DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (LAMAR)


__ADS_3

..."Jadi diri sendiri untuk membahagiakan diri dan orang yang kita sayangi."...


...----------...


Alana kaget saat sadar Genta sedang berjalan kearahnya, wajahnya terlihat serius. Alana sedikit takut melihatnya.


Tapi Alana bukanlah seorang penakut, dengan berani Alana berlari kecil ke arah Genta lalu menarik lengan Genta. Membawanya kebelakang taman Restaurant itu.


"Pak." Alana masih memegang pergelangan tangan Genta bahkan sekarang Alana memegang kedua pergelangan tangan Genta.


"Pak ini sekarang dibicarakan dulu...."


"Gimana kata katanya buat nolak perjodohannya?" seru Alana serius sambil berusaha berpikir.


"Nanti pas Bapak bilang mau kah kamu menjadi istri saya? Terus nanti saya jawabnya apa?" seru Alana dengan muka polosnya.


"Atau nanti Bapak langsung nolak aja pernikahannya, Atau gimana kalau bapak pulang aja ga usah dateng jadi saya ga usah cape cape mikirin gimana caranya nolak," seru Alana lagi.


Tuk!


Genta menyentik kepala Alana.


"Ih Bapak sebelum nikah aja KDRT gimana nanti kalo udah nikah?!" ujar Alana sambil memegangi jidatnya yang perih.


"Dia bukan siapa siapa saya," seru Genta sambil menatap Alana.


"Wih gila sehh Pak bukan siapa siapa aja peluk peluk gimana kalo siapa siapa?" seru Alana tertawa karna memikirkannya.


"Kamukan yang jadi siapa siapa saya! " ucap Genta sambil mengangkat satu alisnya.


"Hah?" Otak kecil Alana tidak bisa mencerna perkataan Genta.


"Kamu kemana?" tanya genta. Raut wajah dingin dimukanya belum juga mencair.


"Maksud bapak? Saya ada disini..." Alana menunjuk kearah tempat ia berdiri.


"Atau bapak mau kabur? Saya kerumah Dita aja Pak" ujar Alana ingin mengambil ancang ancang untuk berlari tetapi di tahan oleh Genta.


"Kamu kemana waktu saya suruh kamu datang keruangan saya waktu itu?" tanya Genta dingin.


"Eh Iya pak maaf lupa hihihi." Alana tertawa sambil menepuk jidatnya.


'punya jidat ditabok mulu, dasar KDRT terhadap diri sendiri!'


"Ck ayo masuk ke dalam." Genta meninggalkan Alana yang berdiri bingung.


"Jadinya nolak atau nerima?" pikir Alana.


"Eh Bapakk!! Terima atau jangann??" teriak Alana sambil berlari mengejar Genta.

__ADS_1


Brukk!!


"Aduhhhh." Alana jatuh karna tali bootsnya yang lepas.


Genta yang sadar Alana tidak ada dibelakangnya membalikkan badan dan terkejut ketika melihat Alana yang sudah jatuh. Tangan dan lututnya menyentuh tanah.


Buru buru Genta membantu Alana untuk bangun dan membersihkan tangan dan lutut Alana dari kotoran.


Beruntung lutut Alana hanya baret dan tidak mengeluarkan darah.


"Eh pak ga papa pak ga usah, makasih." Alana menolak tangan Genta yang hendak membersihkan tangannya lalu membersihkan sisa sisa tanah yang menempel itu sendiri.


Genta memegang kedua bahu Alana saat Alana hendak bertanya lagi bagaimana caranya untuk menolak.


"Alana... " Genta berjongkok didepan Alana lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin.


"Bagi saya perjodohan hanyalah keegoisan segelintir orang... Menghilangkan hak asasi manusia terhadap pilihannya."


"Tetapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut seorang ibu yang harus kita bantah, saya tidak membantah orang tua terutama ibu karna seorang ibu-lah yang paling mengerti saya."


"Alana... Kesulitan selalu berjalan berdampingan dengan kebahagiaan. Untuk saya pernikahan hanya akan dijalankan satu kali seumur hidup dan hanya maut yang dapat memisahkannya."


"So... Will you marry me Alana Aileen hartono?"


Setetes air mata jatuh dipipi Alana, ia menangis terharu karna ucapan Genta. Dosen yang ia kenal berhati dingin itu sekarang melamarnya.


Alana tidak bersuara ia langsung memeluk Genta, itu reflek pikir Alana.


