DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (KENYATAAN)


__ADS_3

Alana saat ini sudah kembali ke dapur untuk membantu Mamahnya menyiapkan makanan untuk mereka santap nanti. Meja makan pun sudah rapih dipenuhi hidangan hidangan yang menggugah selera bagi yang melihatnya.


Tak terkecuali Alana yang sejak tadi sudah lapar, perutnya tidak henti hentinya mengeluarkan suara. Karna Alana tidak sempat untuk sarapan.


Alana juga sangat terlatih untuk memasak, selain seni melukis dan pertunjukan Alana suka seni memasak, sepertinya seni memasak adalah satu satunya yang bisa Alana lalukan dirumah ini.


"Papah ayo makan udah siap nihhh!!" teriak Alana dari dalam ruang makan.


Alana sudah tidak kuat lagi kalau harus jalan keruang tamu, Alana udah lapar karna tadi ga sarapan mana dari tadi kerjaannya bawa bawain makanan kan jadi tambah lapar, pikir Alana.


"Ck, Alana kan bisa samperin ke ruang tamu ga usah teriak teriak," tegur Bara sambil duduk di meja makan.


"Hehehe Alana udah ga kuat kak, laper banget nih," seru Alana sambil nyengir dan mengusap perutnya.


"Yeuhhh makanya bangun pagi sarapan," ujar Alan ingin menggoda Alana, tapi yang digoda diam saja. Tidak ada tenaga, Alana kehabisan tenaganya untuk bertengkar dengan Alan hari ini.


Mereka semua pun duduk dengan tenang sambil menyantap masakan Mamah Alana yang terkenal nikmat ini.


Alana makan sambil tersenyum karna bagi Alana, Ia makan untuk bahagia selain untuk kenyang.


"Wahh Fara masakan kamu emang yang paling oke!" seru tante Salma.


"Iya nih enak banget." Kevin menyantap makanannya sambil tersenyum.


"Hahaha... bisa aja, kalo gitu sering sering datang ke sini dong nanti aku masakin masakan yang enak enak. Apalagi Genta nih padahal dulu sering main disini kan," seru Mamah sambil tertawa.


'Lagi makan juga nanti keselek aja,' pikir Aluna.


'Eh tapi Dia dulu sering kesini?' pikir Alana lagi sambil mengunyah makanannya.


Genta yang diajak ngomong hanya diam sambil menikmati makannya, bagi Genta saat makan sangat dilarang untuk berbicara.


'Ckckck, dasar es kutub' seru Alana di dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Setelah itu mereka melanjutkan acara makan makan itu dengan tenang, Alana sudah beberapa kali nambah sampai diledekin Alan.


'ya namanya juga orang lapar,' pikir Alana. Sekarang Mereka sudah menyelesaikan acara makan makan itu.


"Alana tolong ambilkan mango cheese cake buatan bunda di dapur, nak," pinta Mamah.


"Nanti kalo ga ketemu minta ke Bibi aja ya," tambah Mamah Alana.


"Siap laksanakan Mamah!" Seru Alana sambil pura pura hormat membuat seisi meja itu tertawa termasuk Genta.


Alana langsung berlari kecil menuju dapur untuk mengambil apa yang disuruh mamahnya itu. Saat sampai di Dapur dilihatnya di meja dapur tapi Alana tidak dapat menepukan mango cheese cakenya.


"Bibiii," panggil Alana.


"Iyaa Al kenapa??" saut Bi Puan, Bi Puan dengan Alana memang sangat akrab karna Bi Puan sudah menemani Alana sejak Alana masih kecil.


"Mango cheese cake buatan Mamah dimana ya Bi?" tanya Alana.


"Ouhh ini Al, nih tinggal kamu bawa aja kesana, " seru Bi Puan sambil memberikan nampan kaca kepada Alana.


"Ati ati kalo jatoh pecah nih," seru Bi Puan meledek Alana.


"Tidak akan jatuh bi, percaya pada Alana!" seru Alana dramatis.


Bi Puan pun tertawa melihat tingkah anak bungsu majikannya itu, Alana memang baik dan menggemaskan pikir Bi Puan.


