DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (PUNCAK PANGRANGO - LEMBAH MANDALAWANGI)


__ADS_3

Pagi ini, pukul 4 dini hari. Setelah melewati malam yang dingin dan panjang Alana dan yang lainnya sedang sarapan, tadi Genta dan Alan lah yang memasak. Nasi goreng Ala GenLan.


Setelah selesai memakan makanannya mereka langsung siap siap membereskan tenda dan sampah sampah yang berserakan. Ingat! Apa yang dibawa naik, harus dibawa turun. Apa yang ada di atas, jangan dibawa turun.


Alana sudah siap dengan Carriernya yang sudah nemplok di punggungnya. Tasnya ini sudah lebih ringan dari pada pas pertama kali menanjak, karna beberapa makanan sudah dimakan.


Dita dengan mengecek persediaan minuman setiap orangnya, dan saat selesai mereka akan summit attack.


Dita berjalan didepan bersama Pian dan Clara. Clara sudah sehat tentunya.


Sedangkan dibelakang Clara ada Davin yang sesekali membantu Genta karna Carrier Genta adalah yang terberat ditambah harus membantu Alana pula.


Dibelakang Alana ada Alan yang menjaga Alana, agar bila terjatuh ada yang memegangi Alana. Sebenarnya Alananya sih biasa aja, karna ukuran tasnya yang hanya 30 liter dan tubuhnya yang mungil. Ia bisa berjalan dengan leluasa meskipun jalannya memang ada yang sempit dan sulit.


Ada banyak akar pohon dan jalanan makin terjal. Sesekali lengan Alana ditarik oleh Genta dan badannya didorong oleh Alan.


Memang sulit karna jalannya yang sudah tidak rata dan penglihatan hanya mengandalkan headlamp dikarnakan matahari belum memancarkan sinarnya.


Alana bisa melihat keringat bercucuran dan wajah Genta dan Alan.


"Pak berenti dulu ya!" seru Alana. Ia pura pura lelah, Alana pikir Genta dan Alan mungkin gengsi mau bilang cape.


Setelah beristirahat sekitar 10 menit Pian memutuskan berjalan dibelakang karna sudah mulai memfoto moment moment penting yang berharga.


Mereka melanjutkan mendaki dan sampai ke puncak Pangrango.


Mereka sampai di Puncak Pangrango tepat saat sunrise, kehangatan terasa di wajah Alana saat sinar mentari memancarkan hangatnya.


"Dita, seru banget ya bisa nanjak!" ujar Alana sambil memeluk sahabatnya Dita. Dita mengerti perasaan Alana karna memang Alana ini anak perempuan satu satunya jadi sangat terkekang oleh orang tuanya.


"Awas lu! Kalo kabur jangan ke Gunung." Dita menyentil kepala Alana.


"Ish. Terharu gitu kek, gini gini bisa kan gua sampe puncak!"


"Iya, terharu deh gua. Alhamdulillah lu kaga nyusahin soalnya." Dita melepaskan pelukan mereka.


"Eh udah ayo mulai foto fotonya, nanti keburu abis sunrisenya." Dita langsung menarik lengan Alana untuk berfoto foto.


Alana berfoto dengan Genta, posenya Alana mengaitkan lengannya ke leher Genta dan Genta memegangi panggul Alana, mereka begitu dekat sehingga Alana bisa merasakan deru napas Genta yang tidak teratur.


Sangat sulit menyuruh Alana untuk mau berfoto seperti itu dengan Genta, tenang mereka tidak ciuman. Itu hanya ulah angle kamera.


Hanya ada satu foto itu saja karna Alana tidak bisa berhenti tertawa, dan Genta juga ingin foto di Taman Mandalawangi.


Akhirnya Alana lanjut berfoto bersama Dita, di foto itu Alana dan Dita terlihat membelakangi kamera, kepala Alana tersandar di bahu Dita.


Lalu setelah berfoto bersama Dita, Alan menarik Alana untuk berfoto bersamanya. Alan menggenggam tangan Alana kuat.


