DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (CAFE 3)


__ADS_3

Genta memandang Alana yang terlihat mahir saat memegang pencil dan kertas itu. Tersenyum saat Alana beberapa kali meringis kesal.


Pandangan Genta teralihkan karna merasa banyak pasang mata yang menatap Alana juga.


Genta meremas tangannya lalu membereskan semua barang barangnya dan duduk dihadapan Alana.


Alana terlonjak kaget sampai buku gambarnya terlempar saat sadar dihadapannya sudah terduduk Genta sambil memandanginya.


Alana buru buru bangun lalu mengambil buku gambar itu dan berusaha untuk menyembunyikannya dari Genta.


"Pak, jangan bilang Papah ya!" seru Alana memelas.


Genta mengangkat satu alisnya bingung.


"Jangan bilang Papah Saya ngegambar disini, Pak!" mohon Alana dengan muka memelasnya.


"Kenapa?" tanya Genta.


"Nanti Papah marah..."


"Oke, tapi ada syaratnya." Genta menyilangkan kakinya lalu menyenderkan bahunya pada bangku yang Genta duduki.


"Apa?" cibir Alana.


"Jawab pertanyaan Saya jujur..." ujar Genta menatap tajam bola mata Alana.


Yang di tatap hanya diam kebingungan.


"Kamu punya pacar Alana?" tanya Genta.


"Ck, ya punya dong!" jawab Alana, kini Alana meraih buku dan pencilnya dan mulai melanjutkan gambarnya lagi.


"Saya lagi ngomong Sama Kamu, Alana!" ujar Genta kesal.


"Saya lagi ngegambar, Pak!" tukas Alana yang mulai kesal lagi.


Genta mendengus lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku Jasnya, menekan beberapa tombol dan mulai menelepon seseorang.


"Halo, Pah..." seru Genta.


Alana langsung terbelalak kaget dan menatap Genta memohon, sedangkan yang di tatap mengeluarkan sirmiknya.


Alana menggeleng lalu menyilangkan tangannya dengan raut wajah memohon.


"Pak, jangan...." seru Alana pelan terlihat seperti ingin menangis.


"Iya, Pah... Genta lanjut kerja dulu Alana juga lagi sibuk..." ujar Genta pada ponselnya lalu beberapa detik kemudian ponsel itu masuk lagi ke dalam saku jas Genta.


Alana menatap sinis ke arah Genta. "Kenapa, Pak?" tanya Alana.


"Siapa pacar Kamu?" tanya Genta sinis.


"Kenapa emangnya? Bapak cemburu?!" seru Alana sinis. Sekarang buku dan pencilnya tergeletak di atas meja.


"Saya tanya ya Kamu jawab, Alana!" seru Genta dengan nada dinginnya, raut wajahnya berubah menjadi sangat kesal.

__ADS_1


"Apaan sih, Pak? Saya ga ngerti deh sama Bapak!" ujar Alana yang terlihat tidak kalah kesal.


Genta mendengkus. "Ternyata Kamu juga selingkuh, Alana..."


Brak!!


Alana memukul meja cafe saking kesalnya.


"Pacar Saya kan Bapak!!! Bapak lupa???" bentak Alana.


Seisi cafe itu menatap heran ke arah Genta dan Alana.


"Jaga sopan santun mu Alana!!" bentak Genta.


"Saya tidak percaya itu, Kita menikah bukan pacaran Alana!" seru Genta dingin dan menusuk.


"Ouh berarti Bapak yang lupa! Dulu sebelum daki gunung pangrango kan Bapak bilang Saya pacar Bapak!!" seru Alana kesal.


Genta mengernyitkan dahinya bingung sambil menatap Alana yang menatapnya dengan raut wajah yang kesal.


"Ck, udah ah. Saya mau pulang!" seru Alana kesal.


Alana meraih Tas dan buku bukunya lalu memasukan buku buku itu kedalam tasnya dan bangkit untuk meninggalkan cafe.


Tepat saat Alana berjalan melewati Genta tangannya di rain dan di tarik oleh Genta, sehingga badan Alana yang tidak ada persiapan terjatuh.


"Aaa..." teriak Alana kaget.


Alana tidak jatuh kelantai, melainkan jatuh terduduk di pangkuan Genta. Genta menatap menggoda kearah Alana sedangkan Alana menatapnya kaget.


"Pak apaan sih!! Malu diliatin orang!!" seru Alana sambil mendorong Genta dan bangkit dari duduknya.


"Kan Bapak yang tarik tangan Saya!!!" kesal Alana.