Mango cheese cake itu terbuat dari cream, bolu, dan buah mangga yang di susun menjadi sangat cantik. Alana sudah tidak sabar ini salah satu makanan pencuci mulut kesukaan Alana.


Tapi tenang saja Alana hati hati kok jalannya.


"Alana da--" ucapan Alana terhenti karna mendengar percakapan didalam Ruang Makan.

__ADS_1


"Alana sudah diberi tahu? Dia akan dijodohkan dengan Genta?" tanya Salma pada Rio.


"Bel---"


PRANGGG!!!!


Nampan kaca digenggaman tangan Alana melesat jatuh ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana mana.


Bara dan Genta yang duduknya membelakangi Alana langsung berlari kearah Alana, Genta memegangi pundak Alana yang lemas dan Bara menjauhkan pecahan pecahan beling itu dari kaki Alana.


Sialnya Alana tidak suka pakai sendal di dalam rumah. Ada beberapa pecahan kaca yang melukai kakinya.


Raut wajah Alana berubah datar tapi matanya hampir berkaca kaca, dia menatap kembarannya Alan yang matanya sudah berkaca kaca.


"Pah, Papah bercanda kan!?" seru Alan meninggi.


Bara menatap mata Alana sebentar, Alana jarang menangis. Sungguh aura Alana benar benar langsung berubah. Bara juga kaget karna pertanyaan dari tante Salma itu, Papahnya bilang mereka hanya akan makan makan biasa saja.


"Papah bercanda kan ya?" tanya Alana bersikap polos sambil berjalan menginjak beling beling itu.


Genta kaget tapi tangannya ditepis Alana saat ingin menahannya.


"Tolong jangan sentuh saya," seru Alana dingin.


"Pah jawabb," seru Alana


"Pahhh!!!!" teriak Alana sambil berlari menuju kursi tempat Papahnya itu duduk, Alana sedikit meringis karna beling itu menancap semakin dalam dikakinya.


"Ini demi kebaikan kamu Alana," seru Rio, dia tidak berani menatap mata putrinya itu.


"Bukan kah sebulan yang lalu sudah Papah katakan padamu akan dijodohkan dengan teman Papah," kali ini Rio memberanikan menatap mata putrinya itu.


...F l a s h b a c k o n...


"Engga," jawab Rio sambil menonton TV.


"Ayo lah Pahh, ini EXO lohh calon menantu Papah konser di Jakartaaa" seru Alana sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya.


"Engga Alana, Alan sedang keluar kota ga ada yang bisa jagain kamu nantinya," ujar Rio.


"Alana kan udah besar Papah," rengek Alana.


"Ada Dita yang nemenin Alana pah," seru Alana.


"Papah bilang Engga, Alana," seru Rio masih fokus dengan TVnya.


Alana tidak langsung menerima ucapan Rio, dia tetap bersikeras ingin pergi nonton konser bersama sahabatnya, Dita. "Ayo lah Pahhh, apapun yang Papah minta Alana turutin dehhh," seru Alana memelas.


"Kalo Papah mau kamu menikah kamu mau nurut?" seru Rio.


"Iyaa deh Pahh, nanti Alana cari dulu calonnya," ujar Alana ngasal. Iya lah dia baru 21 tahun pacaran aja belum pernah gimana mau nikah, jodohnya masih jauh. Pikir Alana.


"Papah yang cariin suami buat kamu ya" ujar Rio lagi.


"Iyaa pahhh," jawab Alana asal, kalo pun benar tidak papa asalkan jangan cepat cepat. Lagi pula Papahnya itu pasti bercanda mana mungkin dia ada waktu untuk mencarikan dia jodoh.


Dia yang banyak waktu saja jodohnya tidak ketemu.


"Oke" seru Rio.


"Oke apa nih? Boleh?" teriak Alana tertahan.


"Iyaaa" ucap Rio sambil mengelus rambut Alana.


"Yeyyyyyy!"

__ADS_1


...F l a s h b a c k o f f...


"Hahaha Papah kan bercanda kan ya?" seru Alana sambil tertawa hambar.


