DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (PANGRANGO)


__ADS_3

"Loh jadi Alana ini?" tunjuk Pian.


"Ouh jadi ini yang mau lu ajak nikah?" seru Genta lalu menoyor kepala Pian. Enak saja, ini punya Genta tidak boleh di ambil siapapun!


"Ya, kalo sama yang kayak gini sih gua juga mau dijodohin!"


"Telat lu, keduluan gua!" Genta dan yang lain meninggalkan Pian yang tengah terdiam bersama pikirannya.


'Yah elah gagal lagi.'


Saat ini Alana, Alan, Genta, Dita, Pian dan 2 temannya yang lain sedang berdiri membuat sebuah lingkaran.


"Alana kenalin ini Clara." Pian menyenggol bahu seseorang disampingnya.


"Eh kenalin gua Clara." Clara menjulurkan tangannya bersalaman dengan Alana, Dita dan Alan. Clara sudah mengenal Genta, dan Genta juga sudah mengenal Clara.


"Nah kalo ini namanya Davin." Pian mengenalkan lagi temannya yang berdiri disamping Clara.


"Haii." sapa Alana karna mendapatkan tatapan tajam dari Genta.


'Ini si Bapak kenapa sih, ngeliriknya biasa aja dong!'


Setelah acara kenal kenalan itu mereka melakukan evaluasi dan mengusun formasi. Dita akan memimpin jalan bersama Pian didepan. Alan berjalan dibelakang Dita dan Alana berjalan di belakang Alan. Genta Berada di belakang Alana karna bertugas menjaga Alana, Genta dan Alan akan sering bertukar posisi tergantung medan yang akan dilalui.


Clara dan Davin akan berada di posisi belakang. Clara dibelakang Genta dan Davin dibelakang Clara.


"Alana, ingat ini Gunung! Hilangkan pikiran pikiran negatifmu itu!" seru Genta pada Alana.


Alana hanya menganguk angguk.


"Jangan ada yang berpencar! semua sesuai posisi. Kalo ada yang cape bilang nanti kita istirahat!" Pian berseru.


"Alana jangan banyak omong ya, jangan bercanda." Alan khawatir dengan kembarannya ini. Secara imajinasi dan mulut Alana adalah sesuatu yang paling sulit untuk diatur.


Alana berpura pura menresletingkan mulutnya lalu menguncinya. Dan berpura pura menaruh kunci itu dilengan Alan. Alana memberikan tanda Ok! Sambil mengedipkan sebelah matanya. Lucu.


Alan mengusap rambut Alana sayang.


Sebelum mereka berangkat mendaki, mereka memanjatkan doa terlebih dahulu agar senantiasa sampai pada puncak dengan selamat dan dapat turun lagi dengan selamat. Sehingga dapat berkumpul lagi dengan keluarga dirumah.


"Alana!" seru Genta pelan.


"Iya, Pak?"


"Saya tau, Umur kita tidak terpaut terlalu jauh. Hanya saja kamu yang masih ingin menikmati masa mudamu dan saya yang terlalu memikirkan masa depan, dipaksa bersatu langsung dalam jenjang pernikahan itu memang sulit. Tapi saya akan berusaha menjadi yang paling baik dari diri saya untuk kamu Alana. "


"Iya, Pak." Alana bingung ingin menjawab apa, ia malu karna semuanya menatap kearah Dia dan Genta.


Jangan tanya deh reaksi Dita. Dia sedang meremas remas lengan Alan karna gemas melihat kisah percintaan sahabatnya ini.


"So, saya tau kamu mungkin belum pernah merasakan rasanya berpacaran."


"Jadi saat ini kamu adalah pacar saya. Hari ini, sampai kita menikah." Genta mengusap surai hitam Alana lembut.


"Emm pak--"


"Tanpa penolakan Alana." Genta menautkan tangannya dengan tangan Alana.


"Ck udah deh ini udah jam 7 juga, lewat setengah jam ini." Pian yang merasa kesal karna merasa Genta sedang memanas manasinya.


