
Setelah mengobati luka di wajah Alex yang penuh pengorbanan, Aliya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.
"Hufftt... Aliya kau pasti bisa, mereka hanya kecoa, tak usah takut," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Sementara Alex sudah tertidur pulas di ranjangnya.
Dua jam sudah gadis itu berperang dengan debu kotoran dan serangga penuh semangat. Setiap melihat kecoa terbang ke arahnya, ia langsung mengigit lidahnya sendiri akar tak berteriak. Ia takut sang monster tampan itu terbangun dan lagi-lagi memarahinya.
Kemudian, Aliya beralih memeriksa tas ranselnya. Benar saja dugaannya, ia kehilangan ponselnya entah di mana. Tatapannya kini tertuju pada tumpukan pakaian Alex yang berserakan.
"Huh... tubuhku lelah aku mau tidur, ku cuci besok sajalah."
Aliya merebahkan tubuh rampingnya di sofa. Semenit, lima menit, bahkan lima belas menit kemudian ia tak kunjung juga terlelap memikirkan pakaian kotor itu. Akhirnya ia menyerah pada pikirannya. Ia kerjakan juga hal yang tadi ia ingin kerjakan.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun ia masih berkutat dengan pakaian kotor milik Alex dan dirinya. Terlebih bekas darah itu tak mau hilang juga dari jaket Alex. Ia menyikat jaket tersebut lebih kuat.
"Sudahlah aku menyerah, toh kalau tak diperhatikan lebih dekat noda ini tak akan terlihat," gumamnya.
Tiba-tiba rasa nyeri menyerang di bagian bawah perutnya. Aliya berusaha bertahan demi menyelesaikan kegiatannya.
Setelah semua dirasa beres, gadis itu langsung meringkuk di sofa. Ia mengalami kram perut yang parah. Meskipun nyeri haid itu sudah biasa dia rasakan setiap bulan, tapi tetap saja rasa sakit hebat itu tak pernah bisa ia lawan. Biasanya satu atau dua hari dalam masa haid, ia akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dan meringkuk menahan sakit perut sampai ia terlelap.
Alex terbangun dengan rasa kantuk yang masih menghinggapinya, namun keinginan buang airnya tak dapat ia tahan lagi. Kedua matanya belum terbuka sempurna seraya berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Saat ia memasuki kamar mandi, Alex terjerat pakaian dalam yang Aliya jemur menggunakan tali. Push up bra berukuran 34 itu tersangkut di wajah Alex.
"Aarrgghh... apa ini?"
Alex menarik pakaian dalam Aliya tersebut dari wajahnya.
"Gadis ini benar-benar ya menye... balkan."
Alex menghentikan omelannya saat melihat pakaiannya sudah bersih dan wangi, tergantung di tali temali yang Aliya buat untuk menjemur.
"Hmmm boleh juga idenya membersihkan pakaianku," puji Alex, lalu ia lanjutkan keinginannya untuk buang air tadi.
Setelah selesai, ia berbalik lagi menuju ranjangnya. Namun, langkahnya terhenti. Pria itu tersentak saat melihat jaket kulit Gucci-nya memiliki luka gores di bagian punggungnya.
"Astaga...!!! gadis ini benar-benar..." geram Alex langsung menuju sofa mencari Aliya.
Gadis yang ingin ia maki itu sudah terlelap dengan posisi tidur menungging di atas sofa.
"Apa-apaan ini, beginikah cara ia tidur? dasar gadis aneh!" rutuk pria itu mengejek Aliya yang bahkan tak tau sedang di maki.
Tiba-tiba dari bokong Aliya terdengar suara.
__ADS_1
Duuut...
Hembusan gas busuk itu langsung terhirup masuk ke dalam rongga hidung milik Alex.
"Astaga... bisa-bisanya ia tidur sambil buang angin tanpa sadar!" pekik Alex dengan rasa mual. Lalu ia kembali ke atas ranjangnya lagi meneruskan istirahatnya yang terjeda.
***
Pagi itu, bukan sinar mentari pagi yang menyilaukan Alex dan memaksanya untuk terbangun. Namun, suara rintihan perempuan yang menyayat hati, yang membuatnya tersadar dari mimpi.
