan Alex.
"Terima kasih," ucap Aliya.
"Ini surat kontraknya, panti jompo itu akan kembali kepadamu asal... kau bersedia menjadi model di sini selama dua tahun tanpa dibayar," ucap Nona Marie menyerahkan berkas kontrak pada Alex.
"Hah? dua tahun tanpa dibayar? kau gila ya?" seru Alex.
"Hmmm... bukankah hidup harus saling menguntungkan, anggap saja panti jompo itu sebagai pembayaran untukmu di muka."
"Tapi, selama dua tahun aku harus menjadi model dengan segala acara kegiatan ini tanpa dibayar? gila!"
Alex membolak-balik berkas di tangannya itu dengan kesal. Aliya menarik berkas tersebut lalu memperhatikan dengan seksama.
"Hmmm aku sebagai manajer Alex merasa keberatan, kami kan harus bolak balik ke sini dan ke tempat acara kegiatan syuting ini lalu bagaimana dengan fasilitas dan uang transport atau uang makan?" tanya Aliya.
"Hmmm itu bisa di urus nanti, Kalia akan mengurusnya untuk Alex, sekarang Kalia yang akan menjadi manajer Alex," sahut Nona Marie.
"Lalu, bagaimana denganku?" Aliya menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bukan urusanku!"
Aliya menatap tajam ke arah Nona Marie.
Gadis itu langsung memajukan tubuhnya dan menarik rambut panjang Nona Marie dan membenturkan wajah wanita itu ke meja sampai berdarah.
"Hahahaha..." Aliya tertawa sendiri saat Nona Marie dan Alex sedang berdiskusi masalah kontrak.
"Kau itu kenapa?" tanya Alex.
"Oh... tidak, aku hanya hehhee..." Aliya berusaha menyembunyikan khayalannya yang menyiksa si Marie itu.
"Apa dia akan selalu mengikutimu?" tanya Nona Marie.
"Ya mungkin karena dia kan asistenku," ucap Alex.
"Hmmm... baiklah, tapi kalau kubilang aku tak ingin dia datang, sebaiknya jangan datang, dia akan menganggu mood ku saja," ucap Nona Marie lalu mempersilahkan Alex dan Aliya untuk ke luar dari ruangannya.
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi di mana ya," gumam Nona Marie saat Alex dan Aliya pergi.
Sementara itu saat Alex dan Aliya menuju ke area parkir, mereka berani dengan Rio yang baru turun dari mobil mewahnya.
"Yo, si gadis kopi, apa kabar?" Rio langsung mencoba mendekati Aliya dan berusaha memeluknya. Akan tetapi Alex sudah sigap menarik Aliya dan menggantikan posisinya.
"Huh kau ini benar-benar penganggu, oh iya siapa namamu gadis kopi?" tanya Rio yang mengulurkan tangannya pada Aliya.
"Aku Aliya," ucap Aliya yang langsung menggeser tubuh Alex dengan bahunya. Ia bergegas menjabat tangan Rio.
"Oh, nama yang cantik, oh iya apa kau ingin bekerja denganku?" tanya Rio.
"Ummm aku..."
"Tidak bisa, ia manajerku, ia asistenku, ia milikku," sahut Alex yang langsung melepas jabatan tangan antara Rio dan Aliya.
"Kubayar kau lima kali lipat jika bekerja denganku, bagaimana?" Rio mencoba memberi tawaran pada Aliya.
"Wah... hebat, tentu saja aku..."
"Kau berhutang banyak kepadaku, dan jangan lupa dengan kesepakatan kita," bisik Alex mengancam Aliya dengan tatapan tajamnya.
"Oh iya, aku baru ingat, duh maaf ya Rio aku tak bisa menerima tawaran darimu," ucap Aliya.
"Okay, baiklah kalau begitu berikan aku nomor ponselnya saja," pinta Rio.
__ADS_1
"Aku tak punya ponsel, bagaimana kalau nomor dia saja," ucap Aliya menunjuk Alex.
Pria yang di tunjuknya itu sudah bergegas pergi meninggalkan Aliya.
"Wah aku ditinggal, Rio maaf ya aku harus pergi, dadah..." Aliya bergegas berlari menyusul Alex seraya melambaikan tangannya pada Rio.
"Dia belum tau siapa aku rupanya," gumam Rio.
"Bukannya kau Rio, model terlaris abad ini?" celetuk Jeki asisten Rio yang bertubuh gemulai padahal memiliki badan pria yang tegap dan kekar.
"Bukan itu maksudku, semua orang juga tau, aku itu Rio si model terkenal, maksudku barusan dia belum kenal siapa aku itu karena aku orang yang lebih tekad. Kau tau kan setiap aku menginginkan sesuatu pasti akan aku dapatkan," ucap Rio.
"Maksudnya, kau ingin mendapatkan gadis itu?" tanya Jeki.
"Tentu saja..."
Sementara itu di dalam mobil milik Alex.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit, aku ingin melihat kondisi ayahku," ucap Aliya.
"Nanti saja, ada hal lain yang harus aku lakukan," sahut Alex seraya fokus menyetir.
"Apa itu?" tanya Aliya tak mengerti.
"Menculik anak kecil," sahut Alex dengan ekspresi datar tapi langsung membuat mulut gadis di sampingnya itu terbuka lebar dan mendelik tak percaya dengan apa yang dia dengar.
*******
To be continue...
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Gue Bukan Player.
Vie Love You All...
__ADS_1