Alana berdiri dan bersiap untuk berjalan lagi sebelum Genta menariknya, tapi naas. Genta bangkit dari duduknya lalu mengangkat tubuh Alana.


"Akhh... PAK TURUNIN!!!" teriak Alana.


Genta mendudukan Alana di sofa yang tadi Alana duduki lalu Genta mendudukan dirinya di samping Alana.


"Temani Saya mengerjakan dokumen kantor..." seru Genta lalu memutarkan laptopnya menghadap ke arahnya.


Alana terbelalak karna perilaku Genta terhadapnya, apa sih yang Genta inginkan? Nanti baik, nanti dingin. Jadi bingung Alana.


"Saya mau pulang aja, Pak. Malu itu diliatin!" ujar Alana kesal.


"Selesaikan gambarmu dulu." seru Genta.


...-------...


Akhirnya Alana menemani Genta untuk menyelesaikan pekerjaannya, sekarang pukul 9 malam dan mereka masih duduk disana.


Sudah banyak gambar yang Alana buat, Alana senang sih karna bisa menggambar dengan tenang tadi Alana juga membuat sketsa gambar Genta yang sedang fokus.


Alana juga sudah makan banyak sekali cake, macaron.

__ADS_1


"Pak... Ga mau pulang?" tanya Alana.


"Tunggu sebentar, ada dua laporan yang harus saya baca terlebih dahulu," ujar Genta.


Alana sudah menguap beberapa kali, mengucek matanya dan sesekali tertidur dan terbangun lagi.


"Saya bawa motor, Berarti Saya harus pulang sendiri, Pak. Nanti motor Saya gimana?" seru Alana.


Alana cape, hari ini sangat melelahkan dan sekarang yang ada di pikiran Alana adalah tiduran dikasurnya.


"Tidak!" ujar Genta tegas.


"Loh nanti motornya gimana, pak?" tanya Alana dengan raut wajah kebingungan.


"Nanti suruh Pian bawa motormu pulang!" seru Genta tanpa menoleh.


"Mendingan Saya aja deh Pak, rumah kan deket gitu!!"


"Kamu ngantuk Alana, tunggu Saya harus cepat selesaikan ini. Lagi pula Pian memang harus bertemu Saya... " ujar Genta.


"Makanya Saya ngantuk Bapak!!" ujar Alana kesal, Alana menatap Genta sambil memanyunkan bibirnya.


Pada Akhirnya Alana tetap duduk di sofa cafe itu. Sambil menahan kantuk dan mencoba menggambar sesuatu.


"Kamu mendingan selesaikan tugas..." ujar Genta.


"Saya ga bawa laptop!" seru Alana memfokuskan matanya pada buku gambar.


"Lihat dokumen ini, Kamu akan magang semester depan. Kamu harus sudah mengerti dengan hal hal berbau dokumen!" seru Genta sambil memarik pergelangan Alana.


Genta menarik Alana agar mendekat kearahnya, Alana hanya diam sambil menatap kesal Genta.


Genta mengambil buku gambar dan pencil Alana lalu menaruhnya di atas meja.


"Lihat ke sini! Ini adalah dokumen untuk surat perjanjian!" jelas Genta.


"Harus ada keterangan perjanjian dan jumlah dana yang di perlukan dari perusahaan yang ingin berkerja sama dengan perusahaan Kita," ujar Genta.


"Bersamaan dengan dokumen perjanjian ada juga proposal..."


Sejak Genta mengeluarkan suaranya untuk memberi penjelasan kepada Alana, mata Alana sudah tidak lagi bisa lagi bersahabat.


Rasa kantuk benar benar menyerang Alana dan kali ini tidak bisa di tahan.


Seakan ucapan Genta tentang dokumen itu adalah sebuah dongen penghantar tidur untuk Alana agar tertidur dengan lelap.


*dug*


Hampir saja kepala Alana terhantuk meja, Alana tertidur dan kehilangan keseimbangan kepalanya. Untung saja tangan Genta dengan sigap memegang jidat Alana sehingga tangan Genta lah yang terhantuk meja.


Dengan pelan Genta menyenderkan kepala Alana kebahunya, lalu mengusap surai hitam Alana pelan sambil tersenyum.


Akhirnya Genta melanjutkan memeriksa dokumen sambil sesekali memegangi kepala Alana yang bergeser saat posisi Alana tidak nyaman.


Genta menatap wajah Alana sebentar, dokumennya sudah selesai Ia baca dan teliti.

__ADS_1


Bibir Alana sobek karna tamparan Bella siang ini, pipinya juga memerah, sikut dan kakinya di tempeli beberapa plester.


Perempuan seperti apa sebenarnya Alana ini???


__ADS_2