
Sekarang Alana duduk tepat di sebelah Genta, tadi sebelum pulang Alana di panggil ke ruang Dosen. Alana diberi tahu bahwa dirinya tidak akan di keluarkan, tetapi dengan persyaratan.
Alana bisa melanjutkan studynya bila dapat nilai ujian di atas rata rata karna selama ini Alana selalu mendapat nilai pas rata rata untuk ujiannya.
Sebenarnya Alana sanggup untuk tidak melanjutkan studynya di sini, karna memang tidak ada ketertarikan di dalam dunia bisnis. Alana hanya ingin menjadi seorang seniman, entah itu penampil atau pembuat karya seni lukis.
"Pak...." seru Alana membuka percakapan.
Genta diam mengacuhkan Alana, dirinya fokus mengendarai mobil menuju rumah orang tua Alana.
"Mamah sama Papah ke Bali lagi," ujar Alana.
"Iya, Saya sudah tau." Genta fokus dengan jalanan tanpa melirik Alana sekalipun.
Alana menatap Genta kebingungan. "Bapak kenapa sih?" tanya Alana.
"Nanti Saya turunin Kamu di rumah, Saya mau pulang kerumah dulu," ujar Genta.
"Loh Bapak ga pulang ke rumah Mamah?" tanya Alana kini raut wajahnya menjadi sedikit kesal.
"Tidak!" ujar Genta dingin.
"Ouh yaudah," timpal Alana, Alana menyedekapkan lengannya lalu memalingkan wajahnya untuk melihat jalanan Kota yang sedang ramai ini. Hari sudah mulai petang dan orang orang berbondong bondong pulang kerumah masing masing.
Setelah percakapan singkat itu Alana dan Genta hanya diselimuti oleh kesunyian, bahkan tidak ada suara radio di dalam mobilnya, hanya kesunyian dan keramaian di dalam masing masing pikiran yang meramaikan isi pikiran kedua insang tersebut.
'Kenapa sih? Ngga ngerti deh sama laki laki,' seru Alana di dalam hatinya.
'Huh! Saya bahkan sudah terbawa permainannya, memang seharusnya Kita tidak mengganggu kehidupan masing masing. Kita hanya di jodohkan,' ujar Genta di dalam hati sambil meremas stir mobilnya.
'Atau Dia belum sempat memutuskan pacarnya? Secara pernikahan Kita sangat mendadak...'
......_______________......
Alana dan Genta sudah sampai di depan rumah kediaman orang tua Alana, saat sampai Alana langsung turun dan bergegas memasuki kamarnya. Kakinya bahkan dihentak hentakan saking kesalnya Ia hari ini.
__ADS_1
' Ada apa sih? Perasaan tadi Alana bangun baik baik aja kenapa malah jadi Bad Day!!' teriak Alana di dalam hatinya.
"Alana!" teriak Bi Puan.
"Mau makan malam apa? Biar Bibi masakin, tadi kata Mas Alan Dia akan pulang untuk makan malam!!" seru Bi Puan di balik pintu kamar Alana yang tertutup.
"Ikan Gurame aja Bi!! Alana lagi kesel nih hari Ini," seru Alana menyaut dari dalam kamarnya, Alana lemas dan mengantuk. Hari ini lelah sekali, Bi Puan juga akan mengerti dan sudah bisa membaca emosi Alana.
Akhirnya sebelum menyentuh tempat tidurnya Alana mandi sebentar karna kejadian hari ini banyak menguras tenaga sehingga dirinya berkeringat, belum lagi jus alpukat itu. Alana harus bersih bersih sebelum timbul anak anak baru di wajahnya.
......****......
Setelah tadi mengantarkan Alana kembali kerumahnya Genta hanya mengendarai mobilnya asal. Dirinya bingung, sebenarnya siapa gerangan pacar Alana ini? Rey bukan? Atau lelaki waktu di pesta pernikahannya?
Satria kah? Tapi seharusnya bukan juga! Lalu siapa gerangan yang Alana sebut sebagai pacarnya itu.
Genta pikir Alana memang sedang single sehingga Dia mau menerima perjodohan ini, seharusnya kalau memang sudah punya ya tinggal tolak saja pernikahannya. Kalau begini kan jadi sangat merugikan.
Seharusnya juga Genta harus berada di kantor, tetapi pikirannya terbang jauh memikirkan Alana, kasihan Pian Dia harus mengerjakan semuanya sendiri tanpa Genta. Memang Genta sudah mengarahkan Pian sih, semoga saja Pian mengerti.
