
Alana tertidur dengan pulas sampai tidak sadar sekarang ia sudah di dalam mobil menuju Bandara.
Tadi Genta yang menggendong Alana karna Alana tidak kunjung ingin bangun dari tidurnya, bahkan sekarang Alana masih tertidur di dalam mobil tanpa makan malam.
"Alana..." seru Genta mencoba untuk membangunkan Alana.
"Al!" seru Genta lebih keras.
"Alana Aileen Hartono, bangun!!!" Genta mencoba menutup hidung Alana agar Alana tidak dapat bernapas dan terbangun.
"Alana bangun sebentar lagi kita sampai di Bandara."
"Alana bangun!!!" seru Genta gemas, ia menggoyang goyangkan tubuh Alana.
"Hmm.." erangan terdengar dari mulut Alana.
"Ayo bangun, sebentar lagi kita sampai di Bandara." Genta mencoba membangunkan Alana dengan merubah posisi tidur Alana menjadi duduk tegak.
"Hmm..."
Akhirnya Alana bangun karna dipaksa berdiri oleh Genta saat sudah sampai di Bandara, meskipun Genta berangkat menggunakan Jet Pribadi dengan tipe Boeing Bussiness Jet 747-8 tetap saja Alana harus bangun. Setidaknya untuk pindah tempat, terlebih Genta sangat tidak menyukai orang-orang malas.
Alana melanjutkan tidurnya setelah iya berjalan dengan setengah sadar. Setidaknya butuh waktu 1 jam 50 menit untuk sampai ke Bali dari Jakarta.
Pesawat Jet yang Alana tumpangi ini adalah pesawat Jet Pribadi milik keluarga Genta, bisa menampung setidaknyaa 100 orang.
Keluarga besar Genta dan Alana pergi menuju Bali menggunakan Pesawat Pribadi, ada Dita dan keluarganya juga yang hadir.
Genta memilih untuk menggunakan Ipadnya untuk mengoreksi tugas tugas dari Mahasiswanya itu. Meskipun Genta sedang izin, tetap saja ia harus memberikan tugas tugas untuk mahasiswanya.
Alana tidur di atas kasur Queen size karena di dalam Pesawat Pribadi ini terdapat kamar kamar yang memiliki kasur.
...-------------...
Hari ini adalah hari dimana Alana dan Genta mengadakan acara pesta resepsi pernikahan yang digelar di Hotel Alila, Ubud. Acaranya dimulai pada pukul 5 sore.
Alana dan Genta mengambil tema tropis, yaitu Pantai.
Genta mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam
Dan Alana mengenakan dress cantik berwarna baby pink.
Tamu tamu undangan sudah berdatangan dan menyalami Alana serta Genta, para investor dan pemegang saham serta teman teman bisnis kedua keluarganya juga sudah berdatangan.
"Wah, Nak Genta ini nih yang akan membuat perusahaan menjadi No 1 di Asia." seru salah satu manajer dari perusahaan Sanjaya Investama tbk.
Genta hanya tersenyum untuk menanggapinya.
Genta dan Alana tidak hanya berdiam diri di Altar saja, mereka berjalan jalan dan berbincang bincang ikut merayakan pesta bersama yang lain.
" Pak, jangan kesana!" seru Alana berbisik saat Genta membawanya menemui sekelompok om om yang sudah tua, orang orang itu menatap Alana memuja.
"Tenang, Kamu diam saja. Mereka adalah saingan keluarga kita," jawab Genta pelan.
__ADS_1
Alana mengaitkan lengannya ke lengan Genta dan berjalan beriringan menuju meja tempat para saingan keluarganya itu duduk.
Prokk! Prokk! Prok!
Orang orang itu bertepuk tangan saat mengetahui Genta berjalan kearah mereka.
" Wah, Gentala Priam Sanjaya. Saya pikir kamu tidak menyukai perempuan?" seru Seseorang itu dengan mimik mengejek.
Genta mengangkat satu alisnya dan tersenyum kecil.
"Kenalkan, Istri saya. Alana Aileen Sanjaya." Genta mengenalkan Alana dengan mengganti nama belakang Alana dan tersenyum hangat ke arah Alana.
"Hahaha! Tentu saja Saya sangat mengenal gadis itu, bukankah keluargamu yang merebutnya dari anak ku?" seru orang itu berjalan dan berhenti tepat di depan Genta, menatapnya sinis. Dia adalah Harnoko, pemilik perusahaan investor yang menjadi saingan dari perusahaan Genta.
" Sepertinya Kau yang terlambat, Tuan," jawab Genta tenang tetapi sinis.
" Wah... Anak manis." Harnoko berjalan kearah Alana dan ingin memegang dagu Alana, tapi sebelum tangan itu menyentuh dagu Alana. Sudah ditepis oleh Genta.
"Jangan berani menyentuh Istri saya, Anda tau konsekuensinya! " Genta menatap Harnoko dingin dan mengintimidasi.
"Hahahaha! Alana! Lihat saja, Dia tidak mencintaimu sama sekali! Kau dinikahkan hanya semata mata untuk urusan bisnis keluargamu saja. Mereka hanya menjadikanmu boneka perdagangan." Harnoko tertawa sambil meninggalkan Genta dan Alana. Serta seluruh teman teman yang tadi menemani Harnoko pun ikut meninggalkan party.
Genta melirik Alana, Dia khawatir Alana akan bersedih setelah mendengar perkataan itu.
"Huh...Emang bener kan, Pak? Saya cuman jadi boneka investasi," seru Alana lalu melepaskan kaitan lengannya dilengan Genta.
