DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (CAFE 2)


__ADS_3

Setelah Irene pergi meninggalkan cafe, Alan duduk di depan Genta yang sedang memfokuskan pandangannya ke layar laptop.


"Pak..." seru Alan.


Genta dapat mendengar itu karna airpodsnya sudah Ia lepaskan.


"Hmm..." jawab Genta.


"Alana kemana?" tanya Alan.


"Dirumah."


"Ga ikut kesini, Pak?" tanya Alan.


Kasihan Alana, Genta sangat irit bicara padahal Alana adalah tipe orang yang akan membicarakan apa yang terjadi pada dirinya hari itu.


"Engga," jawab Genta singkat.


"Kenapa?" tanya Alan gemas, susah sekali membuka pembicaraan dengan orang ini sepertinya.


"Saya tidak bilang padanya Alan, tadi Alana sudah Saya antar kerumah dan Saya pergi. Saya akan pulang ke rumah Saya untuk beberapa hari!" seru Genta yang ikut gemas karna Alan memberika pertanyaan terus menerus.


"Loh kenapa? Alana ga mau ikut emang? Mamah sama Papah juga ga ada di rumah. Dia palingan bosen di rumah."


Genta menghelai napasnya sebentar. "Kamu tidak bilang bahwa Alana sudah memiliki pacar, Alan."


Alan langsung terbelalak, sepertinya Alan mengerti dengan situasinya sekarang.


"Maksudnya, Pak?" tanya Alan untuk memastikan.


"Alana sudah memiliki pacar? Siapa itu?" tanya Genta dengan raut wajah serius.


"Alana ga punya pacar, Pak," jawab Alan khawatir, Alana belum memberitahukan pada Genta bahwa foto itu hanyalah gurawan saja?


"Siang tadi ada yang kirimin Saya foto, Alana lagi berdua dengan lelaki lain. Saya tanya Alana apakah punya pacar Dia jawab Iya," seru Genta terdengar frustasi.


"Saya sudah tanya, kata Alana foto itu dengan Rey. Mereka tidak pacaran, lalu siapa pacarnya?" tanya Genta kebingungan dengan raut wajah yang kesal.


"Loh Bapak ga tanya siapa pacar Alana?" tanya Alan, dirinya juga ikut kebingungan. Pasalnya Alana tidak pernah berpacaran, hubungan Alana dengan lelaki itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah hubungan pacaran.


"Sudah! tapi Kita justru malah menjadi bersilat lidah."


Genta dan Alan kini sama sama terjun kedalam pikiran masing masing, Alana tidak ada hubungan dengan siapapun di kampusnya. Alana sangat sibuk dengan Dita.

__ADS_1


Bagaimana bisa Alana punya pacar?


Karna Alan dan Genta sangat fokus dengan pikiran masing masing sampai tidak sadar Dita sudah duduk disamping Alan dengan Bill ditangannya.


"Alan..." panggil Dita.


"Alan..." panggil Dita lagi, Dita mengguncangkan badan Alan baru lah Alan tersadar dari lamunananya.


"Kenapa jadi pada ngelamun?" tanya Dita kebingungan.


"Dita..." seru Genta, jantung Dita seketika langsung berdegup kencang karna nada bicara Genta yang serius.


"Alana sedang dekat dengan siapa?" tanya Alan, sepertinya Alan tahu bahwa Genta gengsi menanyakan hal itu.


"Lah? Alana kan udah nikah, ya deketnya sama Pak Genta kan?" tanya Dita balik.


"Alana bilang Dia punya pacar..." seru Gebta frustasi.


"Bentar... Bapak cemburu yaa..." seru Dita sambil menahan tawanya.


Genta langsung membelalakan matanya. "Tidak! Saya hanya merasa seperti di selingkuhi!" ujar Genta dingin.


Dita terkikik geli dengan respon Bapak Dosennya itu, mau bilang cemburu aja gengsi.


"Saya kenal banget loh sama Alana... Bapak juga bisa tanya tanya Saya..."


"Alan yang kembarannya aja ga tau!" tukas Genta.


"Loh, Saya kan sama Alana sahabat. Beda dong, apalagi perempuan sama perempuan. Kita ga punya rahasia!" seru Dita sambil tersenyum.


"Baik, 5 point untuk Kamu. Katakan cepat!!" ujar Genta sambil mencoba memfokuskan matanya pada layar laptop.