Genta memarkirkan mobilnya di sebuah cafe tidak jauh dari rumah Alana. Seharusnya pilihannya adalah kantor atau rumah, tetapi sepertinya berdiam diri di cafe bukan sesuatu yang salah. Genta tetap bisa mengerjakan pekerjaan pekerjaannya yang menumpuk.
Genta sangat fokus dengan dokumen dokumen yang Dirinya baca sekarang, padahal banyak juga yang fokus memandanginya sedaritadi.
Klingg!!!
Pintu cafe terbuka, masuklah dua sosok manusia dengan menautkan kedua telapak tangannya. Memang sedang jatuh cinta itu indah rasanya.
Mereka adalah Alan dan Dita, karna cafe ini dekat dengan rumah Alan akhirnya sebelum Alan kembali kerumah, Mereka memutuskan untuk mampir sebentar untuk membeli minuman.
"Loh Pak Genta?!" seru Alan sambil menunjuk Genta. Genta tidak mendengar Alan sehingga dirinya masih fokus dengan dokumen dihadapannya.
"Eh Pak Genta ngapain? Bukannya tadi pulang sama Alana? Alana kayaknya ga ada deh, padahal aku ada urusan sama Alana nih!" seru Dita sambil menatap ke sekeliling ruangan cafe ini.
"Paling Alana di pulangin, tidur Alana kalo jam segini mah!" seru Alan.
__ADS_1
"Yaudah Kamu pesen aja, nanti duduk di tempat Pak Genta aja. Tuh semuanya penuh!" ucap Alan.
"Eh... Jangan deh!! Takut ah mending Kita langsung ke rumah aja, Aku mau ketemu Alana!" ucap Dita menolak.
"Udah sebentar aja, tuh ngantri juga kayak. Kamu pesen dulu nanti nunggunya disitu, Kita langsung pulang kok, Sayang." Alan mengacak rambut Dita, Dita mengerucutkan bibirnya kesal.
"Lama rapihinnya!!"
Akhirnya Dita memesan beberapa minuman untuk Dirinya, Alan dan Alana. Sedangkan Alan berjalan menuju Genta yang masih fokus.
"Pak--" seru Alan tertahan.
"Hai, Mas. Maaf Aku duduk di sini ya, mejanya penuh semua!" seru seorang gadis yang merebut kursi yang ingin Alan duduki, Alan bersedekap dada melihat hal itu. Ingin tau apa yang akan di lakukan Iparnya itu.
Genta tidak bergeming, Genta terlalu fokus pada pikiran dan lagu yang memenuhi isi kepalanya sehingga suara suara lain tidak dapat Ia dengar.
"Mas..." seru wanita itu mendekatkan dirinya. Dia duduk tepat di depan Genta karna itu meja untuk 4 orang.
Genta melirik sebentar gadis itu dan menatapnya sinis.
"Maaf, meja lain sepertinya penuh! Boleh Saya duduk di sini?"
Genta meliriknya sinis dan menggelengkan kepalanya.
"Ga ada suara artinya boleh ya!" seru gadis itu antusias tetapi kesan anggun tidak hilang sama sekali.
"Aku Irene..."
Genta memfokuskan penglihatannya pada layar laptop sekarang dan tidak menghiraukan Irene yang menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
Irene tertawa anggun, lalu berdiri dari duduknya langsung meraih tangan Genta untuk bersalaman. Irene pikir Genta sedang jual mahal terhadap dirinya, tetapi tangan Irene langsung ditepis oleh Genta tepat saat tangan itu hendak menyentuh tangan Genta.
"Apa yang anda lakukan!" seru Genta menatap Irene sinis, Irene yang ditatap seperti itu langsung ketakutan. Raut wajahnya menjadi seperti orang yang ingin menangis.
Prok!! Prok!! Prok!!
__ADS_1
Alan bertepuk tangan lalu duduk di samping Irene. "Maaf Mba, udah sold out. Udah ada pawang yang nungguin dirumah!" seru Alan dengan tatapan mengejek.
Irene langsung bangkit dari duduknya lalu menyambar tas dan minumannya, pergi meninggalkan cafe dengan wajah kesalnya. Seumur hidup baru kali ini Irene merasakan di tolak lelaki, biasanya Dirinya lah yang dikejar. Tetapi sepertinya menarik sih!