DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (PURA PURA)


__ADS_3

Hari ini Mamah dan Papah sudah kembali dari Bali, besok juga Alana dan Genta akan pindah kerumah baru.


Barang barang Alana sudah dipindahkan ke rumah baru, hanya beberapa baju dan barang barang kesayangan Alana.


"Pak, rumahnya jauh dari kampus ga?" tanya Alana.


"Engga..." jawab Genta, Alana dan Genta sedang berada di halaman belakang rumah Alana.


Sekarang sudah malam dan Alana ingin menikmati angin malam di belakang rumahnya, mungkin Alana akan jarang mengunjungi halaman belakang rumahnya ini. Tempat Alana dulu bermain.


"Dulu Bapak sering main ke sini emangnya?" tanya Alana membuka percakapan.


"Iya, katanya sih. Tapi seinget Saya dulu Saya sering main disini, karna teman Saya cuman Kakak Kamu, Bara." Genta mengalihkan perhatiannya dari Ipad dan menatap Alana sambil tersenyum.


"Makanya Pak, jadi orang jangan dingin dingin banget! Temennya dikit kan!!" seru Alana mengejek.


"Emangnya teman Kamu banyak?" tukas Genta.


"Banyak dong, siapa sih yang ga kenal Alana!" sombong Alana sambil menepuk dadanya.


"Teman apa teman? Tulus ga? Saya sih teman sedikit tapi benar benar jadi sehabat!" cibir Genta.


Kata kata itu benar benar masuk kehati Alana, memang Alana banyak teman. Tapi yang benar benar menjadi sahabatnya hanyalah Dita sampai sekarang.


Mereka duduk di pinggir kolam renang, rumah Alana memiliki kolam renang yang tidak terlalu luas di belakang rumahnya. Seperti kolam renang rumah pada umumnya.


Situasi saat ini terasa canggung karna tidak ada lagi yang membuka percakapan, tetapi Genta terus saja tersenyum kepada Alana.


'Si Bapak lagi sakit ya?!'


Alan sedang pergi menjemput Dita, mereka akan mengadakan makan malam di rumah orangtua Alana.


Saat Alana tengah termenung bersama pikirannya tiba tiba saja Genta mencipratkan wajah Alana dengan air kolam renang, sontak itu membuat Alana langsung terkejut.


"Bapak!! Basahhh!!" teriak Alana dengan raut wajah kesal. Tapi itu justru membuat Genta tertawa terbahak bahak.


Alana langsung menyerok air dengan kedua tepak tangannya dan menyiramkan tepat mengenai wajah Genta yang sedang tertawa.


"Hahaha!!! Kenakan, awas nanti masuk angin lagi!" ledek Alana.


Sekarang gantian Alana yang tertawa, Genta tak ingin kalah. Genta langsung memasukan telapak tangannya ke dalam kolam renang lalu langsung menempelkan telapak tangannya di wajah Alana.


"Bapakk!!! Akhhh!!!" teriak Alana kesal lalu mendorong lengan Genta, tetapi karna matanya terkena air dan Alana menutup matanya membuat gerakannya salah sasaran.


Byurr!!!


Alana dan Genta terjatuh ke dalam kolam renang.


"Mamahh!!! Mamah!!!" teriak Alana.


Alana bisa berenang jika bisa menapakan kakinya kedasar lantai kolam renang, tetapi karna Alana jatuh tepat di posisi kolam yang paling dalam itu membuat Alana panik.


Genta langsung memegangi pinggang Alana saat merasa Alana tidak bisa berenang, seingat Genta dulu Alana sangat mahir berenang.


"Alana!!" teriak Papah Alana.


"Gapapa Rio, orang itu ada Genta kok!" seru Kevin sambil memegangi pundak Rio, besannya.


Genta tidak berenang membawa Alana ketepi kolam, melainkan justru membawa Alana ketengah kolam.


"Bapakk!! Naikk!! Basah iniii, kesana Pak!" teriak Alana sambil memukul mukul bahu Genta.

__ADS_1


"Alana atur nafas Kamu!" ujar Genta.


"Bapak jangan bercanda deh, ga lucu!" kesal Alana, sekarang Alana menggenggam erat kemeja Genta karna takut di tinggal ditengah kolam.


"Kamu takut?" ledek Genta.


"Hiks...Iyaa takutt!!!" tangis Alana, Genta terkejut karna Alana menangis. Biasanya gadis itu terlihat sangat kuat.


Alana juga bingung kenapa setiap bersama Genta dirinya menjadi sedikit lebih melo.


"Bapak jangan ketengah kaki Saya ga sampe!!" teriak Alana.


"Alana atur napas Kamu!" ujar Genta, tadinya Genta hanya ingin menggoda Alana.


Tapi setelah melihat Alana yang takut dengan kolam yang lebih tinggi dari tubuhnya itu justru membuat Genta ingin membawa Alana ketempat yang lebih dalam.


Bukan Genta sangat kejam kepada Alana, tetapi takut dengan air bukan sesuatu yang baik. Bagaimana jika Alana tenggelam dan tidak ada yang dapat menolongnya.


Genta tau, Alana hanya panik. Karna seingat Genta Alana dulu mahir dalam berenang.


Alana mulai melonggarkan cengramannya dan menatap kedua mata Genta.


Udara dingin benar benar terasa di tubuh Alana malam ini. "Pak, ayo ke pinggir...." seru Alana lebih tenang.


"Balapan ya!" ujar Genta.


