
Alana dan Alan keluar dari ruangan itu, di depan sudah ada Dita yang menunggu Alana dengan khawatir.
"Al, bonyok banget muka lu!" seru Dita khawatir.
Alana meringis sambil tertawa. "Santai aja Dit, Gua ga papa."
Dari arah belakang Rey berlari menuju tempat Alan, Dita dan Alana berdiri. "Huhh.. Al, gimana mantap?"
"Mantap banget! Tapi Gua liatnya dikit doang." Alana tersenyum dan melirik Alan yang menatapnya sengit.
"Alana ke ukesma dulu, nanti Mamah panik liat muka lu jadi kayak gini." Alan menarik pergelangan Alana.
Akhirnya karna memang sakit Alana menerima saja tangannya digiring oleh Alan menuju ukesma. Dita dan Rey berbicara seru tentang membayangkan betapa shocknya Bella sekarang.
...---------------...
Alana dan Alan kini berada di ukesma, Alana tadi membuka blazernya dan untung saja blazernya itu melindungi Alana dari kaca kaca yang pecah saat Alana didorong oleh Bella.
"Punggung Lu sakit ga Al?" tanya Alan.
Alana mengangguk sebagai jawabannya. "Pipi Gua lebih sakit sih!"
"Lagian sok sok an kuat!"
"Ya memangnya Gua kuat kan!!" cibir Alana.
"Shhh... Akh..." Alana meringis saat Alan mencoba membersihkan luka di bibirnya.
"Apaan sok kuat!!" cibir Alan.
Alana hanya diam dan menatap jengah kearah Alan, dirinya lelah hari ini. Ingin cepat pulang tapi takut bertemu Mamah dan Papah.
"Al, Gua mau minta maaf!" seru Alan tiba tiba, Alan sudah menemoelkan plester disamping bibir Alana.
"Tadi Gua lagi badmood, Mamah sama Papah pergi ke Bali buat ngurus perusahaan disana. Kak Intan sakit sehingga Kak Bara harus ngurusin Kak Intan sama si kembar."
Alana terlonjak kaget. "Loh Mamah Papah ga ada???"
"Selamat hidup Gua."
Alan memegang dagu Alana dan memiringkan wajah Alana ke kanan dan ke kiri. "Tapi Lu harus tetap bilang ke Mamah sama Papah sebelum mereka tau dari kampus Al!"
"Iya, nanti Gua kumpulin keberanian dulu."
"Emm... Lu jangan marah juga ya!" seru Alan.
"Marah kenapa? Lu buat masalah apaan lagi?" tanya Alana menatap Alan sengit.
"Lu janji jangan marah dulu!!" rengek Alan sambil memegangi lengan Alana.
"Soal apaan dulu nih?"
__ADS_1
"Janji ga marah??" tanya Alan untuk memastikan saudarinya itu tidak akan mengamuk bila dirinya menceritakan sesuatu.
"Iya, tapi karna apaan dulu??" tanya Alana lagi.
"Gua kirim foto Lu lagi berudaan sama Rey sambil ketawa ke Pak Genta!" seru Alan cepat sambil menutup matanya, Alan yakin Alana akan meledak sekarang.
"Alan cari mati ya Lu!!!" teriak Alana menggelegar diseluruh penjuru ukesma.
"Alana maaf tadi Gua kesel banget sama Lu, Gua juga bilang Lu pacaran sama Rey!!"
Alana membelalakan matanya kaget dengan ucapan Alan, pantas saja Pak Genta seperti itu terhadapnya. Pasti Pak Genta sudah berpikir yang macam macam terhadapnya.
"Alana!!!"
Alana langsung berlari meninggalkan Alan di ruangan ukesma sendirian, tujuannya sekarang adalah ruangan Genta. Masalah ini harus diselesaikan sebelum Genta kembali menjadi beruang kutub yang dingin.
Brakk!!!
Alana membuka pintu kantor Dosen dengan kasar, beruntungnya Alana karna hanya ada Genta di dalamnya sedang mengecek beberapa berkas yanh terlihat berserakan di atas meja kerjanya.
"Alana sopan santun!" bentak Genta.
Alana menarik napasnya dalam dalam. "Pak! Sumpah Saya ga pacaran sama Rey! "
Genta mengangkat satu Alisnya tanda bingung dengan ucapan Alana. "Bukannya tadi siang Kamu yang bilang bahwa Kamu memiliki pacar Alana?" tanya Genta dingin.
"Iya Pak Saya memang memiliki Pacar, tapi bukan Rey. Itu foto dari Alan, siang ini Saya baru saja ketemu lagi dengan Rey. Kita pernah ketemu pas naik gunung, Pak..."
"Rey yang bawa gitar itu..." seru Alana panik.
"Beneran deh, Pak. Saya sama Rey cuman temanan doang, Rey punya adik perempuan seumuran sama Saya makanya kita gampang deket, Pak..."
