
Kini Alana sedang ada di sebuah ruangan, ada Genta dan beberapa Dosen lainnya, bahkan ada wakil Dekan dan wakil Rektor.
Alana dan Bella sedang disidang sekarang, mereka bertengkar dan merusak fasilitas kampus. Dita dan orang orang yang tadi membantu Bella juga menunggu diluar, mereka akan dipanggil nanti untuk dimintai keterangannya.
Wali Bella yaitu kedua orang tuanya sudah datang, sedangkan Alana hanya memanggil Alan untuk menjadi walinya. Tadi saat Alan mengetahui Alana bertengkar dengan Bella, Dia biasa saja karna Alana ini memang tidak jarang adu mulut dengan teman temannya.
Tapi saat bertemu langsung dengan Alana, Alan kaget karna melihat wajah Alana. Bibirnya mengeluarkan darah dan pipinya memerah, bisa dipastikan perkelahian ini bukan perkelahian adu mulut ditambah Dita mengabari Alan bahwa Alana jatuh menimpa pintu kaca sampai pintu kaca itu pecah.
Alana meminta Alan untuk tidak mengabari Mamah dan Papah, ini masalah Alana, dan Alana sudah besar Ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Alana hanya butuh wali, bukan pembela.
"Ini bukan penyerangan! Ini pembelaan." Ibu Bella berdiri dari duduknya, matanya menatap Alana sengit.
"Mohon untuk tenang!" seru Genta tegas, auranya sangat mendominasi.
Genta menatap Alana. "Silahkan Kamu berbicara."
Alana mulai menceritakan tentang dirinya yang bertengkar dengan Dita lalu didatangi oleh Bella yang mencoba memprovokasinya untuk bertengkar lebih hebat dengan Dita.
Alana menceritakan semuanya, Alana juga menceritakan tentang dirinya yang menumpahkan jus alpukat busuk yang Bella kasih untuk dirinya siram ke Dita dan meludahi Bella,
"Cukup!" seru Genta.
"Kamu Bella."
"Alana duluan yang memancing emosi Saya terlebih dahulu, Ia mengatai Saya tidak pantas untuk hidup dan tidak pernah jadi lebih baik dari siapapun." seru Bella memelas.
Alana tercengang dengan ucapan dan nada bicara Bella. Astaga, Bella benar benar licik dan munafik.
Alana mendengus mendengar ucapan Bella." Bukannya Lu yang mencoba memprovokasi Gua supaya bertengkar dengan Dita?"
" Saat itu juga Kamu memang sedang bertengkar dengan Dita kan! Aku cuman mau kasih tau doang kalau Kamu hanya dimanfaatkan!" ujar Bella, nadanya halus dan seperti orang yang lemah.
"Berarti memang Alana ini bukan anak baik baik, buktinya Dia bahkan bertengkar dengan sahabatnya sendiri!" Ayah Bella bangkit dari duduknya dan membela Bella sambil menunjuk nunjuk Alana.
Alana tersenyum tipis. "Mohon maaf Bapak yang terhormat, Bapak tidak pernah punya sahabat sekoneksi? Pertengkaran itu wajar dan memang masih batas wajar, Saya dan Dita tidak sampai melukai satu sama lain."
__ADS_1
"Tetap saja pertengkaran itu tidak baik!" kini Ibu Bella ikut membela Bella.
"Saya tidak ingin anak saya satu kampus dengan anak anak sampah seperti ini! Apalagi satu kelas? Ya Tuhan, maafkan Mommy Bella tidak memperhatikan lingkungan pendidikanmu dengan baik!" seru Ibu Bella dramatis.
Demi apapun kalau saat ini Alana bukan sedang disidang Alana pasti akan tertawa terbahak bahak.
"Jikalau Saya ini sampah lalu si Tukang Bully itu apa?" seru Alana tersenyum sinis.
"Tidak ada bukti bahwa anak saya membully kamu!!" teriak Ibu Bella. Sedangkan Bella sedari tadi hanya diam menunduk, seperti anak lugu yang lemah lembut.
"Ini sekolah apa? Tidak punya cctv? Saya bayar mahal loh untuk bersekolah disini!"
"Cctv di kelasmu sedang ada perbaikan, cctv itu mati sejak sebulan yang lalu!" seru wakil Dekan menatap Alana sinis.
"Mengapa tidak ada perbaikan? Memangnya lama mengurus sebuah cctv saja? Bukankah ini sekolah orang kaya dan murid murid pintar saja? Seharusnya sekolah ini kaya dan mampu untuk membeli cctv yang baru kan? Atau kalian makan uangnya?" tanya Alana bertubi tubi.
"Alana jaga sopan santun mu!!" teriak Bu Dewi.