Akhirnya mereka memulai pendakian ini, Alana berjalan dengan lancar karna memang sudah terbiasa berjalan kaki, Alana suka olahraga lari atau berjalan santai pada pagi hari. Mereka berjalan sambil sesekali berpegangan tangan.


"Al!" seru Genta berbisik pada Alana.


Alana menoleh kebelakang. "Iya, pak?" tanya Alana.


"Lain kali jangan menjabat tangan orang lain tanpa seizin saya!" ujar Genta.


Alana ingin protes dan membalikan badannya tapi kedua bahunya langsung dipegang oleh Genta sehingga tidak jadi berbalik.


"Jalan yang bener!"


"Idih si Bapak, tadi ngelirik saya sinis banget. Katanya disuruh sopan sama orang yang lebih tua!" seru Alana tapi tidak dibalas oleh Genta.


...---...


Pendakian Alana dan kawan kawan ini dimulai dari pintu masuk Cibodas, kini Alana dan kawan kawan sudah melewati shilter Tarentong dan sudah melakukan pendaftara di pos pendakian.


Sebenarnya seharusnya mereka melakukan pendaftaran minimal 30 hari sebelum pendakian, tapi entah lah apa yang dilakukan oleh Genta sehingga mereka bisa melakukan pendakian sekarang.


Perjalanan awal dari Tarentong menuju Telaga Biru masih didominasi oleh trek batu yang sudah disurun, Alana masih bahagia karna menurutnya ini mudah.


Alana dan Genta berjalan sambil berpegangan tangan. Tidak ada percakapan diantara mereka, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.


Sedangkan didepan. Pian, Dita dan Alan sedang mengobrol dengan gembira. Sial, Alana juga ingin ikut ngobrol. Dibelakang ada Clara dan Davin yang juga sedikit melakukan percakapan.


"Pak, udah sering kesini?" tanya Alana memulai percakapan.


Genta menjawab dengan anggukan pelan.


"Nanti kita camp dimana?" tanya Alana.


"Kita bakal camp di Kandang Badak." Genta fokus sekali dengan jalannya, beda dengan Alana yang lirik kanan dan kiri.


Alana tertawa, mo ngelucu nih si Bapak. "Saya nanya yang bener Pak," seru Alana sambil tertawa kecil, receh sekali dirinya ini.


"Saya serius, kita akan bangun tenda di Kandang Badan."


"Loh Pak, Ada Badak emangnya di Gunung kayak gini?" tanya Alana kaget.


Genta tidak menjawab pertanyaan Alana. Ia ingin membiarkan Alana dengan pikirannya, Lucu menurutnya.


"Pak beneran nih tidur di Kandang Badak?" tanya Alana lagi.


Genta menjawab dengan Anggukan. Loh Genta tidak berbohong kan? Hanya kurang penjelasan.


Tadi Mereka sudah melewati Telaga Biru dan sekarang sedang berjalan menuju Payangcangan. Setelah sampai di Pos Rawa Payangcangan, Alana dan lainnya beristirahat sebentar.


Alana dan yang lainnya meminum persediaan airnya, Alana duduk sambil menyelonjorkan kakinya.


"Cape Al?" tanya Pian.


Alana menggeleng."Belum dung, masih jauh kan?" seru Alana sambil bertanya.


"Ya ilah, Alana mah biasa bolak balik Mampang - Blok M jalan kaki, kuat kakinya." Dita yang duduk disebelah Alana berseru.


Alana diam, dia sedang menikmati kesejukan Gunung. Betapa nikmat dan cantiknya Gunung ini, Udaranya sejuk, pemandangannya sangat cantik apalagi Pak Genta begitu manis terhadap Alana, menggenggam tangannya begitu erat.


Membantunya melewati jalan jalan yang agak sulit, memeganginya ketika menanjak. Pendekatan sambil mendaki memang sungguh istimewa.


Alana bahagia sekali, sambil menghirup udara yang segar ini Alana menutup matanya sejenak. Ia sadar kesenangan ini hanya sebentar, didepan sana akan ada trek yang berkali kali lebih sulit dari ini.