"Alana ayo bersihkan dulu kakimu nak," seru Salma khawatir.


"Ga papa Tan ga sakit kok, hati Alana lebih sakit sekarang," seru Alana sambil tersenyum.


"Nak, Genta bisa menjaga mu. Kau dulu juga dekat dengannya," seru Rio.


"Aku ga inget Pah, Alana ga inget siapa diaa Pahh," seru Alana sambil menunjuk Genta.


"Pah ga ada satu keputusanpun yang mutlak menjadi keputusan Alana, semua tergantung Papah lah, Mamah lah, Alan lah, atau kak Bara lah. Alana ini sudah Besar Papah ini masa depan Alana pah," seru Alana menahan tangisnya.


Kevin dan Salma sudah menebah Alana akan seperti ini, karna jujur Genta pun memolak mentah mentah sebelum diberi tahu siapa Alana itu.


"Alana ayo nanti kakimu tambah sakit, "seru Alan ingin menggendong Alana.


"Pah disini kakaknya kan Alan, kenapa Alana duluan yang disuruh nikah. Kalo Papah takut ga ada yang jagain Alana ada Alan pah, "seru Alana sambil menarik baju Rio pelan. Alana menepis tangan Alan yang hendak menggendongnya.


"Alan, ayo bantuin Alana."


"Alana, Papah akan sangat tenang kalo Genta yang akan menjadi suamimu, dia akan sangat bertanggung jawab atas dirimu, " seru Rio ingin memeluk Alana.


"Pah, ga ada satu orang pun didunia ini yang harus bertanggung jawab atas diri Alana kecuali Alana sendiri Pah, " seru Alana sambil mendorong Rio agar tidak memeluknya.


Alana muak, dia ini bukan lagi anak kecil. Bisa bisanya Papahnya itu berpikiran untuk menjodohkannya dengan lelaki yang tidak iya bahkan tidak tau siapa namanya, sifatnya. Apakah cocok?


'Emangnya sekarang ini jamannya siti nurbaya apah' seru Alana didalam hati.


Alana berlari keluar ruang makan, Fara berusaha menenangkan suaminya yang berusaha mengejar Alana.


Tapi sebelum Alana sempat keluar ruang makan, Genta terlebih dahulu menahan tubuh Alana yang hampir ambruk dan menggendongnya.


"Akhh lepasinnnn!!!" teriak Alana saat tubuhnya sudah tidak berpijak pada lantai rumahnya.


"Lepasihh gaaa!!! Kakak, Alann tolonginnn!!!" teriak Alana sambil merontah ronta.


Genta menatap mereka seakan memerintah untuk tidak mendekat. Genta akan mengatasi Alana sendiri.


Genta keluar ruang makan sambil menggendong Alana, Alana masih tetap meronta ronta. Malahan sekarang sedang menggigit leher Genta sampai berbekas.


Tapi yang digigit hanya diam seakan tidak terasa apapun.


Genta membawa Alana menuju kamarnya, Alana sudah tidak meronta ronta lagi dia sudah lemas.


Sejak insiden nampan kaca jatuh itu Genta sudh menghubungi dokter untuk datang kerumah Alana, dokter itu langganan keluarganya.


Genta masuk kedalam kamar mandi kamar Alana dia mendudukan Alana dipinggiran bathtup yang bisa diduduki lalu menyenderkan Alana pada dinding kamar mandi.


Genta mengambil shower lalu mengatur panasnya agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin.


Mengarahkan shower itu pada kaki Alana saat dirasa sudah pas suhunya, seketika air di bathtub menjadi merah karna kaki Alana masih mengeluarkan darah.


Genta meringis melihatnya tapi Alana tidak, dia hanya diam saja.


Alana melirik Genta, hatinya tersentuh saat Genta dengan telaten membersihkan kakinya dari serpihan kaca yang masih menempel.


"Saya harus manggil anda dengan sebutan apa?" tanya Alana.


"Kayaknya umur anda sama dengan kak Bara?" tanya Alana lagi.


"Terserah," seru Genta masih fokus membersihkan luka Alana.


"Nama saya, Gentala Priam Sanjaya."

__ADS_1


__ADS_2