DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (PULANG)


__ADS_3

Alana kini sudah berada dikamarnya, semalam baru saja Ia dan Genta kembali ke Jakarta. Setelah berbincang di kamar mandi hotel saat mereka di Bali, Alan dan Genta memutuskan untuk pulang pada malam harinya dengan menggunakan pesawat komersial karna pesawat pribadi mereka sudah kembali pada pagi hari setelah acara resepsi pernikahan.


Tiket pesawat mereka yang seharusnya digunakan pada minggu depan akhirnya hangus karna harus kembali lebih cepat.


Kini Alana sedang berguling guling dikasurnya sedangkan Genta Berada di dalam kamar mandi sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.


Tadi Alana ingin tidak datang ke kampus karna izinnya masih lama, tapi Genta memaksa Alana untuk kembali ke kampus hari ini.


'Katanya ga mau ketinggalan materi kuliah!'


Alana sudah siap karna hari ini ada kelas pagi dan Ia pergi olahraga pagi hari ini.


*Ceklek*


Genta keluar dengan kaos serta boxer yang menutupi tubuhnya dan handuk yang menempel di kepalanya, air dari rambut Genta yang basah masih bercucuran. Alana sudah menyiapkan pakaian Alana di kasur tepat disebelahnya.


Alana asik memainkan handphone tanpa memperdulikan Genta yang sedang memakai bajunya. Alana sudah biasa dengan pemandangan seperti itu, karena Alan sering meminjam kamar mandinya ketika water heaternya rusak.


"Alana, bisa pakaikan saya dasi?" seru Genta sambil memberikan dasi.


"Emm, terakhir Saya pakai dasi pas SMA, Pak. Itu juga seringnya Alan atau Dita yang pakein," seru Alana ragu.


"Ga papa, cobain dulu nih." Genta menaruh dasinya keatas tangan Alana.


Alana menatap dasi ditangannya. "Nundukan Bapaknya Saya ga sampe!" seru Alana karna Ia kesusahan saat ingin mengalungkan dasinya.


Genta akhirnya meregangkan kakinya sampai kepalanya sedikit diatas kepala Alana, tersenyum manis melihat wajah Alana yang sangat serius.


"Nah, gini kan?" seru Alana ketika selesai menyimpul dasi dileher Genta lalu menepuk nepuk pundah Genta karna puas akan hasilnya. Ini pertama kalinya Alana buat simpul dasi tanpa arahan


Hasil akhirnya memang seperti dasi yang tersimpul tetapi kurang rapih, seperti dasi yang terbalik.


Genta tersenyum lalu mengusap usap rambut Alana dengan lembut. "Terima kasih, sayang."


Alana yang mendengar itu seketika pipinya langsung merona seperti kepiting rebus.


"Apaan sih Pak! Gombal!!"


Alana membantu memasangkan Jas dan langsung mengambil tasnya dan tas kerja Genta. Mereka turun kebawah untuk sarapan.


......_____________________......

__ADS_1


Genta dan Alana duduk di meja makan bersama dengan Alan dan Mamahnya, Papahnya sudah duluan sarapan dan pergi karena ada urusan kantor.


Alana mengambil roti tawar dan mengoleskan rotinya dengan selai strawberry dicampur dengan selai coklat lalu menaruhnya di atas piring Alan dan membuat lagi roti yang sama untuk Ia makan.


"Loh Alana, untuk Genta mana?" tanya Mamah fara.


"Eh iya maap, hehehe."


"Bapak mau makan apa?" tanya Alana ketika melihat Genta hanya meminum teh hangat untuk sarapannya.


"Tidak papa Alana, Saya tidak biasa sarapan pagi."


"Loh kok ga biasa? Sarapan Pak biar ga sarap nanti," seru Alana yang mendapat tatapan tajam dari Mamahnya. Alana hanya tertawa kecil ketika melihat Mamahnya yang menatapnya tajam.


Akhirnya Alana mengambil satu tangkup roti lalu mengoleskan kedua sisinya dengan selai strawberry ditambah dengan selai coklat.


"Saya tidak bisa makan roti pagi pagi, Alana," ujar Genta ketika melihat Alana menaruh satu tangkup roti diatas piringnya.


"Cobain dulu Pak, biar kuat kayak badak!" seru Alana sambil melirik Alan.


"Enak Pak, cobain deh bikinan Alana ga ada yang nyamain. Padahal selai sama cara bikinnya sama," seru Alan sambil memakan rotinya.