Tetapi Alana sadar akan sesuatu. Bersakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Mendaki memang menyenangkan.


Setelah beristirahat sebentar di Pos Rawa Payangcangan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kandang Badak karna mereka berencana untuk mendirikan tenda disana lalu beristirahat.


Kali ini perjalanan melewati Rawa Denok 1 dan Rawa Denok 2, tangan Alana digenggam lebih erat oleh Genta karna treknya adalah jembatan yang beberapa kayunya sudah copot, Harus hati hati. Alana jalan diaspal saja bisa jatuh. Apalagi ini?


Setelah melewati Rawa Denok 1 dan Rawa Denok 2 Mereka berjalan melewati Batu kukus 1, Batu Kukus 2, Batu Kukus 3 dan Pondok Pemandangan. Mereka sampai di Pos Air Panas setelah menempuh perjalanan selama sekitar 2 jam 15 menit. Dan Beristirahat disana, Alana memakan roti yang ia bawa dari bawah.

__ADS_1


Alan, dan Dita memejamkan matanya beristirahat sebentar sedangkan Genta menemani Alana memakan sambil mendengarkan ocehan Alana tentang Badak.


"Pak saya belum pernah liat Badak loh!" seru Alana.


"Bapak udah pernah liat ya?" tanya Alana.


Genta menjawab dengan Gelengan, Alana terus bertanya dan hanya dijawab oleh Genta dengan deheman, anggukan, atau gelengan.


Alana meneruskan memakan rotinya, tadi saat diperjalanan ada beberapa regu lain yang berjalan bersama dengan regu Alana. Alana mendapatkan teman baru, entah itu lelaki ataupun perempuan. Sebenarnya Alana rasa kalo perempuan itu sepertinya karna ingin kepo terhadap Genta, secara sangat terlihat Alana dan Genta terlihat seperti sepasang kekasih.


Selesai beristirahat mereka melanjutkan perjalan melewati, Kandang Batu, Panca Weuleh, dan sampai di Kandang Badak setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih.


Perjalanan setelah beristirahat di Pos Air Panas sudah mulai susah. Alana sangat dijaga ketat oleh Genta dan Alan apalagi saat melewati tempat Air panas yang sampingnya adalah jurang. Genta dan Alan sangat dipenuhi dengan perasaan was was.


Mereka sampai di Pos Kandang Badak pukul 3 lewat 45 menit dan langsung melaksanakan sholat ashar. Genta yang menjadi imam. Ini Adalah saat yang paling Alana suka. Menjadi makmum dari seorang imam bernama Genta dan menunaikan ibadan Sholat di atas Gunung. Betapa manisnya ini!


Alana dan Clara mengalami kelelahan setelah melakukan pendakian. Tadi saat sampai di Pos Kandang Badak Alana kesal pada Genta, bisa bisanya dia dibohongin. Ternyata ini palsu, yang asli yang ada Badaknya!


Tapi hatinya luluh lagi saat melakukan sholat ashar bersama Genta.


Saat ini Alana dan Clara tertidur di atas matras. Genta membantu Dita membangun tenda untuk para wanita. Sedangkan Pian membangun tendanya untuk ditempatinya bersama Davin sedangkan Alan dan Davin membangun tenda untuk ditempati oleh Alan dan Genta.


Sekarang sudah menunjukkan pukul 5 sore hari, langit mulai mengeluarkan warna senjanya. Clara mulai kedinginan, mungkin karna kedinginan.


Clara kini sedang tertidur di dalam tenda, semoga saja besok ia sudah sembuh karna harus lanjut mendaki sampai ke Puncak Pangrango. Apalagi Genta ingin bermalam di Mandalawangi besok.


Alana dan yang lainnya sudah selesai mandi karna memang di Pos Kandang Badak ini menyediakan fasilitas seperti toilet dan mushola.


Sekarang pukul 7 lewat 45 menit Alana tadi berkenalan dengan seseorang saat mengantri ke toilet untuk mandi, dan jadilah Alana dan Dita sedang nyangkut di tenda orang lain.


