
Alex pulang membawa bubur ayam dalam sebuah kotak steroform di tangannya.
"Aliya, Aliya..." Alex mencari Aliya yang menghilang dari sofa.
Panik melanda raut wajahnya tanpa sadar. Pria itu bergegas menuju kamar mandi, tapi tak juga ia temukan kehadiran gadis itu. Sampai langkahnya terhenti karena bola matanya menangkap sesuatu di atas ranjangnya. Gadis itu sedang terlelap di atas ranjangnya yang sudah berubah alas. Aliya mengganti kain seprai saat Alex pergi.
"Heh, gadis idiot! bangunlah!" Alex menyentuh Aliya dengan ujung kakinya sama seperti tadi pagi.
"Hmmm...," gumam Aliya sambil menutup wajahnya dengan bantal milik Alex.
"Heh, gadis idiot! itu kasurku, kenapa kau tidur di situ?" tanya Alex dengan nada kesal.
"Punggungku sakit tidur di sofa, hanya ini tempat terempuk untuk ku tiduri," sahut Aliya dari balik bantal tersebut.
"Kalau kau masih mau tetap di sini, pindah ke sofa, atau aku akan..."
"Cukup, aku akan pindah, sshhh..." ucap Aliya seraya mendesis memegangi perut bawahnya yang masih nyeri. Ia melangkah gontai menuju sofa dan kembali meringkuk di sana.
Alex menghampiri Aliya. Ia serahkan sekotak bubur ayam di tangannya itu ke arah gadis itu. Aliya menepis kotak bubur itu pelan.
"Aku tak mau makan..." sanggahnya.
"Makanlah! atau kalau tidak..."
"Baiklah... kau terus saja mengancamku," Aliya mengubah posisi meringkuknya menjadi duduk.
"Ini bubur ayam untukku?" tanya Aliya.
"Untuk tikus, ya untuk siapa lagi selain dirimu di sini. Habis makan kau minum ini!" Alex meraih satu strip obat pereda nyeri haid dari saku celananya, lalu ia menyerahkannya pada Aliya.
"Darimana kau dapatkan obat itu?" tanya Aliya dengan mata terperanjat melihat obat tersebut. Ia seperti melihat oase menyegarkan di tengah padang gurun. Aliya meraih obat tersebut dengan wajah sumringah.
"Aku membelinya di minimarket," sahut Alex.
"Bagaimana kau tahu tentang obat yang sering ku gunakan saat haid itu?" tanya Aliya.
"Aku kan pintar, tidak idiot seperti dirimu tau, jadi aku tanya dong pada penjaga minimarket tersebut," sahut Alex dengan nada bangga.
"Ummm... kau manis sekali, ternyata kau peduli juga sampai kau perhatian sekali kepadaku," ucap Aliya seraya memasukkan satu sendok bubur itu ke dalam mulutnya.
"Huh, jangan besar kepala dulu, aku melakukan itu bukannya perhatian padamu, tapi aku melakukannya karena aku tak ingin saat ayahmu nanti membayar tebusan, kau malah sakit," sahut Alex mencoba berbohong.
"Oh... kau masih berpikir seperti itu ya.
__ADS_1
Tidak bosan apa memikirkan uang terus?" tanya Aliya.
"Tidak akan pernah bosan!" sahut Alex.
"Baiklah mana nomor telepon ayahmu, sini biar ku hubungi?" tanya Alex seraya menggerakkan jari jemari tangannya naik turun di hadapan Aliya.
"Aku tak tahu," sahutnya datar.
"BAGAIMANA BISA KAU TAK TAHU...!!!"
Bentakan Alex membuat gadis itu tersentak dan menyemburkan bubur di dalam mulutnya itu ke wajah Alex.
"Ma-ma-maaf, habisnya kau mengejutkanku," ucap Aliya sangat ketakutan dan langsung meraih beberapa lembar tisu dari atas meja.
"Kau itu ya, benar-benar..." Alex menggeram, tapi geramannya terhenti saat Aliya menepuk lembut tisu di tangannya itu dengan lembut.