"Al!" seru Alan sambil memandang wajah kembarannya itu.


"Kali ini, gua ga akan biarin lu jatuh sampe kita turun nanti Al."

__ADS_1


Alana yang diajak berbicara hanya diam, mendengarkan apa yang saudaranya itu ingin katakan.


"Minggu depan, mungkin Gua ga akan bisa bangunin lu pagi pagi lagi. Berangkat ngampus bareng, Pulang bareng. Gua mungkin udah bukan lagi orang yang Lu datengin malem malem sambil nangis kalo Papah larang larang lu. Kamar gua juga, mungkin udah bukan tempat yang lu jadiin kamar rahasia buat nyalurin naluri seni lu.... "


"Tapi, hati Gua tetap terbuka buat Lu. Lu bagian dari Gua, dan Gua bagian dari Lu." Alan memeluk Alana dengan erat.


"Lan, kemanapun Gua atau Lu pergi. Sejauh apapun kita terpisah. Lu sama Gua tetap saudara. Lu masih jadi tempat favorit Gua buat pulang setelah perjalanan panjang ditengah tengah orang yang ga bisa mengenal Gua."


"Lu masih akan selalu jadi tempat Favorit Gua buat nunjukin siapa diri Gua yang sebenarnya."


"Lucu ya. Ga kerasa banget kita udah gede aja, lu udah mau nikah lagi!" seru Alan sambil tertawa.


"Dulu, Gua inget banget. Mamah sering bohong ke Papah buat nganterin Lu ikut les menggambar, ikut komunitas dance. Abis itu lu dikurung dikamar pas Papah tau..."


"Gua ga bisa tidur pas malam dimana lu dikurung dikamar yang beda dari gua, karna itu pertama kalinya lu ga tidur lagi bareng gua."


"Itu pertama kalinya kamar kita dipisah." seru Alan.


"Dari situ Lu bisa tau kan, waktu berjalan. Ga ada yang bisa bikin waktu berhenti meskipun hanya 1 detik aja." ujar Alana sambil melepas pelukannya.


"Noh!" lirik Alana pada Dita.


"Bahagia banget Gua kalo punya Kakak Ipar sahabat sendiri." seru Alana sambil tersenyum.


...-------...


Setelah melakukan sesi foto di Puncak Pangrango, Alana dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju Taman mandalawangi.


Tadi setelah Alana bilang pada Alan bahwa Dita juga menyukai Alan. Alan menyatakan cintanya, diatas gunung setinggi 3019 Mdpl.


Kini Alana berjalan bersama Genta, sedikit berbincang juga dengan Clara. Alana bingung, adaapa dengan Clara dan Genta?


Sepertinya mereka sangat canggung.


Setelah sampai di Taman atau Lembah Mandalawangi, ada juga yang menyebutnya Lembah Kasih Mandalawangi.


Mereka langsung menyiapkan tenda tendanya. Kini Dita dibantu oleh Alana dan Clara. Alan dan Genta mendirikan tendanya. Dan Pian serta Davin juga mendirikan tendanya berdua.


Mereka sibuk mendirikan tendanya masing masing, setelah selesai Dita dan Clara langsung membereskan tas tasnya di dalam tenda.


Alana membantu Alan yang sedang menyiapkan peralatan memasak, sedangkan Genta sedang membereska tendanya.


Alan dan Alana memasak sosis bakar dan pop mie untuk makan sorenya. Tadi saat di Puncak Pangrango mereka sudah makan siang, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Alana dan Alan memutuskan membuat camilan untuk mengganjal perut.


"Ditaa!! Kak Clara! Sekuy makan!" panggil Alana.


"Yoo." sahut Dita dan Clara.


Akhirnya mereka memakan popmie hangat dengan sosis bakar yang nikmat karna udara sudah semakin dingin. Kabut akan turun.


Genta duduk disamping Alana saat Alana sedang menikmati popmienya.

__ADS_1


"Bapak mau? Nanti saya bikinin," tanya Alana.


Genta menyelonjorkan kakinya. "Tidak usah, Alana."