"Saya tidak perduli, Alana!" ujar Genta dengan nada yang datar dan terkesan dingin.
'Duh, ini si Bapak marah atau engga sih?'
"Saya sangat tidak perduli dengan pacarmu Alana, Saya hanya kecewa. Seharusnya saat Kamu sudah menjadi istri seseorang Kamu tidak pantas lagi berpacaran dengan siapapun, itu sama saja dengan Kamu berselingkuh!" ujar Genta mencoba fokus dengan dokumen dokumennya.
"Hah apaan sih Pak?" tanya Alana bingung.
"Pakai otakmu Alana. Kamu ingin memilih lanjut dengan Saya atau pergi bersama pacarmu itu, apasih yang bisa Dia kasih yang ga bisa Saya kasih? Kenapa Kamu masih bertahan berpacaran dengan Dia saat Kamu sudah Sah menjadi istri Saya!"
Alana mengerjap ngerjapkan matanya, otak kecilnya itu tidak bisa menerima setiap kata yang keluar dari mulut Genta. Ia bahkan mengacak acak rambutnya frustasi.
Tok!! Tok!!
Seseorang di luar ruangan mengetok pintu dan membukanya.
"Eh ada Alana!" seru orang tersebut.
"Eh Rey, ngapain?" tanya Alana bingung.
__ADS_1
"Lah itu Lu kenapa rambut acak acakan kayak gitu?" tanya Rey hendak membenarkan rambut Alana.
"Ekhemm..."
"Eh! Itu bukannya Pacar Lu Al? Jadi asisten Dosen ya??" tanya Rey menjulurkan tangannya.
"Rey!" seru Rey sambil tersenyum
"Genta!" ujar Genta tanpa membalas jabat tangan Rey, Padahal Alana sudah memplototi Genta tetapi Genta malah lebih fokus dengan berkas berkasnya.
"Oh Iya, Pak Gentalanya kemana ya? Gua ada urusan nih!" seru Rey.
Alana membelalakan matanya menatap Rey penuh kekhawatiran. "Rey, Pak Gentala Dosen baru Lu?" tanya Alana.
"Iya Al, sumpah Gua cape banget Al, kalo ga karna skripsi males banget Gua dateng ketemu Dia. Katanya Dia Judes!!" seru Rey sambil memutar bola matanya jengah. "Cape hati pikiran Gua ngadepinnya!" tambang Rey.
Alana hanya menatap Rey penuh kekhawatiran dengan setiap kata yang kekuar dari mulut Rey.
"Eh Rey!! Kita ga pacaran kan??" seru Alana untuk mengubah suasana.
"Bhakss... Al yang bener aja, Gua sukanya sama yang seumuran berapa suka anak kecil Gua!" seru Rey sambil tertawa.
"Tuh Pak, mana ada saya selingkuh sih!!" ujar Alana kesal.
"Lalu siapa pacarmu itu?" tanya Genta sinis.
"Lah kalian ga pacaran?" tanya Rey kebingungan, Alana menepuk jidatnya.
Dia lupa dengan fakta bahwa Rey tidak mengetahui bahwa Alana dan Genta adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah.
"Emm... Anu itu... Jangan kasih tau siapapun ya Rey!!" seru Alana pelan, Genta menatap sinis Alana saat Alana mengatakan hal itu.
"Lah kenapa Al? Takut di bully fans Genta lu?" tanya Rey sambil tertawa.
Alana mengangguk sebagai jawabannya, memang benar dirinya belum siap untuk menghadapi banyaknya fans Genta di kampusnya. Bisa bisa dirinya di bully habis habisan.
"Kenapa takut? Tinggal bully balik!" ujar Genta, nada bicaranya masih dingin.
"Eh Gen, Pak Gentala kemana ya? Gua buru buru banget nih, lama banget sih tu orang!" cibir Rey, sedangkan Genta yang di ajak berbicara malah memfokuskan dirinya pada dokumen dihadapannya.
Alana menggigiti kukunya lalu menarik ujung baju Rey pelan sehingga Rey menatapnya bingung sekarang."Kenapa sih Al?" Rey bingung karna Alana menunjuk nunjuk Genta dengan raut wajah khawatir.
"Bapak Gentala!" seru Alana.
"Iya?" jawab Genta fokus membaca dokumen ditangannya.
Rey yang mendengar itu langsung membelalakan matanya, dirinya langsung balik menatap Alana dengan raut wajah khawatir.
"Al, Ini? !"
Alana menganguk angguk mendengar ucapa Rey, memang benar sepertinya riwayat perskripsian Rey akan sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Gua tau ini akan semakin berat Rey, yang sabar ya ini ujian langsung dari Tuhan," seru Alana sambil menatap miris bergantian kearah Genta dan Rey.
"Al, Lu kok tega banget sih. Jangan kemana mana temenin Gua!!!" teriak Rey saat Alana sudah melesat berlari keluar dari ruang Dosen.