"Noo!!" Alana langsung mengalungkan tangannya di leher Genta dengan kuat.


"Coba Alana, Saya yakin Kamu bisa. Ini cuman 2 meter saja Alana..." seru Genta sambil tersenyum.


"Akhh!!"


Alana tidak bisa melihat apapun di dalam air, matanya perih. Karna badan Genta yang berat Alana tidak bisa berenang kepermukaan.


Alana memutuskan berenang kepinggiran dan menghentakan kakinya kuat saat kaki Alana dapat menyentuh lantai.


Alana menghirup napas sebentar dan kembali masuk ke dalam air, untung saja kolam renang itu tidak terlalu luas dan Alana bisa sampai di pinggiran sebelum dirinya benar benar kehabisan hapas.


Alana mencekram baju yang Genta kenakan dengan kuat, tetapi itu yang membuat pergerakan Alana menjadi lebih lambat.


"Kakak!!" teriak Alana saat dirinya sudah bisa berpegangan di pinggiran kolam.


"Kakak tolongin!!!" teriak Alana lagi.


Disana Bara dengan wajah paniknya berlari ke arah Alana. Bara sampai hari ini bersama orang tua Alana, istrinya sudah sembuh dan akan tinggal di jakarta selama beberapa minggu karna Bara harus mengurus perusahaan Papah.


"Alana Kamu ngapain malem malem berenang!!" seru Bara khawatir sambil mengangkat tubuh Genta yang tidak sadarkan diri.


Bara mengangkat tubuh Genta dan meletakkannya di samping kolam, tetapi sepertinya ada yang salah disini.


Genta mengedipkan matanya ke arah Bara, memberi kode bahwa dirinya baik baik saja.


Hampir saja Bara ingin memukul teman lamanya itu jikalau dirinya tidak mengerti arti kode tersebut.


Bara langsung bangkit dan berjalan kearah Alana dan sedang melipir di kolam renang. Alana melipir menuju tangga kolam renang.


Bara langsung mengangkat tubuh Alana dan Alana langsung memeluk erat tubuh Bara.


Bara sebenarnya mengerti, Genta sepertinya berlebihan karna Alana sangat takut bila berenang kakinya tidak bisa menapak di dasar kolam.


Tapi sepertinya kali ini Alana dapat berenang karna jika tenggelam, Genta juga akan ikut tenggelam. Bara mengerti maksud Genta.

__ADS_1


Alana harus bisa melawan rasa takutnya.


"Hiks... Kakak..." tangis Alana di dalam pelukan Bara.


"Huss... Udah jangan nangis, bisa kan berenang?" seru Bara sambil menepuk nepuk pundak Alana.


"Alana takut..." tangis Alana.


"Ga perlu takut Alana, coba keren loh Kamu bisa berenang sekarang!" seru Bara menyemangati Alana.


"Pak Genta, Kak!!" teriak Alana lalu berlari ke arah Genta yang tergeletak di samping kolam renang.


"Kakak ambil handuk dulu ya!!" seru Bara lalu pergi memasuki rumahnya.


Tadi Alan dan Papahnya sudah ingin berlari menuju Alana jika saja tidak di tahan oleh Bara.


"Pakk!!! Bangunn!!" ujar Alana sambil menggoyangkan tubuh Genta.


"Hiks...Pak Bangun dong Saya kan baru nikah!!" Alana menepuk nepuk dada Genta.


Pikirannya tidak bisa di ajak bekerja sama kali ini, Alana tidak fokus.


"Kak Bara kemana sih... Hikss... Kok lama banget..." Alana menangis di samping Genta sambil menggoyangkan tangan Genta pelan.


"Pak!! Udahan dong jangan bercanda..."


Niat Alana ingin bangun untuk meminta tolong pada orang yang ada di dalam rumah. Alana bingung seharusnya mereka mendengar teriakan Alana dong.


Grepp!


"Akhh!!!"


Sebelum Alana sempat berdiri tegak tangan Genta meraih pergelangan Alana dan menarik Alana sampai jatuh kepelukan Genta.


Alana jatuh ke atas tubuh Genta dan Genta memeluk Alana erat.


Alana membelalakan matanya saat sadar dirinya dikerjai oleh Genta dan tentu saja Bara.


"Bapak!!! Bercanda kan!!!" teriak Alana sambil meronta ronta di dalam pelukan Genta.


"Iya Saya bercanda Alana, kok Kamu takut banget sih..." ledek Genta.


"Ga lucu ya, Pak!!" Alana memukul mukuli Genta dengan tangannya.


"Emangnya Saya mau ngelucu?" ledek Genta lagi.


"Lepasinn Saya mau masukk!!" teriak Alana sambil mencubit pinggang Genta.


"Akhh!!" teriak Genta kesakitan.


"Rasainn!!" tukas Alana kesal lalu bangkit.


Genta bangun dan langsung menarik Alana ke dalam pelukannya lagi.


"Kamu bisa kan? Kuncinya jangan panik, Kamu harus bisa lawan ketakutan Kamu. Saya percaya kok Kamu perenang yang baik..." ucap Genta lembut.


Alana terdiam mendengarkan ucapan Genta.


Jujur Alana memang dulu suka berenang, Alana juga pandai berenang sampai suatu hari dirinya pernah tenggelam karna berenang di tempat yang dasarnya tidak bisa Ia pijak.


"Kapan kapan Kita snorkeling ya..." ujar Genta sambil mengacak acak rambut Alana yang basah.

__ADS_1


__ADS_2