"Kamu tidak pernah diajari atitude oleh orang tuamu??!!" bentak Ayah Bella.
Alana tersentak mendengar bentakan Ayah Bella yang menggelegar, Alan sudah berdiri ingin membela Alana tetapi Alana sudah memperingati Alan untuk diam saja, Alana bisa membela dirinya sendiri.
"Tidak bisa! Itu tidak adil, bagaimana jikalau anak itu malah melukai anak kesayangan Saya Bella!" ujar Ibu Bella seperti ingin menangis.
'Wah satu keluarga hidupnya penuh drama ya!!' seru Alana di dalam hati.
"Saya wali Alana menjamin Dia tidak akan melukai siapapun!" seru Alan. Alana menatap sinis Alan, sudah Alana bilang Alan hanya tinggal duduk diam saja menjadi walinya.
"Oke!" seru Genta yang sedari tadi diam.
Ayah Bella tidak terima dan bangkit lagi dari duduknya. "Loh tidak bis--"
"Lalu Anda ingin merendahkan anak itu? Biarkan dia melakukan pembelaan, jika dilihat dari bukti yang ada, sudah bisa di pastikan siswi Alana lah yang mendapatkan perundungan dilihat dari banyaknya luka yang Dia terima!" seru Genta tegas, Wakil Dekan serta Wakil Rektor menatap Genta sinis.
Alana memutar bola matanya jengah sambil menatap Genta yang menatap Alana sinis.
__ADS_1
Alana bangkit dan mengambil ponselnya yang di taruh tepat di atas meja tempat duduk Genta.
Alana kembali lagi ketempat duduknya dan mulai membuka isi ponselnya, Bella masih saja diam raut wajahnya benar benar memperlihatkan bahwa dirinya sangat sedih.
Alana tersenyum, Kerja bagus Dita bisa mendapatkan rekaman cctv kelasnya dan semua kejadian yang terjadi di kelas saat itu terekam dengan baik. Sepertinya ini juga berkat bantuan Rey.
Alana membalikkan ponselnya, memperlihatkan rekaman yang terekam dengan jelas di dalam ponsel Alana.
"Bukan kah ini sudah jelas? Ini rekaman kamera cctv kelas saya beberapa jam yang lalu?" tanya Alana sambil tersenyum sinis.
Bella bangkit dari duduknya. "Alana maafin aku Al, aku ga sengaja dorongan kamu! Kalau ada perkataan yang membuat hatimu sakit aku minta maaf Al!!" seru Bella memelas.
"Bell, Lu tuh munafik banget sih?"
"Mau Gua videoin terus Gua sebar gitu supaya seluruh mahasiswa disini tau kelakuan bejat Lu!!" ujar Alana.
Ayah Bella bangkit dan bergegas menghampiri Alana.
Plakk!!!
Tamparan itu tepat mendarat di pipi Alana. Alana meringis merasakan pipinya memanas. Genta terkejut melihat Alana ditampar. Tangannya mengepal kuat.
Alan bangkit dari duduknya dan hendak meninju wajah Ayah Bella, kalau saja bukan Alana lah yang menahannya mungkin Ayah Bella sudah harus dibawa kerumah sakit sekarang.
"Alan Gua ga papa!!" teriak Alana.
"Gua benci banget Al kalo Lu udah bilang Lu ga papa!!! Buat Gua kalo Lu udah bilang Lu ga papa itu artinya Lu sakit Al, Lu butuh Gua tolongin. Di dunia ini Lu ga hidup sendirian semua berjalan karna ada orang lain Al!!" teriak Alan.
Alana menatap mata Alan lekat lekat, mereka membagi luka batin bersama. Mungkin itu adalah kelebihan dari mempunyai saudara kembar, mereka bisa berkomunikasi tanpa suara. Mereka bisa mendengarkan merasakan perasaan satu sama lain.
Alan menatap Alana sebentar lalu kembali duduk sama halnya dengan Ayah Bella.
"Satu keluarga ga pernah di ajari atitude ya sama orang tuanya, miris sekali seperti kekurangan perhatian." Cibir Ibu Bella.
Alana menarik napasnya pelan. "Mohon maaf Ibu yang terhormat, Mamah Saya selaku perempuan yang paling saya jaga hati dan martabatnya selalu mengajari Saya untuk menjadi kuat saat membela kebenaran. Untuk Saya sebuah atitude adalah tingkah laku yang mencerminkan perilaku seseorang dan bukan kepalsuan seseorang , kalau begitu Saya rasa atitude Putri Ibu ini adalah pembohong dan munafik ya?" seru Alana tenang.
__ADS_1
"Jaga ucapan Kamu anak sampah!!!" teriak Ayah Bella
"Siapa yang anak sampah??!!"