Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 12 - Mencari Ayah (Part 2)


__ADS_3

Aliya memasuki kantor polisi di pusat kota yang terlihat megah itu.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu polisi di bagian depan.


"Halo, pak! saya mau mencari Kapten Amir, apa anda tau?" tanya Aliya.


"Ada keperluan apa, kamu mencari Kapten Amir?"


"Saya mau cari ayah saya, katanya sih saya disuru ke sini untuk mencari Kapten Amir," jawab Aliya.


"Tunggu di sebentar, biar saya panggilkan Kapten Amir," ucapnya lalu pergi ke dalam.


Aliya menunggu dengan berjalan mondar-mandir.


"Kenapa ayah tak pernah cerita perihal ini ya, dan akhirnya, akibat gila judinya itu baru terasa, kan...."


Gadis itu mengigit ujung kukunya seraya berjalan bolak-balik di ruang tunggu itu. Karena pintu depan gedung itu terbuat dari kaca, jadi Alex bisa memperhatikan gerak-gerak Aliya dari dalam mobilnya.


"Ini, Pak. Gadis ini mencari bapak sedari tadi." Polisi itu menunjukkan pada Amir mengenai keberadaan Aliya.


"Halo..." Sapa Amir.


"Halo, apa anda yang bernama Kapten Amir?" tanya Aliya.


"Aliya!" seru Amir saat melihat Aliya dan langsung memeluknya.


Aliya yang merasa bingung langsung mencoba melepas pelukan polisi itu tapi tak bisa, pelukannya terlalu erat.


"Apa anda mengenal saya?" tanya Aliya masih tak mengerti mengapa polisi ini memeluknya.


"Aliya, apa kau tak mengenaliku, aku Amir, Sultan Amirudin Syahban," ucapnya meyakinkan Aliya.


"Ah masa sih, kamu si ndut itu? kok sekarang... cakep." Aliya memperhatikan tubuh Amir dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Amir membawa Aliya ke sudut ia tunjukkan tanda lahir di tengkuk belakang lehernya pada Aliya.


"Wah... iya beneran kamu Amir," ucap Aliya terkesima dan langsung memeluk Amir sambil melompat-lompat kecil.


Dari kejauhan sana, dari dalam mobilnya, Alex terlihat gusar.


"Apa-apaan ini, masa baru bertemu saja sudah peluk-peluk seperti itu, apa gadis idiot itu mengenalnya, ya?"

__ADS_1


Alex memukul setir mobilnya dengan kesal seraya masih mengamati gerak-gerik Aliya.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini, padahal aku mencarimu kemanapun?" tanya Amir.


"Aku? ummm aku sedang liburan," ucap Aliya.


"Jangan berbohong, kau kabur, kan?" tanya Amir.


"Ummm aku..."


"Sudahlah jangan berbohong, ayahmu sudah menceritakannya kepadaku, kau kabur kan dari rumah?" tanya Amir.


Kemudian pria itu dengan gemasnya menarik rambut Aliya dan menggoyang-goyangkannya seperti kepala boneka. Ia teringat masa kecilnya bersama Aliya, saat dirinya suka menjahili Aliya yang suka sekali jika rambutnya di kepang dua.


"Ah Amir... menyebalkan ih... kau selalu saja menarik rambutku!" Aliya menepis tangan Amir lalu gantian mencubit pipi pria di hadapannya itu.


"Wah, aku kehilangan pipi bakpau-mu, hebat sekali kau bisa menurunkan berat badan sampai seperti ini," ucap Aliya dengan penuh takjub.


"Oh iya, ayahmu ada di rumahku, ayo kita pulang!" ajak Amir.


"Ummm... apa dia baik-baik saja?" tanya Aliya dengan menunjukkan raut wajah cemas.


"Dia baik-baik saja, dia sehat. Makanya, ayo kita pulang!"


"Kenapa kau takut? memangnya ayahmu galak apa?"


"Tidak ah, dia kan mau menjodohkanku dengan orang yang tak ku kenal, yang aku takutkan aku akan di jodohkan dengan rekan bisnisnya, bayangkan jika laki-laki itu sudah tua bangka, iyuh...."


Aliya memeluk dirinya sendiri merasa sangat jijik.


Apa Aliya belum tau ya kalau ia di jodohkan denganku ?


Batin Alex seraya memandangi Aliya. Ia benar-benar menyukai gadis di hadapannya itu sedari kecil.


"Sudahlah, ayo kita pulang, aku yakin kau akan menyukai pria pilihan ayahmu, nanti," ucap Amir dengan bangganya meyakinkan Aliya.


Aliya melirik ke arah mobil Alex, ia baru sadar kalau pria itu sudah menunggunya sedari tadi.


"Ada yang mengantarku, jadi aku minta alamatnya saja untuk bertemu ayahku sebentar, bolehkan?" tanya Aliya.


"Siapa yang mengantarkanmu?" tanya Amir.

__ADS_1


Aliya menunjuk ke arah sedan putih yang terparkir di seberang kantor polisi itu.


"Siapa itu?" tanya Alex.


"Itu... ummm nanti akan ku jelaskan, aku minta alamatmu, mana?"


Amir merogoh dompetnya untuk mencari kartu namanya, lalu ia menyerahkannya pada Aliya.


"Eh, tunggu sebentar! bukankah kau waktu itu, aku lihat menjadi salah satu sandera dalam sebuah perampokan bank, ya?"


Aduh gawat.


Aliya mengigit bibir bawahnya sendiri dan mulai salah tingkah. Helaan nafas panjang keluar dari hembusan nafasnya.


"Sepertinya kau salah lihat, aku tidak pernah terlibat dalam penculikan maupun perampokan bank," akunya seraya berbohong.


"Tapi aku yakin sekali itu kau."


"Bukan, buktinya aku baik-baik saja kan...."


Aliya tersenyum pada Amir seraya memutar tubuhnya.


Terlihat di wajah Amir kalau dia masih tak percaya. Namun, Aliya berusaha untuk pergi dari sana. Selain takut Amir bertanya makin dalam, ia juga yakin pasti Alex akan menjadi marah karena dia terlalu lama mengobrol dengan polisi di hadapannya ini.


"Aku pergi ya, nanti aku hubungi kalau aku mau bertemu ayah, terima kasih ya sudah menampung ayahku," ucap Aliya lalu melangkah pergi menuju mobil milik Alex.


Aliya masuk ke dalam sana dan langsung menyerahkan kartu nama pada Alex.


"Apa ini?" tanya Alex.


******


To be continue...


See you next chapter.


Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5...


Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...


Thank you sayang-sayangnya Vie...

__ADS_1


Love you all 😘😘😘


__ADS_2