Tadi Alana berkenalan dengan orang bernama Ansel dan tadi saat Alana sedang duduk mengobrol bersama Dita di dalam tendanya Ansel mengajak Alana untuk gabung bersama teman temannya yang lain, tentu saja Alana dan Dita langsung meng iya kan.


Jadilah para lelaki yang memasak. Tenang Alan sangat pandai memasak, biasa lah anak Mamah gitu.


"Ini kenalin Alana sama Dita, tadi ketemu pas ngantri toilet." Ansel duduk diatas tikar diikuti Alana dan Dita.


"Hai! Alana." Alana tersenyum pada teman teman Ansel.


Dita bersalaman dengan teman teman Ansel, tapi Alana hanya diam. Dia merasa diperhatikan oleh Genta, dan tadi Genta memberitahu kepadanya untuk jangan bersalaman dengan orang yang tidak Alana kenal.


Teman teman Ansel itu kebanyakan lelaki, mereka ber 10 dan hanya ada 2 wanita, Ansel dan Sekar.


Sekar dan 2 lelaki lainnya sedang memasak, sama seperti yang dilakukan oleh Genta, Pian dan Alan.


Salah satu teman Ansel membawa gitar yang berukuran kecil, gitar senar 6 tapi ukurannya tidak besar jadi enak dibawa jalan. Itu lah yang membuat Alana tertarik sejak tadi.


Alana ingin bernyanyi, mumpung tidak ada Papah dan kak Bara.


"Eh ayo dong mainin gitarnya." Alana melihat gitar itu dengan berbinar.


"Lu nyanyi ya." Panggil saja orang itu dengan sebutan Rey.


"Ck, sini gua aja dah yang main gitarnya." Dita langsung meraih gitar itu dan memangkunya.


"Udah gua aja, gua yang bawa juga!" seru Rey.


"Ini anak udah punya pawang, lu mau digorok?" seru Dita sambil melirik Genta yang sedang melirik Rey sinis, Rey meringis karna ditatap seperti itu oleh Genta.


Yah gagal lagi kan.


"Udah lah sini, lu pada gua nina boboin biar mimpi indah," seru Alana sambil meraih gitar di tangan Dita.


Alana mencoba memetik gitar.


Kunci C, G, F, Dm balik lagi ke C lalu Em.


"Lagu apa ya?" tanya Alana.


Alana mulai memetik gitarnya, petikannya enak dan pas.


Matahari masih bersembunyi~~


di beranda~~


Kuangkat tubuh seorang diri~~ walau sarat akan motivasi~~


Beberapa orang mulai memperhatikan Alana karna memang sedang sunyi, semuanya sibuk. Ada yang memasak, mengurus orang sakit. Dan sekedar bersih bersih atau merapihkan tas.


Ku seret paksa kaki mungilku memasuki hutan belantara~~


Semakin jauh semakin banyak hal yang jauh dari ekspektasi~~


Dita sekarang ikut bernyanyi bersama Alana, karna ini lagu mereka berdua.


Tekanan datang tanpa aba-aba, ku berlari tanpa ancang-ancang ~~


Kali ini Alana diam dan membiarkan Dita yang bernyanyi, karna ia fokus mengingat kunci gitarnya.


Tersandung oleh buah yang mengering, dan tak jarang tersandung kaki sendiri~~


Kali ini Alana mulai ikut bernyanyi lagi.


Tangan mu tak 'kan menopang apa yang meremukkan tulang mu~~


Punggung mu tak 'kan memikul beban yang melumpuhkan tubuh mu~~~


Berbaurlah... dengan semesta ~~


Pusaran ombak 'kan kau taklukkan~~~


Alana berhenti bernyanyi lagi membiarkan Dita yang bernyanyi dengan lantang sambil badannya bergeser kekanan dan kekiri. Ansel dan beberapa orang juga ikut bernyanyi bersama Alana.