"Apa ada hantu ya di rumahku? tapi ini sudah pagi, lagipula, mana ada hantu di sini?" gumam Alex memasang telinganya lebih awas untuk menangkap suara rintihan tadi.
Ia turun dari ranjangnya lalu mencari asal suara tersebut. Alex terlupa kalau ada seorang perempuan di rumahnya.
"Astaga, aku lupa kalau di rumah ini ada si gadis bodoh itu," ucapnya seraya mendekati sofa.
Aliya masih menungging dengan rintihan pilunya menahan sakit.
"Kau kenapa?" tanya Alex seraya menyentuh bokong Aliya dengan ujung kakinya.
"Huhuhu... sakit... ini sakit..." rintih gadis itu sambil menangis pilu.
"Sakit apa kau?"
"Kenapa perutmu bisa sakit?" tanya pria yang hanya menggunakan celana boxer itu.
"Oh aku tau, kau lapar ya? kau pasti mau bilang minta makan, iya kan?" tanya Alex lagi sebelum gadis itu menjawab pertanyaanya tadi.
"TIDAK...!!!"
Bentakan Aliya membuat kaki Alex langsung bergerak ke belakang.
"Kau itu kenapa sih? kau kesurupan ya?" tanya Alex mulai takut melihat wajah Aliya yang memerah sambil menangis.
"Kubilang perutku sakit, ini karena aku nyeri haid!"
Pekik Aliya sambil membenamkan wajahnya pada bantal sofa.
"Apa sesakit itu?" tanya Alex kembali, namun kali ini tak ada jawaban dari Aliya selain isak tangisnya.
"Aku tak mau ya repot-repot membawamu ke rumah sakit," ucap Alex berusaha tak peduli lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Kegiatan yang sebenarnya malas ia lakukan itu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Ia ingin membersihkan tubuhnya segera tanpa menunggu waktu matahari terbenam lagi. Apalagi ia teringat kata-kata gadis itu semalam, kalau ia itu bau.
Alex terlupa akan kemarahannya pada jaket kulit mahal kesayangannya. Selesai mandi, ia raih satu kaus dalam lemari yang isinya berantakan tak jelas itu, yang penting menurutnya itu bersih sudah cukup. Padahal bagi orang lain belum tentu.
__ADS_1
Alex melangkah menuju ke arah pintu. Ia tolehkan wajahnya sekilas melirik ke arah Aliya yang masih menangis, posisinya kini berubah meringkuk membelakangi Alex.
Ia bergegas ke luar dari apartemennya menuju minimarket terdekat mengendarai mobilnya.
"Nyonya apa kau punya obat atau semacamnya untuk orang yang sakit perut karena... duh karena apa ya namanya aku lupa," pinta Alex pada seorang wanita paruh baya penjaga minimarket.
"Sakit perut karena sering buang air besar?" tanya wanita itu.
"Bukan, dia sakit perut karena berdarah."
Raut wajah nenek itu langsung kebingungan memandang Alex.
"Apa maksudmu berdarah? apa dia terluka?" tanya wanita itu.
"Dia tidak terluka, tapi dia berdarah, aduh apa ya namanya, sebentar aku cari sesuatu di sini yang mengingatkanku pada sakitnya."
Alex menyusuri rak-rak dalam minimarket tersebut. Wajahnya langsung berbinar kala ia menemukan pembalut wanita yang sama persis, seperti yang Aliya beli semalam.
"Ini nyonya, dia pakai ini untuk menahan darahnya. Perutnya sakit karena hal ini."
Alex menunjuk pembalut bersayap itu pada nyonya tua di hadapannya.
"Hahahaha... kau itu lugu sekali, jadi gadismu itu perutnya sakit karena nyeri haid?"
"Apa? haid? ya itulah namanya. Nah, apa kau punya obatnya?" tanya Alex.
Nyonya penjaga minimarket itu mencari sesuatu di kotak obatnya.
"Berikan obat ini padanya, cukup minum satu kapsul saat ia merasa nyeri saja, anakku sering minum ini ketika nyeri haid."
Nyonya itu tersenyum seraya menyerahkan obat pereda nyeri haid itu pada Alex.
******
To be continue...
See you next chapter...
Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5...
Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...
Thank you sayang-sayangnya Vie...
Love you all 😘😘😘
__ADS_1