"Alana??" seru Dita.


"Alana 5 point."


"Alana paling lagi bohong, Dia emang suka gitu. Harga dirinya tinggi kalo udah kesel sama orang lain!" seru Dita sambil kegirangan. Sangat sulit mendapatkan nilai tambahan dari seorang Gentala Priam Sanjaya.


Genta mengernyitkan dahinya kebingungan.


"Saya yakin Alana lagi bohong, Pak. Alana memang terkesan egois kalau Bapak baru kenal Dia, Alana paling anti minta maaf duluan dan harga dirinya mahal..."


"Gampang tersinggung dan mudah marah itu udah Saya hadapi pas baru kenal Alana, intinya Alana pengen di rayu, di manja dan di perlakuan seakan dirinya itu berharga seakan Kita ga mau kehilangan Dia..."

__ADS_1


"Kalau Bapak pikir Alana egois Bapak belum cukup mengerti Alana, Alana ngelakuin itu untuk tameng dirinya. Supaya ga ada yang manfaatin Dia..."


"Alana baik, bahkan Dia bisa taruhin nyawanya buat orang orang kesayangannya. Asal Bapak tau, kejadian tadi Alana bisa bertengkar dengan Bella karna membela Saya..."


"Loh Kamu di apain sama Bella??" tanya Alan.


"Shutt, Aku lagi ngomong sama Pak Genta dulu. Demi Point tambahan nih!"


"Alana bahkan hampir di keluarin, padahal tadi Bella yang akan membully Saya. Mungkin menurut Bapak Bella adalah gadis lugu lemah lembut. Tapi kelakuan dia mirip iblis, Pak!" seru Dita kini dirinya menjadi kesal.


"Dari pertama kali kita masuk universitas, Bella benar benar di sorot karna cucu pemilik yayasan dan dirinya cantik seperti dewi..."


"Akhirnya ga ada yang berani lawan dia meski di bully habis habisan, tapi Bella ga pernah nyentuh Alana karna Dia suka sama Alan," seru Dita sambil melirik Alan.


Genta sudah memfokuskan penglihatannya pada cangkir kopi di tangannya, dan memfokuskan pendengarannya pada ucapan Dita.


"Dan itu pertama kalinya mereka berantem, dulu Alana ga pernah memperduliin Bella. Tapi semenjak korban bully Bella ada yang meninggal dan Bella bahkan tidak di sidang Alana udah mulai gencar menyindir Bella di kelas."


"Tapi tentu saja semua orang tutup kuping, sampai tadi siang. Akhirnya ada yang berani membicarakan khasus itu lagi..." sendu Dita.


"Jadi Kamu pikir Alana hanya berbohong?" tanya Genta.


Dita mengangguk anggukan kepalanya. "Yaudah Pak, Saya sama Alan duluan ya!" seru Dita lalu menarik Alan keluar dari cafe.


Sebelum Dita pergi Dia sempat menyuruh Genta untuk membicarakannya lagi dengan Alana, harus tenang dan jangan saling emosi.


Genta berusaha untuk memfokuskan lagi pikirannya dengan pekerjaannya saat ini, sangat banyak dan menumpuk tetapi pikirannya sangat jauh melayang.


Genta bahkan sekarang sangat kesal karna tidak fokus, hatinya ingin pulang kerumah dan segera membicarakan hal ini dengan Alana, tetapi Genta gengsi.


Klingg!!!


Seseorang memasuki cafe saat Genta ingin memasang airpodsnya.


Itu Alana, dengan headphone berwarna hitam terpasang di telinganya. Alana memesan Strawberry Cheesecake Frappuccino lalu duduk di pojok dekat jendela tidak jauh dari tempat duduk Genta. Alana memilih kursi sofa untuk di dudukinya.


Genta sudah memfokuskan matanya pada pergerakan Alana tetapi sepertinya Alana bahkan tidak sadar ada Genta di cafe ini.


Alana duduk lalu mengeluarkan buku bukunya, buku gambar lebih tepatnya.


Mulai memberikan goresan goresan halus pada kertas putih itu.


Genta sedikit tersenyum melihatnya, wajah Alana yang serius membuat wajahnya menjadi cantik dan terlihat lebih dewasa.

__ADS_1


__ADS_2