"Aku benar-benar menggemaskan, ya?" Aliya menatap Alex lalu mengedipkan satu matanya menggoda pria itu.
"Idih... itu menjijikkan," ucap Alex sambil bergidik ngeri dan terlihat jijik pada Aliya.
"Huh, sembarangan! masa iya gadis secantik aku ini kah bilang menjijikan," ucap Aliya mulai kesal.
"Sudah cepat sini, berikan nomor telepon ayahmu atau telpon rumahmu!" pinta Alex.
"Lalu bagaimana caranya aku bisa meminta tebusan pada ayahmu?" tanya Alex dengan nada tinggi berseru pada Aliya.
"Ummm aku akan berusaha mengingatnya, nanti kalau sudah ingat, kuberikan segera kepadamu, tenang saja." Aliya menepuk bahu Alex.
"Tenang saja? kau itu tenang tapi aku yang tak tenang!" sewot Alex.
"Kau kan masih ada uang hasil perampokan tempo hari, nah pakai uang itu dulu untuk menghidupiku, semacam memberikan aku nafkah, nanti aku akan menghitungnya dan menggantinya, oke?" Aliya menunjukkan dua ibu jarinya dengan senyum manisnya yang memamerkan gigi putih ratanya.
"Enak saja! memangnya kau istriku apa sampai kuberi nafkah?"Alex menatap Aliya tajam.
"Bagus!" Aliya menjentikkan jarinya.
"Apanya yang bagus?" tanya Alex tak mengerti.
"Ya bagus dong... kalau begitu jadikan aku istrimu, bagaimana?"
Alex langsung menoyor dahi Aliya dengan kesal.
"Dasar gadis idiot...!" hina Alex lalu pergi dari hadapan Aliya merebahkan dirinya di atas kasur.
__ADS_1
"Kau yang idiot, banyak laki-laki yang rela antri tau untuk menjadi suamiku, eh ini jelas-jelas kutawarkan diri malah tak mau," gumam Aliya dengan nada ketus lalu menjulurkan lidahnya pada Alex.
Alex sempat melihatnya sekilas dan menahan tawanya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
"Apa nama perusahaan ayahmu?" tanya Alex dari tempat tidurnya.
Aliya langsung menoleh dan berucap, " Kalau tak salah, SW Skincare, memangnya kenapa?" tanya Aliya lagi. Kini ia menuju tempat sampah untuk membuang bekas makanannya itu. Lalu meminum obatnya segera.
"Astaga, aku baru ingat, bagaimana jika ia berhasil bertemu dengan ayahku, duh bisa dikembalikan aku ke rumah, lalu dijodohkan dengan orang yang tak ku kenal."
Aliya segera menghampiri Alex dan duduk di samping pria itu mengejutkannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" ucap Aliya.
"Aku akan mencari ayahmu lalu meminta tebusan padanya, ini pabrik skincare-nya, kan?"
Alex menunjukkan layar ponselnya pada gadis itu. Aliya hendak merebut ponsel Alex, tapi tangan satunya malah tergelincir dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Wajah Aliya jatuh tepat mengenai junior Alex, dan lagi-lagi menghantamnya.
"Ouch..." Rasa ngilu dan sakit langsung menjalar di daerah sensitif laki-laki itu.
"Astaga... maafkan aku!" pekik Aliya mencoba untuk berlari masuk ke kamar mandi, namun Alex sudah meraih tangannya. Pria itu mencengkeram tangan Aliya dan meremasnya.
"Awww... sakit...!!!" pekik Aliya merasa kesakitan.
Alex makin meremas tangan Aliya membuatnya menjerit.
Suara ketukan pintu apartemen Alex yang tiba-tiba, membuat pria itu melepaskan tangan Aliya.
Alex mencoba untuk berdiri meski rasa ngilu masih menghinggapinya. Ia menghela nafas panjang, lalu bergegas mengintip tamu dari celah pintu apartemen-nya.
*******
To be continue...
See you next chapter.
Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5...
Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...
Thank you sayang-sayangnya Vie...
Love you all 😘😘😘
__ADS_1