Bertarung tanpa bertumpu kaki, jatuh tersungkur beribu kali~~


Mulut dan waktu sama dirantai, cari celah tuk lepaskan diri~~


Satu per satu t'lah ku temui, pejuang lain di hutan ini~~


Aku berhasil lepaskan diri, tak 'kan terjadi tanpa yang lain~~


Kini Alana ikut bernyanyi lagi, sungguh hatinya senang sekali. Bahkan tak terasa rasa dingin yang tadi rasanya seperti menusuk nusuk.


Perlahan-lahan ku tata rapih yang semula acak dan bercela~~~


Sekarang tak selemah dulu lagi, mampu bertahan walau angin tak kunjung reda~~


Tangan mu tak 'kan menopang apa yang~~ meremukkan tulang mu~~


Punggung mu tak 'kan memikul beban yang melumpuhkan tubuh mu~~


Berbaurlah dengan semesta~~~


Pusaran ombak 'kan kau taklukkan~~


Tanpa sadar Genta sudah memperhatikan Alana sedari tadi tanpa henti. Menurutnya Alana adalah orang yang pandai bila ia ingin melakukannya.


Genta juga tersenyum dan ikut bernyanyi sedikit, Alan yang melihatnya pun langsung tertawa dan menggoda Genta.


Memang tak sempurna

__ADS_1


Penuh luka jiwa~~


Menelan realita


Memang tak sempurna


Penuh luka jiwa~~


Namun tetap berharga


Memang tak sempurna


Penuh luka jiwa~~


Menelan realita


Memang tak sempurna


Penuh luka jiwa~~


Namun tetap berharga


Berbaularlah dengan semesta


Pusaran ombak kan kau taklukkan~~~


(Tercapai; Menuju : Ivana Tarigan / Phoebe Sidarta)


...-----...


Tadi setelah acara nyanyi nyanyi bersama Genta menjemput Alana di tenda sebelah, Alana dan Dita tadinya diajak makan di sana tapi Alana menolak. Ia ingin makan masakan Alan dan Genta.


Jadilah sekarang Alana sedang duduk di atas karpet di depan tendanya. Ada Clara juga yang sedang meminum coklat panas dibantu oleh Alan.


"Eh Dit ga cemburu lu?" tanya Alana sambil menyenggol lengan Dita.


"Hah?" Dita yang ditanya seperti itupun bingung.


"Nohh! " seru Alana, arah pandangnya melihat kearah Clara yang dibantu minum oleh Alan.


"Ck, apaan sih lebay banget gitu aja ga bisa. Kalo tau mau sakit mah dirumah aja kali." seru Dita sengit, Alana pastikan Clara dapat mendengarnya.


"Lah lu kenapa? Tiba tiba sewet amat." seru Clara.


"Au dah." Dita memutar kedua bola matanya jengah.


"Eh udah udah, nih lu mending makan. Gua tau lu panas, dinginkan dengan yang adem adem." seru Alana sambil mengibas ngibas Dita dengan tangannya.


Dita melihat tangan Alana tidak dibalut dengan sarung tangan pun kaget. "Loh Al, sarung tangan lu mana?" tanya Dita sambil memegang tangan Alana.


Alan dan Genta pun langsung melihat tangan Alana yang tidak tertutupi oleh sarung tangan.


"Ga dingin kok." seru Alana ngeyel.


"Apaan sih Al. Ini dingin lu lagi seneng makanya lu ga ngerasain, tapi badan lu ngerasain. Cepet ambil sarung tangan lu." Dita berbicara serius.


Tidak lama ada sepasang sarung tangan dipangkuan Alana yang dilempar oleh Genta. Itu sarung tangan miliknya yang ia lepaa untuk Alana.


" Loh Pak ga papa ga usah, "seru Alana sambil memberikan sarung tangan itu ke Alana.


" Pake Alana, lain kali kalo ga prepare yang bener ga usah ikut nanjak. " Genta berujar dengan nada yang dingin.


Akhirnya Alana memakai kedua sarung tangan itu, lalu Alana mulai memakan makanan yang tadi Alan dan Genta serta Pian masak, Davin baru saja keluar dari dalam tenda. Tadi ia bertugas merapihkan tempat tidur para lelaki.


