Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 37 - Kamar Pengantin


__ADS_3

Alex melajukan mobilnya menuju apartemen. Gadis yang duduk di kursi samping kemudi dan sudah menjadi istri sahnya itu terlelap karena letih.


Sesampainya di parkiran apartemen, pria itu melihat ke arah jendela kamar apartemen miliknya. Lampu penerangannya menyala. Terlihat bayangan beberapa orang berlalu lalang di tirai kamar Alex.


"Hmmm Nona Marie sudah sampai sini sepertinya," gumam Alex.


Ia banting setir melajukan mobil yang dikendarainya itu menuju hotel. Apartemen itu tak lagi aman baginya setelah ia menantang Nona Marie dan berurusan dengan pihak kepolisian yang digawangi Amir.


Keletihan mulai melanda pria itu, dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di sebuah hotel bernama Two Season. Aliya masih saja tertidur dan tak mau terbangun sampai Alex kehilangan kesabaran. Pria itu akhirnya membopong tubuh Aliya menuju ke dalam hotel.


"Selamat datang... Apa Nona itu baik-baik saja?" tanya petugas hotel tersebut.


"Ya, dia baik-baik saja, dia terlalu letih hari ini, tolong satu kamar untuk kami, ada?" pinta Alex.


"Apa kalian sudah menikah?" tanya petugas tersebut.


"Tentu saja, kami baru menikah," sahut Alex.


"Wah kebetulan, ada kamar pengantin yang sudah kami siapkan tapi sayangnya pengantin tersebut gagal menikah karena sang suami kabur dengan perempuan lain, kasian lho mempelai perempuan sampai stres, dan si pria kabur dengan seorang model lalu—"


"Stop! Tidakkah Anda lihat saya sudah lelah, hentikan ocehan Anda, lekas bawa saya ke kamar itu!" tegas Alex.


"Maafkan saya, Erik... tolong antarkan tamu ini ke kamar pengantin yang tadi," ucap petugas hotel tersebut pada seorang belboy.


"Baik, ikuti saya Tuan, kemarikan tas ransel Anda," pinta Erik.


Alex menyerahkan tas ransel di punggungnya lalu mengikuti pria itu masuk ke dalam lift.


Belboy itu melirik ke arah Alex.


"Apa mau aku bantu, Tuan, kau terlihat letih?" tanya Erik.


Alex tak menjawab, ia hanya memberi tatapan tajam pada pria di sampingnya itu.


Erik menundukkan kepalanya lalu setelah pintu lift terbuka ia segera membawa Alex menuju kamar hotel honeymoon suite yang sudah disiapkan untuk pengantin baru.


Saat pintu itu terbuka terlihat ribuan kelopak bunga mawar yang membentuk tanda hati di atas ranjang warna merah muda itu. Tanpa basa-basi lagi, Alex langsung membanting tubuh Aliya ke atas ranjang sampai gadis itu berteriak.


"Ouch! Sakit...!" pekik Aliya.


"Berikan tas ransel itu, dan ini tips untukmu," ucap Alex seraya memberikan selembar uang kertas pada Erik.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan, dan selamat menikmati malam pertama Anda," ucap Erik menggoda Alex.


"Kami sudah lakukan tadi, sana cepat pergi!"


Alex tertawa dengan bangga.


"Hei, pria belboy tadi bilang apa?" tanya Aliya yang tersadar seraya memegangi kepalanya yang masih membuatnya pusing.


Rasa mual menyerangnya dan langsung membawa langkahnya menuju ke kamar mandi. Setelah selesai muntah di wastafel, gadis itu menoleh ke bath tub yang penuh dengan bunga mawar. Aroma harum yang menenangkan tercium dan membuatnya sangat nyaman.


"Duh, mau pipis lagi," gumam Aliya yang langsung duduk di atas kloset.


"Kok ada darah ya di celanaku, apa aku datang bulan, duh gawat nih, mana perih lagi," keluh Aliya.


Tapi ia lalu tersadar tak ada lagi darah mengalir seperti halnya datang bulan. Gadis itu lalu mencuci tangannya. Setelah semuanya selesai, Aliya ke luar dari kamar mandi. Ia melihat sekeliling ruangan yang penuh dengan lilin dan bunga mawar yang menambah suasana dalam kamar terasa romantis.


"Alex bangun!" Aliya mengguncang tubuh pria yang sudah terbaring di ranjang itu.


"Hmmm...."


"Ini kita di mana?"


"Hotel."


"Hmmm...."


"Alex, bangun jelaskan kepadaku," rengek Aliya.


"Di dalam tas ransel, lihat ada amplop coklat kamu baca baik-baik," tunjuk Alex ke arah tas ransel miliknya.


Aliya bergegas meraih tas ransel tersebut lalu mencari amplop coklat yang Alex katakan. Matanya langsung terbelalak seolah mau lepas dari sarangnya.


"Alex, kita menikah?" pekik Aliya.


"Hmmm...."


"Kenapa secepat ini dan aku tak sadar, kenapa?"


"Kau sangat liar karena pengaruh obat perangsang yang Amir berikan, lalu—"


"Tunggu, kamu bilang Amir kasih aku obat perangsang?"

__ADS_1


Alex mengubah posisinya menjadi duduk bersila menghadap Aliya.


"Iya, pria brengsek itu mencoba memperkosa kamu, lalu aku berhasil membawamu ke luar. Tapi, kelakuan kamu makin liar dan itu buat aku gila dan tak tahan, ya udah aku bawa aja kamu ke KUA jadi saat kita melakukannya kita sudah sah."


"APA? MELAKUKAN APA?"


"Itu... malam pertama di dalam mobil," lirih Alex dengan kepala tertunduk.


"Astaga, Alex!"


"Kalau kamu mau minta cerai dari aku gak akan aku kabulkan, kamu milik aku sekarang!" ucap Alex tegas dan langsung berbaring kembali memunggungi Aliya.


Aliya mengguncang tubuh Alex agar berbalik kepadanya, lalu gadis itu memeluk tubuh pria itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Alex yang bidang.


"Jadi, apa kau keberatan menikah denganku?" tanya Alex.


"Tidak, aku tak keberatan malah aku bahagia bisa menikah dengan seorang Alex. Kini aku mengerti tentang darah tadi dan rasa perih itu," ucap Aliya.


"Maksudmu dengan darah?"


"Sudah, sudah, tidur aja yuk, capek banget kan pastinya, oh iya... berhubung aku lupa bagaimana rasanya, besok pagi boleh ya aku mau..."


"Tak usah menunggu pagi, sekarang saja!" sahut Alex.


******


To be continue...


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Anta's Diary

__ADS_1


Vie Love You All...


__ADS_2