DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (MALAM PERTAMA)


__ADS_3

Alana dan Genta sudah berada di dalam kamar inapnya, Genta mendudukan Alana di sofa kamar mereka dan melepaskan high-heels Alana.


"Alana, Dia siapa?" tanya Genta tanpa menatap Alana.


Genta kembali menggendong Alana dan membawa Alana ke dalam kamar mandi mendudukannya diatas closet.


Alana diam, dia bingung ingin menjawab apa.


Genta dengan telaten membersihkan kaki Alana dengan air hangat dan memasangkan plester setelah memberikan obat merah.


"Alana, Dia siapa?" tanya Genta lagi, tetapi Alana hanya diam. Mulutnya kelu.


Ada banyak hal yang ingin sekali Alana katakan sekarang, tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Semuanya hanya berada di dalam kepalanya saja.


Genta mengambil handuk yang berukuran kecil, Ia membasahi handuk itu dengan air hangat lalu mulai mengelap setiap bagian dari wajah Alana agar make up yang digunakan Alana hilang.


Genta ingin mencium Alana, tetapi Alana memalingkan wajahnya.


"Kamu duluan yang mandi atau Saya?" tanya Genta halus.


Alana menatap Genta sendu. "Saya dulu aja, Pak."


......****......


Alana sudah selesai mandi, Ia juga sudah mengeringkan rambutnya dan mengenakan hoodie kebesaran kesukaannya. Alana menggunakan hot pans sehingga terlihat seakan akan dirinya tidak menggunakan celana.


Alana sekarang sedang memainkan hpnya, membuka aplikasi noveltoon dan mulai membaca beberapa cerita sambil tiduran di atas kasur.


Tanpa Alana sadari, sedari tadi Genta sudah selesai mandi, Genta hanya mengenakan kaos daleman yang tipis dan boxer berwarna hitam. Serta rambutnya yang basah menambah kesan sexy.


"Loh? Bapak tidur disini?" tanya Alana kebingungan saat Genta duduk diatas kasur.


"Kamu pikir? Saya tidur diluar?" seru Genta sinis.


"Ck, Saya kirain kan Bapak tidur dikamar lain, Bapak kan banyak duit." Alana masih fokus dengan hpnya sedangkan Genta sudah menatapnya lekat.


"Alana, lihat saya!" seru Genta sambil mengambil hp Alana.


"Saya sita!"

__ADS_1


"Loh Pak, Saya salah apa?" tanya Alana tidak terima.


"Pak, balikin dulu. Nanggung banget itu!!!"


"Ga ada yang mau Kamu jelasin ke Saya?" seru Genta mengintimidasi Alana.


Alana bingung harus bagaimana, jangankan Genta. Orang tuanya saja ga tau masalahnya ini.


Alana menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Alana! Bukankah setiap pasangan harus saling terbuka?" tanya Genta sambil mengibaskan selimut yang menutupi Alana, lalu mengangkat tubuh Alana agar terduduk dan menghadapnya.


Alana menunduk sambil memainkan kuku jarinya.


"Saya ga bisa ngomong apa apa, Pak," ujar Alana pelan, saat Alana ingin menggigiti kukunya Genta langsung memeluk Alana erat.


Alana ingin menangis, Ia menggigit bibirnya supaya tangisannya tidak keluar.


"Kalo mau nangis, silahkan." Genta mengusap usap punggung Alana saat merasakan badan Alana yang begetar.


Alana mulai menangis, tangisan yang Ia tahan tumpah di dalam pelukan Genta. Kali ini Genta akan menjadi tempat favorit Alana untuk menangis.


"Mungkin Saya akan memaksakan Kamu untuk berbicara kali ini Alana, Saya harus tau masalah Kamu." Genta melepaskan pelukannya saat di rasa Alana sudah mulai tenang.


"Namanya Kak Satria," Seru Alana pelan.


"Lalu?" tanya Genta lagi, Genta bisa melihat kantung mata Alana yang sekarang dipenuhi lagi oleh air mata.


'Siapa orang itu?!'


"Kita pernah hampir pacaran. Tapi Papah larangan Saya buat Pacaran sama Dia waktu itu," Lanjut Alana sambil berusaha mengapus air matanya yang mengalir diwajahnya.


"Papah ga mau Saya pacaran dan akhirnya Saya sama Dia jaga komitmen. Waktu itu cuman Kak Bara sama Alan yang tau hubungan kita."