Selesai makan, Dita lah yang mencuci piringnya. Tadi Alana mau bantu tapi kata Dita 'jangan! Nanti kalo lu bengek gua yang cape!' dan jadilah Alana mengurungkan niatnya, tapi ia tetap membantu mengelap piring piringnya.


...---...


Alana menghabiskan coklat panasnya bersama Genta.


Ia dan Genta sedang duduk diluar tenda. Sekarang sudah menunjukan pukul 8 lewat 30 menit, Alana tadi menemani Genta karna melihat Genta sendirian diluar.


Udara dingin mulai menusuk nusuk kekulit. Sangat dingin padahal Alana sudah pakai jaket hangatnya.


"Kalo dingin masuk tenda gih." Genta menatap Alana yang seperti memeluk dirinya sendiri.


"Saya temenin Bapak dulu, Dita lagi beres beres. Riweh banget ngomelin mulu!" seru Alana sambil menunjuk tendanya.


"Diluar dingin Alana." Genta membuka resleting jaketnya lalu membawa Alana kedalam dekapannya.


Alana bisa mendengar detak jantung Genta sekarang. Jangan ditanya deh detak jantung Alana kayak gimana. Lagi disko, jedag jedug.


"Kamu kuat?" seru Genta lagi.


"Dih saya mah kuat yaa." Alana tersenyum kearah Genta lalu memainkan sarung tangannya.


Genta menarik nafasnya, Alana bisa mendengar detak jantung Genta semakin cepat. "Kamu kasih sarung tangannya ke Clara?" tanya Genta.


"Kak Clara lupa Pak bawa sarung tangannya." jawab Alana.


"Terus?" tanya Genta lagi.


"Jadi saya kasih pinjem dulu bentara, niatnya sih." jawab Alana lagi.


"Terus kenapa dia pake sampe sekarang?"


"Hehehe saya ga enak pak mintanya."


"Terus kamu enak liat saya kedinginan ga pake sarung tangan?" tanya Genta, Alana langsung buru buru melepas sarung tangannya.


"Pak ini saya ga kedinginan kok!" ujar Alana mencoba melepas sarung tangannya, padahal Genta bisa dengan jelas mendengar suara Alana yang bergetar kedinginan.


Sebelum Alana sempat melepas sarung tangannya, Genta langsung memegang kedua tangan Alana, lalu melepaskannya. Setelah itu Genta menggesek gesekan lengannya lama dan menempelkannya kepipi Alana.


Enak, anget.


Alana menggeser tubuhnya agar lebih dekat, yang dia butuhkan adalah kehangatan sekarang. Dan ia mengantuk.


"Alana kamu kedinginan?! " tanya Genta khawatir.


"Dingin banget ga?!" tanya Genta lagi, dia langsung melepas jaket hangatnya lalu memakaikannya kebadan Alana.


Alana menganguk karna memang merasa sangat kedinginan.


Genta langsung menggendong Alana membawa Alana masuk kedalam tendanya, kali ini Alana tidur dengan Genta dan Alan. Tadi Genta sudah bilang pada Dita karna dia merasa malam ini akan ada **** hutan.


Dita bisa mengatasinya sendiri karna dia adalah Mapala begitu juga dengan Clara dulunya saat masih kuliah Clara adalah Mapala, tapi Genta tidak yakin Dita bisa tetap tenang bila bersama dengan Alana.


...------...


Sekarang Alana sudah berada didalam sleeping bag, tadi juga sudah dipakaikan koyo oleh Dita supaya hangat. Tenang Alana tidak papa, tadi Genta sempat takut Alana hipertensi.


Tubuh Alana sudah hangat karna menggunakan jaket dinginnya Genta sedangkan Genta memakai sweater tambahan Alan.


Genta juga sudah masuk kedalam sleeping bagnya begitu juga Alan dan yang lainnya, mereka sudah masuk kedalam mimpinya masing masing sambil berdoa semoga tidak ada **** hutan yang membajak tendanya.


...***********...


...TBC...

__ADS_1


...Haii, selamat membaca...


__ADS_2