
"Silo diculik, ya?"
Pertanyaan anak itu membuat Aliya dan Alex menoleh bersamaan dan saling menatap.
"Shiro, gak diculik, kok."
Aliya mencubit pipi anak itu dengan gemas.
"Telus kenapa Silo gak dibawa pulang?"
"Nanti juga dibawa pulang, tapi udah malam, jadi kita nginep di sini," sahut Aliya.
"Silo lapel."
"Ih ni bocah ngeselin ya..." Alex menoleh pada Shiro dan Aliya dengan tatapan kesal.
"Aku juga lapar, cari makan, yuk!" pinta Aliya.
Kriuk, kriuk...
Suara perut lapar Alex terdengar dan langsung membuat Aliya dan Shiro tertawa bersamaan.
"Ya kan, lapar... ayo ah cari makan!" ajak Aliya.
Alex tak bisa lagi membantah, ia akhirnya mengikuti langkah gadis itu menuju ke dalam restoran di dekat penginapan itu.
Nafsu makan anak empat tahun itu cukup membuat Aliya dan Alex terkejut. Satu porsi bubur dengan sup ayam habis dia lahap.
Dut...
"Suara apa itu dan bau busuk apa ini?" keluh Alex.
Shiro mengangkat tangannya seraya meringis.
"Maafin, silo ya om, ante, silo mau pup," ucap anak kecil itu.
Alex langsung menatap tajam ke arah Aliya seraya menutup hidungnya.
"Kau antar dia, cepat!"
"Baiklah, ayo Shiro!"
Aliya menggendong anak itu menuju ke kamar mandi.
***
Satu jam kemudian saat mereka berada di kamar penginapan, Shiro sudah terlelap di atas ranjang empuk itu.
"Apa uang itu sudah kau dapatkan, Jae?"
Suara Alex yang sedang menelepon seseorang terdengar oleh Aliya.
__ADS_1
"Baiklah, besok aku kembali, lebih cepat lebih baik, semoga anak ini lupa dengan wajahku dan Aliya," ucap Alex lalu menutup ponselnya.
"Bukankah anak kecil tidak bisa berbohong, lalu kalau pas dia ditanya dan ingat wajah kita bagaimana?" tanya Aliya mulai panik.
"Kita pergi dari kota ini," sahut Alex datar.
"Astaga, ini kejahatan pertama bagiku dan kau sudah membuatku menjadi buronan, kau menyebalkan," ucap Aliya sambil memukul punggung Alex berkali-kali.
"Aawww sakit!"
"Jadi, bagaimana sekarang?"
"Tidurlah, kita lihat besok anak ini ingat atau tidak," ucap Alex.
"Maksudmu kita mengantar anak ini pada orang tuanya terus bilang, halo Tuan dan Nyonya Gold, ini anak kalian kami kembalikan, begitu?"
"Hahaha... kau lucu sekali, dan benar-benar idiot!"
"Lantas bagaimana, aku benar-benar gemetar ini?"
"Kau lupa dengan supir di rumah itu, lalu aku juga punya orang dalam yang bekerja sebagai pembantu di sana, mereka lah yang akan memberi kabar, dasar idiot!" Alex menoyor dahi depan Aliya.
"Orang dalam? Ada saja di manapun kau beraksi pasti ada orang dalam. Ya sudahlah aku tidur saja," ucap Aliya.
Gadis itu membaringkan tubuhnya di samping Shiro lalu terlelap. Alex kembali tersenyum melihat keduanya.
"Sudahlah, apa yang aku bayangkan ini benar-benar mengganggu saja," lirihnya.
***
Pagi itu, Aliya terbangun dengan wajah sumringah, ia begitu bersemangat untuk menjelajahi pulau, namun Alex melarangnya.
Pria itu ingin bergegas kembali pulang karena Jae sudah menghubunginya memberi kabar mengenai uang tebusan. Wajah Aliya terlihat muram. Pandangannya masih tak mau berpaling memandangi Pulau Ceria yang menjauh.
Setelah meninggalkan Shiro bersama asisten rumah tangga yang bersekongkol dengan Alex, laki-laki itu pun pergi melajukan mobilnya menjauh. Sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya.
"Apa yang ingin kau beli?" tanya Alex yang sedari tadi saling terdiam satu sama lain bersama Aliya.
"Aku tak ingin apa-apa, bisa kau antar aku bertemu Ayahku?" pinta Aliya.
"Baiklah," sahut Alex.
Sesampainya Aliya dan Alex di rumah sakit tempat ayahnya dirawat, ia menemukan sesuatu yang tak dia harapkan sebelumnya. Kondisi ayahnya tengah kritis.
"Apa yang terjadi?" bisik Alex pada Suster Amanda, orang bayarannya.
"Aku tak tahu, waktu aku tinggal tadi tubuhnya stabil bahkan ia sudah sadar, dan kondisinya baik-baik saja, lalu saat aku kembali tubuhnya sedang kejang-kejang, dan kritis," sahut Amanda.
"Kenapa sampai kau tinggal?" geram Alex seraya berbisik.
"Maafkan aku, Lex."
__ADS_1
Suster Amanda menundukkan kepalanya, ia takut melihat tatapan mata Alex yang tajam.
"Ayah... bertahanlah Aliya mohon..." ucap Aliya.
Tuan Sahid menyentuh pipi Aliya seraya tersenyum.
"Maafkan A-ayahmu yang... be-reng-sek ini," ucap Tuan Sahid dengan nada tertahan.
"Tidak Ayah tidak brengsek hanya menyebalkan, ku mohon Ayah harus sehat, nanti siapa yang harus kumarahi lagi," ucap Aliya dengan isak tangis yang meluap-luap memeluk ayahnya.
"I-tu, suamimu bi-sa kau mara-hi."
Tuan Sahid mencoba tertawa menunjuk Alex.
"Tapi Ayah, dia itu bukan..."
Tuan Sahid mengulurkan tangannya meminta tangan Alex untuk ia genggam. Alex menuruti pria itu.
"Ber-jan-jilah, kau a-kan menjaga, pu-tri ku..."
Alex menganggukkan kepalanya, " Aku berjanji."
Napas Tuan Sahid terhenti kemudian seiring dengan genggaman tangannya yang terlepas dari Alex.
"AYAAAAH...!!!" Aliya berteriak seraya menangis sejadi-jadinya memeluk ayahnya.
Alex memerintahkan suster Amanda untuk memanggil dokter. Ia juga bergegas menuju ruang penjaga keamanan untuk melihat rekaman cctv rumah sakit. Baginya kematian ayah Aliya terasa mencurigakan.
Benar saja saat melihat rekaman cctv rumah sakit tersebut secara paksa, Alex melihat sosok misterius yang diduga seorang pria memakai topi, masker dan kacamata hitam sehingga tak bisa dikenali masuk ke ruang perawatan Tuan Sahid. Lalu sosok misterius yang mengenakan jaket hitam bergambar elang di punggung itu lalu pergi.
Suster Amanda yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan itu lalu ke luar dari ruangan dengan panik memanggil seorang dokter mengenai keadaan Tuan Sahid yang kejang-kejang.
"Aku harus mencari tau siapa orang itu," gumam Alex.
*******
To be continue...
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
Vie Love You All...
__ADS_1