"Pak saya tidak mencintai bapak... Tapi saya sudah mencintai diri saya, mau kan bapak menjadi orang selanjutnya yang saya cintai?" seru Alana didalam pelukan Genta.


"Alana bukan orang pintar yang pandai merangkai kata, disuruh ngetik esay aja kadang SPOKnya terbalik. Tapi Alana janji, Alana akan jadi diri Alana untuk membahagiakan Bapak Gentala Priam Sanjaya." Alana tersenyum sambil melihat kearah mata Genta yang teduh.


Genta tidak menjawab pertanyaan Alana, ia langsung mengambil cincin yang berada didalam kotak yang ia pegang lalu memasukannya kedalam jari manis Alana.


" Setelah ini semua hal yang berhubungan dengan kamu selalu ada didalam rencana masa depan saya Alana" Seru Genta lalu menggenggam tangan Alana dan berjalan masuk kedalam Restaurant. Cincin berlian itu sangat manis saat berada di jari Alana.


...SKIP di dalam Restaurant....


Alana dan Genta berjalan beriringan menuju ruangan tempat keluarga mereka berdua berada.


Alana bertanya. "Pak gimana kostum saya? Lucu kan." Alana berjalan kedepan Genta untuk memperlihatkan pakaian yang ia kenakan.


Genta mengerutkan Alisnya bingung dengan kelakuan calon istrinya.


"Mamah bilang saya salah kostum. Padahal yang pentingkan saya pake baju," seru Alana sambil mengangkat bahunya.


"Memangnya kamu tidak ke Butik?" tanya Genta bingung.


"Ke Butik Pak tapi saya maunya pake baju ini."

__ADS_1


"Dibolehin?" tanya Genta.


"Engga hehehe."


"Tadi kata saya kalo ga pake baju ini saya kabur," jawab Alana sambil terkekeh.


"Padahal saya mau kabur kemana juga mereka pasti tau."


Alana heran kenapa tidak ada yang mencarinya, memangnya Mamah dan Papahnya itu tidak takut kalo Alana kabur?


Ceklek!


(suara pintu dibuka)


Alana masuk duluan diikuti oleh Genta setelah pintu ruangan makan itu dibuka oleh para pelayannya.


Dilihat oleh Alana keluarganya dan keluarga Genta itu sedang menikmati hidangan dengan tenang. Tapi sepertinya Haikal dan Haidar tertidur dipangkuan Ayah Ibunya.


"Pak gimana ini?" seru Alana menarik ujung Jas Genta pelan.


"Ehem." Gentala terbatuk untuk mendapatkan perhatian. Dan sekarang seluruh perhatian orang orang yang berada didalam ruangan itu tertuju pada Alana dan Genta.


Entah keberanian dari mana Alana malah mengangkat satu lengannya dan memperlihatkan bahwa hari ini jari manisnya telat ter-isi.


"Tarammm..." seru Alana canggung sambil menggerakan jari jari manisnya.


...-----------------------------...


"Jadi dua minggu lagi kalian akan menikah ya." Papah Alana menatap Alana dan Genta bergantian.


"Eh tapi Pah Alana kan harus kuliah," seru Alana kebingungan.


'Wah berabe ini kalo anak anak kampus pada tau.'


"Nanti Genta yang akan mengatur surat izin kamu," Seru Ayah Genta.


Alana hanya mengangguk ngangguk saja sambil membentuk bibirnya menjadi O.


"Kamu mau nikah dimana Alana?" tanya Kevin (Ayah Genta).


Sambil tertawa Alana menjawab. "Bali kayaknya asik sih Yah." Alana sudah terbiasa memanggil Ayah dan Bundanya Alana, tetapi Alana kesusahan mengganti nama panggilan 'Pak Genta'


"Wah bisa tuh, waktu Bara nikah juga di Bali emang bagus banget pemandangannya."


Alana hanya mengangguk angguk, sebenarnya dia ga terlalu perduli juga. Toh pernikahan bukan cuma tentang acara resepsinya saja kan.


"Jadi nanti Alana izin berapa hari Mah?"


"Kalo menurut Mamah sih Kamu dan Genta ngambil izin satu bulan supaya ga terlalu cape."

__ADS_1


"Nanti urusan kantor kamu biar Ayah yang gantiin," seru Kevin pada Genta.


'Mantep banget nikah libur satu bulan hihihi''


__ADS_2