
Tunggu! apa aku tak salah dengar? gadis ini akan menikah dengan adikku?" Selena angkat bicara memotong pembicaraan Tuan Sahid dan Aliya.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Amir.
"Hei, Alex! bukankah kau sudah menikah dengan gadis ini?"
Selena berkacak pinggang dengan tatapan tajam menatap Alex.
Sontak saja ucapan Selena membuat Amir dan Tuan Sahid langsung terkejut dan terbelalak. Pandangan mereka tertuju pada Aliya dan Alex kini, menunggu jawaban.
"Benarkah itu anakku?" tanya Tuan Sahid perlahan-lahan menghampiri Aliya.
Duh bagaimana ini, kenapa harus ada nenek sihir Selena sih di sini?
Aliya menatap Alex.
"Aliya? benarkah kau menikah dengan pria ini?" Amir ikut bertanya dan menunggu sebuah jawaban yang sama dengan pertanyaan Tuan Sahid.
"Umm... aku, aku, duh bagaimana ya menjelaskannya, iya aku sudah menikah dengannya," ucap Aliya.
"Tapi..." Alex menatap ke arah Aliya, ia pikir gadis ini akan bercerita sejujurnya, tapi malah gadis ini meneruskan kebohongannya.
Amir merasa bagai petir di siang bolong yang menyambarnya dan langsung membuatnya lemas seketika. Ia taruh bokongnya di sofa dan menatap Aliya tak percaya. Gadis yang selama ini menjadi motivasinya untuk mempunyai tubuh atletis dan pekerjaan polisi ini, ternyata telah menikah dengan orang lain.
"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Tuan Sahid.
"Seminggu yang lalu," ucap Aliya dan Alex bersamaan. Mereka juga tak menyangka akan mengucapkan kata-kata itu bersamaan. Yang mereka ingat seminggu yang lalu itu adalah perjumpaan mereka saat terjadi perampokan bank.
"Apa? jadi kau kabur dari rumah hanya untuk menikah dengan pria ini?" Tuan Sahid menunjuk Alex.
Aliya menjawab pertanyaan ayahnya dengan anggukan.
Tiba-tiba Tuan Sahid merasa sakit yang menjalar di dadanya lalu jatuh perlahan jatuh tak sadarkan diri. Ia terkena serangan jantung saat itu juga.
__ADS_1
Kepanikan melanda wajah Aliya yang langsung memohon pada Amir untuk segera memanggil mobil ambulance.
Tuan Sahid di larikan segera menuju rumah sakit kota saat mobil ambulance itu tiba.
"Kenapa kau harus mengiyakan pertanyaan ayahmu, sih?" tanya Alex dengan nada kesal saat mengantar Aliya menuju rumah sakit menyusul ayahnya dari belakang mobil ambulance.
"Ya, habisnya sudah terlanjur Selena mengatakannya, lagipula aku tak mau menikah dengan Amir," sahut Aliya.
"Bukankah polisi itu terlihat sempurna?"
"Tapi dia sahabatku, dan aku tak bisa menikah dengan orang yang sudah ku anggap sebagai kakak, entahlah terdengar menjijikan rasanya jika aku menikah dengan Amir," ucap Aliya.
Alex melirik wajah Aliya dari kaca spion, entah perasaan apa yang hinggap di hatinya. Saat Aliya mengucapkan tidak mau menikah dengan Amir. Tiba-tiba senyum tipis itu muncul begitu saja di sudut bibirnya sambil fokus menyetir.
***
Keduanya tiba di rumah sakit dan langsung menunggu di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat. Tuan Sahid sudah berada di dalam ruangan tersebut dan mendapat perawatan.
Amir datang menyusul bersama Selena menghampiri Aliya dan Alex.
"Saya anaknya," ucap Aliya.
"Tolong segera urus biaya administrasi rumah sakit ini, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan untuk tindakan medis lebih lanjut," ucap suster tersebut seraya memberikan secarik kertas pendaftaran pasien pada Aliya.
Aliya memandangi kertas tersebut, lalu menatap ke arah Alex.
"Aliya, kau mau pakai uangku?" Amir menawarkan bantuan.
"Ummm... bagaimana ya..."
Alex langsung menarik lengan Aliya dan membawanya menuju meja administrasi.
"Kau mau apa?" tanya Aliya.
__ADS_1
"Tunggu di sini! aku ambil uang dulu untuk pembayaran ayahmu," ucap Alex lalu menuju mobilnya.
Alex selalu membawa beberapa simpanan uang di bawah jok mobilnya. Ia selalu menggunakan uang tersebut untuk membantu para lansia maupun anak-anak yang kesulitan biaya pengobatan kala ia bertemu dengan salah satu dari mereka.
Tak lama kemudian, Alex kembali dengan membawa seratus lembar uang kertas dengan nominal tertinggi di tangannya. Gepokan uang kertas itu ia letakkan di atas meja bagian administrasi. Aliya menatap tak percaya ke arah monster tampan di sampingnya ini.
Setelah berhasil mengurus biaya administrasi Aliya menunggui Tuan Sahid di kamar perawatannya bersama Alex. Sementara Amir dan Selena sudah kembali pulang.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Aliya.
"Jangan besar kepala dulu, nanti kucatat kok uang yang ku keluarkan untukmu, agar kau bisa menggantinya segera," jawab Alex.
"Hah... Ternyata kau benar-benar tak tulus, ku pikir kau tulus membantuku. Ah mana aku sempat berpikir kau menyukaiku lagi," ucap Aliya spontan dan menutup wajahnya dengan bantal sofa dalam ruangan itu.
Alex langsung tertawa mendengar kepolosan gadis ini. Pria ini menoleh ke arah Aliya dan memandangnya sekilas. Wajah di balik bantal sofa itu mampu membuatnya tersenyum lagi.
Apakah aku jatuh cinta pada gadis idiot ini, ya?
"Heh! kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Aliya yang mengintip dari balik bantal sofa. Ia baru saja menangkap basah Alex yang memandangnya sambil tersenyum-senyum.
"Ah tidak, aku hanya sedang menertawai kebodohanmu," jawab Alex berbohong.
******
To be continue...
See you next chapter.
Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang lima.
Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...
Thank you sayang-sayangnya Vie...
__ADS_1
Love you all 😘😘😘