
Menuju episode akhir ya, mohon maaf aku harus tamatkan cerita ini. 😊🥰
Sementara itu Aliya sudah berada di rumah sakit dan mendapat perawatan untuk luka tembak di dekat tulang belikatnya. Untungnya Nona Marie bukan penembak jitu sehingga tidak mengenai bagian jantung atau paru-paru Aliya. Seorang pria terbaring di samping tangannya.
Aliya membuka kedua matanya dan dia melihat sosok Amir berbaring di samping ranjangnya. Pria itu memegang erat tangan kanan Aliya. Wanita itu berusaha untuk melepas tangan pria itu namun gerakan tangannya terasa sampai membangunkan Amir.
"Aliya, kamu udah sadar?" tanya Amir.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Aliya mencoba untuk duduk tapi tubuhnya masih terasa sakit.
"Aliya tenang, aku gak akan berbuat jahat sama kamu," ucap Amir menahan Aliya.
"Aku tak percaya, kamu pasti bohong! Aku tuh kecewa sama kamu, sahabat yang aku percaya tega berbuat tercela sama aku," gerutu Aliya.
"Maaf, Liya, aku khilaf, aku gak akan ulangi perbuatan aku yang kemarin, aku sadar aku salah dan tak bisa memilikimu lagi," ucap Amir.
"Astaga, Alex, aku baru ingat dia diculik sama si biskuit bayi," ucap Aliya.
"Biskuit bayi?"
"Iya, si biskuit Marie itu," sahut Aliya.
"Apaan sih kamu garing banget, udah kamu tenang aja di sini, yang penting kamu sehat dulu," ucap Amir.
"Kamu mau aku percaya dan temenan sama kamu lagi, gak?" tanya Aliya.
"Iyalah, aku mau kita sahabatan kayak dulu lagi," ucap Amir.
"Oke, kamu mau melakukan apapun untuk menebus kesalahan kamu, kan?" Aliya melirik ke arah Amir.
"Oke, aku akan lakukan apapun untukmu," sahut Amir.
Aliya menatap wajah Amir yang tampak serius itu dia akhirnya mulai mempercayai sahabatnya itu. Lalu kemudian, Aliya menyusun strategi bersama Amir untuk membebaskan Alex dari rumah besar Tuan Abraham.
***
__ADS_1
Tuan Abraham masuk ke kamar Alex yang sedang berganti pakaian itu lalu ia terkejut saat melihat tanda hitam yang ada di punggung belakang milik Alex ia teringat akan sesuatu saat melihat tanda hitam tersebut.
"Apa itu tanda lahir yang kau punya sejak lahir?" tanya Tuan Abraham.
Alex mengiyakan.
"Apakah tahu di mana kedua orang tuamu dan di mana kau lahir?" tanya Tuan Abraham.
"Aku tak tahu," jawab Alex.
***
Ingatan Tuan Abraham menuju ke tiga puluh tahun yang lalu. Ia mengingat seorang bayi laki-laki yang dilahirkan oleh wanita selingkuhan yang bernama Maria sang sekretaris. Namun, saat hubungan itu ketauan oleh ibunya Marie, sekretarisnya itu diusir.
Nyonya Abraham mengirimkan seorang pembunuh bayaran bernama Edie. Dia menculik Maria dan membawanya ke sebuah bukit dekat jurang dia harus membunuh Maria di sana. Tapi, Edie lebih memilih setia mengikuti Tuan Abraham.
Ia menyerahkan Maria yang sedang hamil itu pada Tuan Abraham. Maria melahirkan seorang anak laki-laki. Anak yang sangat diinginkan oleh Tuan Abraham untuk meneruskan tahta di dunia gangster tersebut. Anak laki-laki itu memiliki tanda hitam di punggungnya sama seperti yang dimiliki Alex.
Akan tetapi, Nyonya Abraham mencium keberadaan Maria yang sebenarnya disembunyikan oleh suaminya di sebuah rumah dekat bukit. Saat Tuan Abraham pergi ke luar negeri, istrinya melacak keberadaan Maria dan menghampirinya. Edie yang sedang menjaga keberadaan Maria dan anaknya tau kalau Nyonya Abraham akan datang ke rumah itu.
***
Tuan Abraham menghampiri Alex dan menyentuh kedua pipi pria itu.
"Kedua matamu persis seperti kedua mata milik Maria," ucapnya lirih.
"Aku tak mengerti apa yang kau katakan," sahut Alex.
"Permisi, Tuan, ada seorang polisi mencari Tuan dan Nona Marie," ucap pelayan tersebut.
"Berani sekali polisi itu mencariku, aku akan segera menemuinya," ucap Tuan Abraham.
Pria besar itu melangkah menuju ruang tamu, Alex mengikutinya. Saat itu Nona Marie sedang berada di kantor milik Aliya. Betapa terkejutnya Alex kala melihat Amir sedang berdiri di ruang tamu menunggu Tuan Abraham.
"Oh, rupanya Anda yang datang ke mari, tapi sayangnya, anakku Marie sedang berada di kantornya," ucap Tuan Abraham.
__ADS_1
"Saya ingin menemui Tuan, bukan Nona Marie, ada informasi yang ingin saya sampaikan pada Tuan, dan ini penting, demi keselamatan dan perlindungan terhadap kelompok gangster Abraham," ucap Amir.
"Mari, ikut aku, kita ke ruanganku!" ajak Tuan Abraham mempersilahkan Amir untuk ikut.
Sebelum Amir mengikuti Tuan Abraham ia mendekati Alex.
"Dasar penghianat negara," ucap Alex.
"Simpan caci maki untukku nanti, Aliya menunggu di taman belakang, lekas ke sana!" bisik Amir.
"Aliya masih hidup?" Wajah Alex berbinar bahagia.
"Simpan juga ucapan terima kasih mu padaku nanti," ucap Amir seraya mengedipkan kelopak mata kirinya.
*****
To be continue....
Follow IG ku @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Anta's Diary
Vie Love You All...
__ADS_1