DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (SERPIHAN KACA)


__ADS_3

Prangkk!!!!


"Alana!!!"


Genta segera lari menghampiri Alana. Tadi, dirinya berencana memanggil Alana untuk keruangannya.


Kenapa Genta ada di kampus? Padahal tadi Dia sedang disibukan dengan urusan kantornya.


...Flashback On...


Genta sedang berada diruangannya mengecek beberapa berkas yang akan Ia tanda tangani.


Genta mengecek ponselnya sebentar dan mendapati banyak sekali telfon yang tidak Ia angkat. Genta mulai membuka app chattingnya lalu membuka satu pesan dari seseorang.


Disana ada seseorang yang tidak Genta kenal mengirimkan sebuah foto dengan keterangan 'Pacar Alana.'


Tangan Genta mengepal kuat dan dirinya bangkit dari duduknya. Menyambar kunci mobilnya, satu satunya tujuan Genta sekarang adalah kampus.


...Flashback off...


Alana terjatuh menghantam pintu kaca ketika didorong dengan kuat oleh Bella, beruntungnya Alana mengenakan atasan blazer sebagai outer bajunya. Langsung saja ketika tubuhnya menghantam kaca Alana menarik kerah blazernya sampai menutupi kepalanya.


Prangkk!!!!


Tubuh Alana terjatuh tepat diluar kelas didepan pintu yang kacanya sudah hancur.


Alana meringis karna merasakan punggungnya yang sangat sakit.


Dita berlari melewati pintu kaca yang hancur itu, "Alana!! Lu ga papa?" tanya Dita cemas.


"Menurut Lu, Gua ga papa?"


"Udah sana sekarang Lu pergi ke ruang cctv, nanti keburu buktinya kehapus." Alana berbisik dan mendorong tubuh Dita pelan.


"Tapi Al, Lu Gua anter ke Ukesma dulu ya." Dita mencoba membantu Alana untuk bangun.


"Gua ga papa sumpah dah, gih sana buruan!!!" seru Alana sambil mendorong dorong Dita.


"Alana!!" Itu Rey, dia berlari menghampiri Alana yang berusaha untuk bangun. Sedangkan Dita sudah berlari menjauh dari Alana.


Rey memegangi lengan Alana untuk membantu Alana berdiri, dengankan Bella sudah bersedekap meremehkan Alana.


"Lah Lu ga baik Rey?" tanya Alana.


"Kaga, Dosennya bakal ke kampus jam 4 jadi ini Gua mau keruangannya." Rey membantu Alana berdiri dan membersihkan blazer Alana dari serpihan serpihan kaca.


"Sakit Al?" tanya Rey sambil meringis.


"Ya Lu pikir gimana?"


Kemana Genta? Genta berdiri tidak jauh dari Alana dan Rey, Ia menatap Rey tajam sambil mengepalkan tangannya.


Tadi Genta akan menemui Alana di ruang kelasnya, Genta juga tau Dosen yang akan mengajari Alana hari ini tidak datang ke Kampus sehingga Genta bisa memanggil Alana untuk pergi ke Kantornya.


Tetapi sebelum Genta sampai diruang kelas Alana, Ia sudah dikejutkan dengan kemunculan Alana yang terjatuh menimpa pintu kaca ruang kelasnya. Dan Ia sangat marah ketika melihat raut wajah Rey yang menatap Alana penuh kekhawatiran.


Bella berjalan melewati pintu kaca yang rusak sambil menatap Alana tajam.


"Wah Al, banyak amat cowo Lu!" seru Bella.


"Lu gila ya!!" seru Rey, tangan Rey dicekal oleh Alana, dan Alana berbisik sesuatu di telingan Rey.

__ADS_1


"Pergi bantu Dita! Keruangan cctv, sekarang!!"


"Tapi Al, Gua anter ke Ukesma dulu ya!" seru Rey.


"Ga! Gua udah gede, bisa sendiri Gua kesana. GC bantuin Dita!!" seru Alana mendorong dorong Rey.


Rey pun mengangguk dan pergi berlari meninggalkan Alana.


"Hah. Kemana mereka semua? Mau manggil Alan buat nolongin Lu?" seru Bella berjalan ke arah Alana.


"Niat Gua baik buat ngajakin Lu berteman..."


"Eh Lu nya ga tau diuntung!!" seru Bella mencibir Alana.


"Bukannya Lu yang mau cari untung ya? Gua ga bakal untung yang ada buntung!!!" seru Alana sambil menatap Bella mengejek tepat di depan Bella.


Bella menggenggam tangannya kuat, Ia berusaha menahan amarahnya tetapi tidak bisa.


"Lu suka sama Alan kan? Tapi sayang banget Bell, Lu keduluan sama Dita gimana dong? Dita ga molek? Iya sih tapi badannya body goals loh." seru Alana meremehkan Bella.


"Gua jamin Lu dikeluarin dari kampus ini Al!!!" seru Bella.


"Ouhh Lu mau video Lu lagi ngebully Refa Gua share di media sosial? Biar semua orang tau Bell!" ujar Alana tersenyum sinis.


"Yang jelas video itu udah ga ada ya Al!!!" teriak Bella.


"Loh bukannya Lu yang videoin sendiri ya???" seru Alana lagi.


Bella tidak kuat menahan amarahnya, tangannya melayang ingin menampar pipi Alana lagi.