"Dia orangnya baik banget, ucapannya manis tapi perilakunya kasar. Kalo ga ada Kak Bara atau Alan dia suka kelepasan mukul." Alana diam, butuh tenaga yang banyak untuk mengatakan hal seperti ini. Yang sudah ia pendam selama 5 tahun sendirian.


Genta terperangah saat mendengarnya."Sekarang Bara dan Alan sudah tau kalau Dia kasar?" tanya Genta.


"Kayaknya engga deh," jawab Alana sambil menunduk.

__ADS_1


"Kenapa kalian jadi seperti itu? Putus hubungan?" tanya Genta.


"Dia mulai terobsesi dengan Saya, Pak. Memaksakan untuk berpacaran waktu itu sedangkan Kak Bara mulai melarang hubungan kita."


"Bapak jangan berurusan sama Dia ya, Saya mohon." Alana memohon sambil menatap mata Genta sendu. "Dia orangnya benar benar licik dan manipulatif," tambah Alana.


"Saya tidak takut dengan orang seperti itu, Alana." Genta mengusap rambut Alana hangat.


"Engga Pak, Saya tau. Tapi dia benar benar licik Pak, beneran licik!" seru Alana sambil menggenggam tangan Genta.


Alana tidak ingin Genta berurusan dengan Satria, terlebih Satria selalu punya seribu cara yang tidak terpikirkan oleh orang lain.


Genta hanya menatap hangat Alana lalu tersenyum tipis." Dulu, Saya pernah punya Pacar."


"Dia penari balet, sebenarnya kita berawal dari pertemanan." Genta membawa Alana kedalam pelukannya dan membaringkan tubuhnya.


"Saya tidak punya teman perempuan, saya tidak suka dengan perempuan. Karna ketika mereka berada di dekat saya, mereka pura pura lemah untuk memarik perhatian saya," seru Genta.


"Tetapi tidak dengan Dia, dia justru menjadi beringas ketika berada didekat saya. Pada awalnya itu yang membuat Saya menerima Dia untuk berada didekat Saya. Karna dia tidak mengganggu ketenangan Saya, tetapi orang lain berpikiran Saya menyukainya..."


"Dan ketika Saya mendapatkan paksaan dari sekitar untuk berpacaran, akhirnya kita berpacaran."


"Waktu itu, Saya mulai mencintainya tetapi dia berselingkuh. Saya sangat marah dan perasaan itu langsung hilang begitu saja." Genta mengelus elus pucuk rambut Alana.


"Ada yang bilang Dia dijebak, ada pula yang bilang sejak awal dia tidak mencintai Saya, semua hanya karna wajah saya tampan."


"Sejak itu Saya tidak lagi memiliki hubungan dengan siapapun, Saya sangat tidak suka dengan Perselingkuhan."


"Alana... Bisakah Kamu berjanji sehidup semati dengan Saya?" tanya Genta sambil terus mengusap pucuk rambut Alana dengan lembut.


Alana menarik tangan Genta yang berada dikepalanya lalu menggenggamnya kuat. "Tidak perlu berjanji untuk selalu sehidup semati, Saya hanya akan berjanji untuk tidak pergi."


"Alana, kalau Kau bilang Saya belum mencintaimu, Kamu salah. Pertama kali Saya melihatmu Saya sudah jatuh hati." Genta mencium pucuk rambut Alana dan memeluk Alana erat.


Perasaan hangat menyelimuti tubuh Alana, kali ini Alana bahagia sekali berdua dengan Genta. Malam pertama bersama pasangan jiwanya itu melakukan pembukaan hati, mungkin belum semua tetapi setidaknya ada beberapa perasaan yang terungkap.


"Pak, ada banyak hal yang Saya tutupi, tapi bukan berarti Saya tidak ingin untuk mengatakannya."


"Semua selalu ada dikepala Saya, setiap malam Saya mencoba merangkai kata untuk mengatakannya tapi mulut saya hanya diam. Saya belum berdamai dengan hati dan pikiran," tambah Alana.

__ADS_1


"Saya juga belum mengerti arti cinta yang sebenarnya." Alana menenggelamkan wajahnya didalam pelukan hangat Genta. Serta Genta mempererat pelukan mereka.


Akhirnya mereka tertidur setelah melakukan percakapan yang panjang dengan hati yang sudah menghangat.


__ADS_2