"Tapi Saya akan mencintaimu Alana."
"Akan? Berarti belum kan?" sendu Alana.
"Alana, kenapa Kamu berkata begitu?" tanya Genta.
'Siapa bilang? Saya sudah mencintaimu Alana.'
"Lalu? Saya akan berusaha untuk membuatmu menjadi mencintai saya Alana." Genta memegang kedua bahu Alana.
"Saya tidak butuh Bapak untuk membuat saya menjadi mencintai Bapak, Bapak aja dulu cintai saya seperti selayaknya seorang lelaki yang mencintai perempuan!" ucap Alana.
"Maksudnya?" tanya Genta bingung.
"Bapak jangan sinis terus! Saya juga punya hati perempuan. Pengen di manja, bapak jangan marah marah terus kalo ngomong sama Saya!" seru Alana sambil memanyunkan bibirnya.
Genta tersenyum menatap Alana. "Lalu sebenarnya Kau ingin dimanja? Saya tidak begitu menyukai sifat manja." Genta mengelus pucuk rambut Alana lembut.
"Tuh kan! Nih ya Pak, sama kayak pacaran. Pasangan pasti saling bermanja apalagi kalo rasa cintanya sudah tidak terhingga."
Lagi lagi Genta tersenyum karna melihat gaya bicara Alana yang menggebu gebu, lucu pikirnya.
Genta menarik lengan Alana lalu mengunci Alana didalam pelukannya." Siap little bos!"
Alana membuka matanya lebar saat Genta mengatakan hal itu. Mau ngelucu si Bapak ini?
"Baik! Laksanakan perintah!" ujar Alana sambil terkikik.
...***...
Sekarang sudah pukul 11 malam, Alana sedang duduk bersama Dita, sedangkan Genta sedang berbincang dengan teman temannya.
__ADS_1
"Al, mau minum ga?" tanya Dita yang sedang haus.
"Iya Dit, Gua haus banget nih," seru Alana.
"Yaudah Lu tunggu sini, tadi Pak Genta minta Gua jagain Lu, jangan kemana mana ya!"
Akhirnya Alana hanya menatap kakinya sambil menunggu Dita yang sedang mengambil minuman.
Alana meringis melihat keadaan kakinya sekarang, karna Ia menggunakan high heels yang cukup tinggi, mata kakinya lecet dan sedikit memerah serta tumitnya nyeri karna berdiri terlalu lama.
Dengan tiba tiba seseorang mencekram lengan Alana kuat. "Alen!"
Alana kaget dan langsung menepis cengkramannya. Alana kaget saat ada yang memanggilnya Alen, karna hanya orang itu yang memanggilnya Alen.
"Hah! Ka... Kamu ngapain di sini?" seru Alana terbata bata.
"Shuttt, jangan berisik sayang."
"Aku cuman mau ngomong sebentar aja ya sama Kamu, ada masalah yang belum selesai Aku omongin."
"Ayo, Aku mau ngomong dulu sama Kamu sebentar aja." seru orang itu sangat lembut sampai membuat hati Alana terlena.
Alana tersadar dan langsung menepis lagi pergelangan tangannya yang di cengkram orang itu.
"Mau apa lagi Satria? Aku ga mau lagi ngomong sama kamu!" teriak Alana didepan muka Satria.
Satria tertawa menatap Alana yang ketakutan, ada beberapa orang yang mulai memperhatikannya. "Aku ga butuh persetujuan Kamu bukan?"
Satria menyentuh pipi Alana tetapi saat Satria ingin menyentuh dagu Alana, Alana langsung mengigit tangan Satria.
"Akhhhh!!! Bang*a*." Satria mendorong tubuh Alana keras, sampai Alana tersungkur dan pergelangannya terkilir.
Genta yang tadinya berjalan santai bersama Pian dan Davin langsung berlari kearah Alana setelah melihat Gadisnya itu sudah tersungkur di bawah.
Bhukk!!
" Wahh... Saudara yang baik harus selalu melindungi saudaranya kan ya? Tapi kayaknya pernah telat ya? Mau saya katakan sekarang Ala--"
Bhukk!!
Kali ini Bara lah yang meninju wajah Satria sampai bibirnya mengeluarkan banyak darah.
Satria mengusap darah yang mengalir dari mulutnya dan tertawa." Wah, hebat! Ada teman lama, apa kabar teman lama?" seru Satria sambil tertawa hambar.
"Kalo sampe Lu nyentuh Alana satu jengkal aja, Gua jamin Lu mati di tangan Gua!! " Bara menatap Satria mengintimidasi.
"Hahahaha! Bisa Lu bunuh Gua? Kan Gua sahabat tersayang Lu." seru Satria, sekarang ia mengeluarkan mimik muka yang sedih.
"Gua pastiin Lu bakalan mati kalo sampe Alana Lu sentuh lagi!!" Alan berkata tepat didepan muka Satria.
Saat Bara dan Alan fokus pada Satria. Genta menggendong Alana saat mengetahui bahwa kaki gadisnya itu terkilir, membawanya memasuki hotel. Sedangkan Pian dan Davin mencoba melerai perkelahian itu dan Dita ikut masuk kedalam hotel bersama Alana dan Genta.
Tadinya Dita ingin membantu melerai, tetapi Alana memintanya untuk ikut masuk saja kedalam Hotel. Karna takut ada apa apa terlebih Dita ini perempuan.
..._______________________...
...Hii selamat membaca...
__ADS_1
...Mohon maaf Author lagi sakit gigi, hihihihi....
...Semua hal yang ada di dalam cerita ini hanya fiktif belaka....