*Hap*


Tepat didepan Alana, Genta berdiri. Mencekal pergelangan Bella dan menatap Bella sinis.


"Pak!!" seru Alana dan Bella berbarengan.


"Panggil walimu sekarang Bella!!" seru Genta dingin.


"Dan kamu juga Alana."


"Loh kok Saya?? Dia kan yang bully!!" tunjuk Alana kearah Bella.


"Kamu memancing amarah Bella, Alana." Genta melepaskan cengkramannya dari pergelangan Bella.


"Cepat ikut saya ke kantor, dan jangan lupa kabari wali kalian!!" seru Genta dingin.


Alana dan Bella mengekor mengikuti Genta menuju kantornya.


..._________________________...


Saat sampai di dalam kantor Genta menyuruh Alana dan Bella untuk menunggu di luar ruangan.


Genta masuk ke dalam ruangannya dan mengambil kaos hitam didalam lacinya yang masih terbungkus plastik.


Genta keluar dan memberikan kaos itu kepada Bella.


"Ganti bajumu dulu, sangat bau!" seru Genta dingin.


Bella tersenyum sambil melirik Alana, Ia mengambil kaos itu dari tangan Genta sambil tersenyum manis.


"Terimakasih Pak Gen." Senyuman di wajah Bella sepertinya tidak akan luntur dalam waktu yang cepat.

__ADS_1


"Gen Gen dikata Gen Halilintar!" seru Alana pelan, Bella mematap Alana sinis sebentar lalu pergi meninggalkan Alana dan Genta untuk mengganti bajunya yang terkena jus alpukat busuk.


...-----...


Genta masuk lagi ke dalam ruangannya dan keluar membawa kotak P3K dan sebuah botol minuman dingin.


Genta memberikan botol itu kepada Alana.


"Buat apa Pak?" tanya Alana.


"Kompresi pipimu," seru Genta dingin.


"Dih tadi dirumah adem adem aja perasaan!" ujar Alana pelan.


"Kenapa?" tanya Genta sambil membuka kotak P3Knya.


"Engga, ada angin lewat," seru Alana.


Genta menatap Alana sebentar lalu mengeluarkan isi dari kotak P3K.


"Kamu punya pacar?" tanya Genta, nada bicaranya masih dingin seperti tadi.


Alana menatap Genta bingung. 'Ini si Bapak lagi ngetes Gua apa gimana ya? Dulu kan dia nembak Gua. Tapi belum bilang putus kan? Berarti masih pacaran? Au ah gelap.' pikir Alana.


"Punya dongg!!" jawab Alana.


"Kenapa Kamu ga bilang ke Saya kalo Kamu sudah ada pacar Alana!!! Saya pikir Kamu memang benar benar belum pernah pacaran!! Kalau seperti ini seharusnya Kita bisa menolak perjodohan itu!!!" Ujar Genta, nada suaranya meninggi.


"Loh Bapak kenapa sih!!! Perasaan tadi pagi masih baik baik aja deh?!!"


"Saya kenapa? Harusnya Saya yang tanya itu!" cibir Genta.


Alana menatap Genta dengan raut wajah yang penuh kebingungan.


"Bapak sehat kan hari ini?" tanya Alana.


"Kamu yang lagi ga sehat Alana. Seharusnya kalau memang sudah memutuskan mau menerima perjodohan itu Kamu harus putuskan dulu hubunganmu dengan Pacarmu!! Jangan jadi main di belakang saya!!" seru Genta, amarahnya sejak tadi tidak bisa lagi Ia tahan.


"Loh?! Kok Bapak jadi marah marahin Saya sih!!" bentak Alana.


"Alana!!!" teriak seseorang.


Dia adalah Bu Dewi, Kasi akademik dan kemahasiswaan kampus yang menjadi tempat Alana menimba ilmu.


"Begitu cara Kamu berbicara dengan dosen ya?!!" bentak Bu Dewi.


Alana menunduk memandang sepatunya, ada bercak darah disitu. Sepertinya dalam sebulan ini sangat banyak darah yang keluar dari tubuh Alana.


"Kamu ini seperti tidak diajari oleh orang tua mu ya!!! Anak siapa sih kamu??!!! Ibu mu tidak peduli sepertinya dengan mu ya??!!" seru Bu Dewi memarahi Alana.


Alana langsung memandang Bu Dewi saat Ibunya disebut sebut. "Tidak Bu! Ibu Saya sangat peduli dengan saya!" seru Alana menjawab perkataan Bu Dewi.


"Berani beraninya Kamu membalas perkataan Saya Alana." Tangan Bu Dewi sudah melayang ingin menampar Alana, tetapi langsung di cekal oleh Genta.


"Anda tidak akan menjadi terlihat lebih baik jika menyakiti seseorang! Terlebih tidak diperolehkan adanya kekerasan dilingkungan universitas," seru Genta tegas.


"Tapi Pak anak ini butuh pelajaran! Berani beraninya Dia membentak Dosen!" seru Bu Dewi.


"Ini masalah pribadi!" ujar Alana membela diri.


"Masalah pribadi? Tetap saja kamu harus memiliki sopan santun Alana!!!" bentak Bu Dewi lagi. Alana hanya diam saat dibentak, lagi pula Ia juga tidak mendengarkan apapun yang Bu Dewi katakan. Hanya angin lewat.

__ADS_1


__ADS_2