"Ya ilah Pak, ga usah nolak!" Alana malah langsung memasukkan satu gulung mie di garpu plastiknya kedalam mulut Genta.


Genta sih terima saja, toh memang itu yang dia mau.


"Enak kan?" tanya Alana. Genta pun mengangguk anggukan kepalanya.


"Tuh kan enak! Mau saya bikinin?" tanya Alana lagi.


"Ga usah, kamu makan aja."


"Ck, yaudah ini makan sama saya aja, tapi jangan banyak banyak. Saya lapar," seru Alana sambil memanyunkan bibirnya.


...****...


Sekarang sudah sunset dan Alana kembali melakukan sesi fotonya bersama Genta, temanya adalah "Siluet cahaya pangrango."


Dalam foto itu terlihat Genta yang menggenggam erat tangan Alana untuk membantunya menaiki sebuah batu undakan. Lalu Genta dan Alana saling berhadapan, karna perbedaan tinggi badan yang terpaut jauh Genta harus membungkukan badannya.


Alana membuka ikatan rambutnya lalu duduk disamping Genta saat langit sudah memaparkan senjanya. Foto foto prewedding itu sangat manis, di tambah ini adalah pengalaman pertama Alana mendaki Gunung.


"Disini saya dilantik menjadi Mapala, Alana." Genta membuka percakapannya sambil memandang langit sore.


"Sama seperti, Soe Hok Gie yang juga dilantik disini."


Alana diam dan memperhatikan wajah Genta yang sedang menatap senja. Alana tidak tau siapa itu Soe Hok Gie. Alana hanya ingin mendengarkan suara Genta yang menurutnya itu Langka.


"Jika Soe Hok Gie menjadikan Mandalawangi ini sebagai tempat berpulang, kamu adalah tempat berpulang untuk saya, Alana."


"Saya tidak tau kapan perasaan saya ini luluh, tapi selama hidup saya. Kecuali ayah, bunda dan sanak saudara, Kamu lah yang pertama saya cintai. Seperti Gie yang mencintai Lembah Mandalawangi, Lembah kasih."


Kini Genta menggeser badannya menghadap Alana.


"Alana, kita memang dijodohkan. Tapi saya akan meminangmu dengan cinta dan kasih yang akan selalu sampai, saya memang tidak pandai berkata kata. Saya tidak pandai menyalurkan isi hati... "


"Tapi hanya dengan mu, saya selalu ingin berbicara. Saya selalu ingin mendengarkan suaramu, mendengar semua ceritamu tentang hidup ini. "


"Alana, dihadapan Lembah Mandalawangi dan Roh dari Gie. Saya dengan tulus memintamu untuk menjadi istri saya seumur hidup. Dengan segenap hati dan raga Saya, kesedihan akan saya hadang untuk menjumpainmu. Kau akan selalu ditemani oleh kebahagiaan. " Genta menatap mata Alana lekat, lalu menggenggam kedua tangan Alana.


"Pak, maaf jika saya bukan manusia dewasa yang bapak dambakan, saya hanya mahasiswa semester 5 yang seharusnya ada di ruang kelas, belajar tentang menegemen bisnis. "


"Saya hanya gadis kecil yang belum matang, dan Saya perlu bertemu dengan sedih, agar bahagia selalu saya hargai. "


"Saya tidak ingin Bapak menahan segala susah sendirian, saya ingin menjadi orang yang Bapak genggam tangannya saat kesedihan itu muncul, merasakannya bersama, mengeratkan genggaman dan bangkit bersama. "


"Jujur, rasa cinta belum menyelimuti hati saya. Atau mungkin saya belum sadar akan rasa itu, tapi saya ingin menjadi istri Bapak atas seizin Tuhan. "


Saat itu, senja muncul di Lembah Mandalawangi. Menjadi saksi atas Kasih yang sampai pada orang yang tepat.

__ADS_1


Kehangatan merasuki sekujur tubuh Alana saat Genta memeluknya erat. Disaksikan oleh Lembah Kasih ini betapa cintanya Genta pada Alana.


__ADS_2