Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 31 - Rencana Amir


__ADS_3

Alex dan Aliya sampai di apartemen. Keduanya melangkah ke luar dari mobil dan menuju lift. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat sosok pria tegap mengenakan seragam kepolisian sedang berdiri menunggu mereka.


"Amir, apa yang kau lakukan di sini?"


Aliya langsung menghampiri Amir dan memeluknya.


"Hai, Liya. Aku ingin bertemu dengan Alex, ada yang ingin kami bicarakan," ucap Amir.


"Pembicaraan apa? Katakan saja di sini!" pinta Aliya.


Amir melirik ke arah Alex.


"Kita masuk!" ucap Alex lalu membawa Aliya dan Amir mengikutinya masuk lift menuju apartemen Alex.


Sesampainya di dalam rumah Alex, ia memberi perintah pada Aliya untuk menyiapkan minum bagi Amir, lengkap dengan panggilan sayang. Pria itu berusaha menahan tawanya saat melihat wajah Amir berubah masam. Alex sukses membuat Amir cemburu.


"Tunggu ya, aku mau ke toilet dulu, sakit perut," sahut Aliya lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" bisik Alex setelah dirasa aman dan Aliya tak bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Pria yang terekam di cctv itu, ada titik terang tentangnya," ucap Amir yang juga berbisik.


"Siapa? di mana tempat tinggalnya?" tanya Alex.


"Informan ku mengatakan pria itu mirip dengan salah satu pemuda di daerah Elang Warriors," ucap Amir.


"Aku juga sudah tau, dan aku sudah menyelidiki ke sana, ini ada kaitannya dengan Abraham," ucap Alex.


"Gangster wilayah barat kota ini?" pekik Amir.


Alex mengangguk mengiyakan.


"Kenapa kau beritahu aku tentang informasi ini dan membahasnya denganku?" tanya Alex.


"Kupikir kau harus tau, karena biar bagaimanapun tujuan kita sama mencari pembunuh Ayah Aliya," sahut Amir.


Amir sebenarnya berbohong, ia tau Alex merupakan anggota dari kepala preman di sana yaitu Bos Egan, pemimpin gangster wilayah timur. Oleh sebab itu ia ingin mendekati Alex dan mencari informasi mengenai pemimpin geng tersebut. Lalu menangkap komplotan Bos Egan, termasuk Alex.


"Malam ini aku akan ke Fly High, mencoba mencari tau," ucap Alex mengejutkan Amir yang sedang memikirkan rencana tadi.


"Bagaimana jika aku ikut," sahut Amir tiba-tiba.


Ada keinginan tersendiri bagi Amir selain menemukan pembunuh ayahnya Aliya. Dia juga ingin dipromosikan dan mendapat penghargaan apalagi jika kejahatan itu berhubungan dengan gangster milik Abraham.

__ADS_1


"Jangan pakai seragam konyol ini!" seru Alex.


"Iyalah, memangnya aku mau mengantar nyawa apa pergi ke sana menggunakan seragam ini!" seru Amir seraya mengeluarkan sekotak rokok filter lalu memberi sebatang pada Alex.


Aliya yang ke luar dari dalam kamar mandi lalu melangkah menuju lemari pendingin untuk mengambil dua kaleng soda.


"Sepertinya kalian akrab sekali apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Aliya yang meletakkan dua kaleng soda itu di atas meja.


"Tidak, hanya pembicaraan antar pria," sahut Amir yang bersiap menyalakan sebatang rokok di bibirnya lalu menyulutkan api di batang rokok milik Alex juga.


Brak!


"Bisa kalian hentikan!" seru Aliya memerintah sambil menggebrak meja.


Alex yang terkejut langsung mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan mematikan api di rokoknya itu dengan menginjaknya di lantai. Sementara Amir langsung terbatuk-batuk terlanjur menghisap asap rokok itu ke dalam tubuhnya.


"Kalian harusnya tau, aku tak suka dengan perokok!" geram Aliya dengan tatapan tajam dan kedua tangan bertolak pinggang.


"Dia yang memberikan itu kepadaku ya, bukan aku yang mulai," ucap Alex mengadu seraya menunjuk Amir.


"Kenapa kau menyalahkan aku? kan kau juga yang mau," sahut Amir tak terima disalahkan.


"Sudah, kalian berdua sama saja. Alex ambil puntung rokok di lantai itu!" Aliya menunjuk ke puntung rokok di dekat kaki Alex yang sudah diturunkan dari sofa.


Alex bergegas membuangnya ke dalam keranjang sampah.


"Apa liat-liat?" seru Aliya menatap tajam ke arah Amir.


"Tidak, tidak apa-apa."


Amir tersenyum kecut pada Aliya.


"Oh, iya kenapa tak ada foto pernikahan kalian?" tanya Amir yang sedari tadi kedua bola matanya berkeliling.


"Ummm... itu, memang belum kami cetak foto pas di KUA," ucap Aliya berbohong.


Alex menganggukkan kepalanya, lalu menarik tangan Aliya sampai mendaratkan bokong gadis itu di atas pangkuannya.


"Cih, kalian ini benar-benar membuatku kesal saja," keluh Amir.


Ia lalu pamit pergi dari apartemen milik Alex.


"Suatu saat aku akan merebut Aliya darimu, lihat saja nanti," gumam Amir saat masuk ke dalam lift.

__ADS_1


***


Amir dan Alex tiba di halaman Bar Fly High bersamaan dengan mobil mereka masing-masing. Sungguh kebetulan juga, pakaian yang dikenakan Amir sama persis dengan yang dikenakan Alex. Kaus berkerah dan berwarna hitam dengan nama produk yang sama dan dipadu padankan dengan celana jeans warna hitam juga dengan nama produk yang sama.


"Cih, menjijikkan sekali aku bisa berpakaian sama sepertimu," cibir Amir melihat Alex.


"Amit-amit, aku juga mana tau kalau pakaian ini pasaran juga, tau akan begini aku bawa baju ganti tadi. Aku saja yang ganti!" seru Alex.


"Aku juga tak bawa baju ganti, tak ada butik juga dekat sini," sahut Amir.


"Cie... kembaran... pasti pasangan deh, cucok sama kayak kita ya, Cyin!"


Dua orang laki-laki yang saling berjalan bergandengan mencibir ke arah Alex dan Amir.


"Heh, pada ngapain ngeliatin kita kayak gitu, bukan urusan kalian juga, sana, sana!" seru Alex.


"Ih, gitu aja marah. Kalau mau pesta bareng, Kita berdua siap lho nemenin buat ganti-gantian," ucap si pria kurus yang memiliki rambut warna merah itu.


Alex dan Amir langsung saling menatap dan bergidik jijik.


"Pergi sana!" Alex mengusir satu pasangan pria itu dengan mengarahkan tendangannya yang tak kena.


"Gitu aja marah hihihi. Yuk, Cyin, kita masuk ke dalam!" ajak pria rambut merah itu.


Alex dan Amir lalu menyusul langkah mereka menuju ke dalam bar Fly High juga.


*******


To be continue...


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Anta's Diary

__ADS_1


Vie Love You All...


__ADS_2