Genta melirik sebentar Alan serta Alana yang sudah memakan rotinya dan mulai ikut memakan roti buatan Alana.


Genta, Alana dan Alan menghabiskan makanannya dengan tenang sedangkan Mamah sedang membaca koran sambil meminum teh hangat. Itu kebiasaan Mamah, yang turun dari Eyang putri.


...****...


Alana mengambil helmnya di tempat rak helm yang berada di parkiran rumahnya.


"Alana, Kamu Saya antar!" seru Genta dan menyalahkan mobilnya.


"Ga usah Pak! Udah jam 7 ini kelas Saya mulai jam setengah 8." Alana mulai memasangkan helmnya dikepala.


"Tuh Saya bareng Alan biar pulangnya bisa bareng lagi," seru Alana hendak naik keatas motor Alan.


Alan membuka kaca helmnya. "Ya ilah Al! Udah itu bareng Pak Genta aja, Gua mau jemput Dita!"


"Lu udah Gua buatin sarapan juga, bukannya terimakasih gitu anterin Gua," seru Alana sambil memukul pundak Alan, biasa wanita kalo kesel refleknya suka mukul.


"Udah, Lu bareng Pak Genta aja gih nanti makin lama makin telat Lu!!" seru Alan sambil mengegas motornya dan meninggalkan Alana yang masih berdiri.

__ADS_1


"Ishh awas aja ya!! Kalo Gua pindah rumah ga usah mampir buat sarapan!!!" teriak Alana sambil membuka kaitan helmnya.


Alana berusaha membuka kaitan helmnya, tetapi sepertinya menyangkut karna keras sekali tidak bisa ditarik. Alana mulai menarik narik dengan keras karna Ia sudah emosi.


Genta tertawa melihat ekspresi Alana yang kesal dan mulai membantunya melepas kaitan helm.


Tubuh mereka berdua sangat dekat karna Genta harus menunduk untuk melihat kaitan pada helmnya.


'Shit! Pakk Saya mau jantungan ini!!!'


*Ceklek*


Setelah terbuka Genta membantu mengangkat helm dari kepala Alana sedangkan Alana merapihkan rambutnya yang berantakan. Muka Alana lagi lagi merah seperti kepiting rebus.


"Ayo bareng Saya, sebenar lagi Kamu telat."


Akhirnya Alana pergi ke kampus bersama Genta, Genta tidak pergi ke kampus hari ini. Ia akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan masalah masalah perusahaan yang sedang mengalami penurunan saham.


Alana diam sambil memandang ke arah luar jendela, semalam hujan dan beberapa jalan terdapat genangan air serta pohon pohon masih ada yang basah dedaunanya.


Pemandangan yang seperti inilah yang Alana suka, Jakarta dengan kesejukannya setelah hujan.


..._____...


Setelah mengantar Alana ke kampus Genta langsung tancap gas menuju kantornya yang berada dipusat kota.


Tempat Gedung gedung tinggi berada.


"Pian, bagaimana keadaan saham perusahan sekarang?" tanya Genta sambil berjalan menuju lift eksklusif.


Pian adalah sahabat sekaligus menjabat sebagai asisten eksekutif Genta di perusahaannya. Genta sangat mempercayai Pian.


"Kita akan mengadakan meeting bersama pemegang saham terbesar dan masalah ada di Grup Pesaing. Mereka menurunkan harga saham lebih dari 50% untuk pembelian saham diatas 200 juta dan memberikan banyak diskon yang menarik hati para investor kecil." Pian mulai membuka Ipadnya dan munculah diagram yang menjadi perbandingan omzet perusahaan mereka selama benerapa bulan ini.


"Katakan pada karyawan untuk tidak panik, kita akan memutar balikan telapak tangan."


"Kita majukan proyek pembangunan Mall dipusat kota, lakukan iklan besar besaran pada para investor. Katakan akan ada hotel yang dibangun diatas mall tersebut."


"Mohon maaf, Pak. Apakah dasinya bisa diperbaiki?" tanya Pian sopan. Meskipun mereka bersahabat tetapi jika menyangkut pekerjaan mereka sangat profesional.


"Tidak usah, ini hasil kerja keras Istri Saya pagi ini," seru Genta tegas.

__ADS_1


"Baik Pak, para pemegang saham telah berada diruangan meeting," seru Pian lalu membukakan pintu untuk Genta.


__ADS_2