Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 41 - Alex Kembali Bertemu Aliya


__ADS_3

Author : Hahaha... long time no see...


Kalau lupa alur baca dari awal aja ya, soalnya aku juga lupa wkwkwk...


Reader : Dih, author kaga jelas!


Author : Pokoknya Alina and Alex is back!


Happy Reading...


******


Amir yang sudah dipercaya bertemu dengan Tuan Abraham itu sebenarnya sudah berhasil meraih pistol dari salah satu penjaga secara diam-diam tadi. Pergerakan tangan yang cepat tak disadari oleh si penjaga.


Pria itu menarik lengan Tuan Abraham untuk kembali masuk ke kamar tempat Alex disekap. Ia todongkan pistol ke arah pria berusia 50 tahun itu. Alex tak menduga kalau Amir bisa juga melakukan hal seperti itu.


"Sedang apa kau malah menatapku seperti itu? Cepat ikat dia!" seru Amir.


Alex baru sadar dengan yang seharusnya ia lakukan. Ia segera meraih kabel lampu tidur di atas meja samping ranjang lalu menjadikannya tali untuk mengikat tangan Tuan Abraham.


Alex juga meraih alas tidur. Ia membungkus tubuh Tuan Abraham dengan seprei tersebut dan menggulungnya.


"Awas kalian, akan ku balas apa yang telah kalian lakukan padaku!" ancam Tuan Abraham.


"Ayo lekas pergi!" ajak Amir.


Pria itu bersama Alex menuju gerbang depan mengelabui para penjaga. Amir memberi alasan kalau ia diperintahkan untuk membawa Alex ke penjara. Para penjaga itu dengan bodohnya percaya dengan alasan yang ia berikan.


Alex bergegas masuk ke dalam mobil yang Amir kendarai. Keduanya bergegas menuju rumah sakit tempat Aliya dirawat.


Sesampainya mereka di rumah sakit itu, sang polisi itu menahan lengan Alex Yang terlihat terburu-buru hendak turun dari mobil.


"Kau tidak berterima kasih kepadaku, bayarannya mahal, lho?"


"Ambil semua uang yang ada di mobilku, aku yakin kau pasti tau di mana mobilku berada," ucap Alex.


"Terima kasih, Alex, susah sekali kau ucapkan itu kepadaku," ucap Amir masih menahan Alex.

__ADS_1


"Hah, baiklah, terima kasih Pak Polisi, aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu ini," ucap Alex.


Pria itu bergegas menuju ke dalam rumah sakit.


"Dasar tak sabaran, memangnya dia tau Alina dirawat di ruang apa," gumam Amir.


Alex kembali lagi menghampiri Amir.


"Di ruang apa Aliya dirawat?"


Amir langsung tertawa, lalu memberitahukan ruangan tempat Alina dirawat. Tanpa menunggu polisi itu turun dari mobil, Alex langsung bergegas dengan berlari menuju ruangan sang istri yang sangat ia rindukan itu.


"Aliya!"


Kedua mata pria itu terbelalak kala melihat sosok Marie sudah berdiri dan mengancam Aliya. Sebilah pisau di tangan wanita itu terarah ke leher mulus wanita yang sangat ia cintai itu.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan dia!" seru Alex.


Amir yang baru saja sampai juga ikut terkejut melihat keberadaan Marie yang datang mengancam Aliya.


"Hah, kalian pikir aku terlalu bodoh setelah aku tau Amir datang ke rumah dan mengancam ayahku? Aku langsung melacak keberadaan Aliya dan tiba lebih cepat dari kalian, pintar kan aku?"


Suara Aliya tertahan karena ujung pisau itu sudah melukai leher kuning langsat miliknya. Terlihat sedikit darah mulai ke luar.


"A, a, jangan ucapkan sepatah katapun atau ujung pisau ini akan makin menancap di kulit mulusmu ini," ancam Marie.


Alex mulai melangkah perlahan mendekati Marie. Ia berusaha untuk mengajak wanita itu berbicara sehingga perhatiannya beralih padanya. Ia harus berusaha membuat wanita itu lengah.


Ujung telunjuk jari kiri Alex memberi kode pada Amir. Ia ingin pria itu mengerti tentang sesuatu yang ia pikirkan. Jika Marie sudah lengah, polisi itu harus bergegas meraih wanita itu dan menjatuhkannya.


Usaha Alex berhasil, Marie langsung ditarik oleh Amir. Wanita itu berhasil dilumpuhkan. Aliya yang mendapat kesempatan langsung meraih pisau dari tangan wanita itu.


"Aliya, lepaskan! Kau tidak pantas berlaku seperti dia," pinta Alex kala melihat Aliya mengarahkan pisau ke arah Marie.


"Dia ini sudah sangat keterlaluan," ucap Aliya.


Ia goreskan ujung pisau itu mengenai leher Marie sedikit. Ia sangat ingin membalas.

__ADS_1


"Ups... Aku bahkan bisa merobek pipi mulusmu dengan ini," ucap Aliya.


"Kalian cepat pergi! Bawa Aliya, Alex!" tegas Amir.


"Tapi, kata dokter aku belum boleh pulang," sahut Aliya dengan polosnya.


"Aliya istriku yang paling cantik dan paling pintar, uhm... sepertinya, kita harus pergi, Sayang... Tuan Abraham pasti tak akan tinggal diam setelah yang kulakukan padanya tadi," ucap Alex.


"Terus, kita kabur gitu?" tanya Aliya lagi.


Alex segera melepas selang infus di tangan wanitanya.


"Kau bisa bertahan, kan?" tanya Alex.


"Kau napasku, kau darahku, kau kehidupanku kini, aku akan selalu bertahan jika ada kamu di sampingku," ucap Aliya yang baru saja berteriak karena selang infus yang ditarik paksa barusan.


"Iyuh... perkataan menjijikkan apa itu yang aku dengar," sahut Amir menghina kemesraan Alex dan Aliya.


"Ah, aku lupa ada Amir, ku doakan kau lekas punya pasangan, atau kalian coba saja menjalin hubungan," ucap Aliya seraya menunjuk Marie yang kedua tangannya masih Amir tahan ke belakang.


"Awas kau Aliya! Aku akan mengejarmu sampai ke neraka sekalipun!" teriak Marie.


"Kau saja yang ke neraka, aku sih maunya ke surga sama Alex, wlek!" gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek Marie.


Amir melempar kunci mobilnya pada Alex.


"Cepat pergi, aku makin muak melihat kalian!" ucap Amir seraya tersenyum.


"Terima kasih."


Alex membalas senyuman Amir lalu menarik lengan istrinya itu pergi.


Alex langsung membawa Aliya ke luar. Mereka menuju ruang janitor rumah sakit. Pria itu mencari seragam karyawan yang biasa dikenakan untuk istrinya pakai. Ia ingin sang istri berganti pakaian dan bisa ke luar dari rumah sakit itu dengan mudah.


Mereka berusaha menghindari cctv saat mengendap-endap ke ruang janitor. Sampai akhirnya mereka berhasil bebas menuju mobil Amir dan pergi dari wilayah itu. Alex menuju Panti Asuhan Tuan Edie. Ada yang ia sembunyikan di sana dan harus ia ambil.


******

__ADS_1


Masih bersambung ya, author masih mikirin ending yang pas buat Babang Alex dan Neng Aliya. Makasih lho yang udah mau nunggu dan masih setia baca Diculik Cinta.


Love you full lah...


__ADS_2