
Saat ini mobil Alana sudah terparkir dengan baik diparkiran mobil yang disediakan.
Alana masih tertidur karna waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi. Sedangkan yang lain sudah bangun dan menyiapkan perlengkapannya masing masing, Dita bertugas membantu menyiapkan perlengkapan Alana.
Kenapa mereka tidak membangunkan Alana? Agar stamina Alana tetap terjaga. Karna Alana-lah satu satunya yang belum pernah mendaki Gunung.
Yang lucu tadi saat Genta hendak melepaskan pelukan Alana pada lengannya, Alana menolak untuk melepaskannya. Mungkin dia pikir bantal guling kali?
"Alana belum bangun?" tanya Alan pada Dita.
"Belum, kita nanjak jam 6.30 aja." Dita menghampiri Alan yang duduk diwarung bersama Genta.
"Bi mau teh anget yaa, satu!" seru Dita akrab.
Ini memang bukan kali pertamanya Dita mendaki Pangrango. Sebelumnya, Dita sudah beberapa kali mendaki puncak pangrango bersama teman teman Mapala atau-pun hanya sekedar kenalan.
...°°°°...
Alana bangun dari tidur nyenyaknya. Badannya sedikit sakit akibat tidur didalam mobil.
Alana keluar dan merasakan hawa sejuk mengenai wajahnya. "Wahh sampe nihhh!?" seru Alana gembira.
"Loh yang lain kemana? Gua ditinggal?" seru Alana lagi mulai khawatir.
"Bentar ini baru jam 6 lewat 10 menit?"
"Kok udah pada naik? Terus gua gimana donk?!" ujar Alana kesal.
"Bentar, kan yang mau foto gua!"
Alana memang tidak melihat Warung tempat Alan, Dita dan Genta berbincang dikarnakan tertutup mobil yang sedang parkir.
"Eh kenapa lu? Stres amat?" tanya seseorang sambil menepuk pundak Alana.
"Eh!! Main tepuk tepuk aja!" seru Alana sewet.
"Yeuh ditanya baik baik juga!" balasnya tak kalah ngegas.
"Eh Btw sendirian aja? Mau ikut rombongan gua ga tuh. Sekalian nanti baru mau naik jam 6 lewat 30 menit." ujarnya lagi.
"Emangnya ga papa?" tanya Alana memastikan
Orang tersebut menaikkan satu Alisnya. "Ya ilah sans aja kali, ayo udah bareng?" serunya sambil menarik pelan lengan Alana.
__ADS_1
"Eh jangan tarik tarik dong!!" seru Alana.
"Ck, yaudah ayo ikut ngumpul dulu disana. Nanti biar kenalan sama yang lainnya."
"Emm ga ah, nanti dulu gua mau siap siap dulu. Mendingan nanti lu jam 6 lewat 30 kesini lagi samperin gua. Kalo guanya ga ada tinggalin aja." seru Alana sambil menunjuk nunjuk mobil orang lain.
"Ouh yaudah nanti gua samperin kemobil itu ya, bentar gua mau kesana dulu. Mau no WA gua ga?" tanya orang tersebut.
"Dih maaf ya Pak! Saya masih kecil." seru Alana meledek.
"Ya elah, gua masih muda kali. Nikah aja belom."
'Lah kalah dong ama gua'
"Yaudah gua kesana dulu ya!" seru orang tersebut meninggalkan Alana. Alana melihat orang tersebut sudah menjauhinya pun langsung berjalan masuk menuju mobilnya.
Mungkin dia bisa menyiapkan sesuatu. Saat Alana memasuki mobilnya ia masih mendapati tas tas tadi malam yang sudah dipersiapkan masih ada didalam mobil.
'*Mereka ini udah pada naik apa gimana dah?'
'belum kayaknya deh. Cari aja apa ya*?' seru Alana didalem hatinya. Ia menimbang nimbang ingin mencari Dita atau diam didalam mobil.
Setelah berpikir beberapa saat Alana memutuskan untuk mencari saja mereka. Ia tidak tahan berdiam diri sendirian didalam mobil, hanya sesekali memotret beberapa pepohonan.
Pintu mobil Alana belum ia tutup makanya dia langsung saja turun dengan cara mundur karna saat ia masuk kedalam mobil posisinya belum terduduk di kursi penumpang.
...---------...
"Eh Bro gimana, mana calon pengantinnya? Ini?" tanya seseorang pada Genta sambil menunjuk kearah Dita.
"Eh bukan, Alananya masih dimobil belum bangun." seru Dita cepat.
"Ye ilah udah jam berapa ini? Tuan putri masih belum bangun juga." Pian berkecak pinggang sambil melirik kearah Genta.
"Lagian lu ada ada aja ngajakin perempuan foto Prewedding di atas gunung. Pake baju seadanya kan?" seru Pian.
Sepertinya Pian ini orangnya banyak omong ya. Dia adalah salah satu tangan kanan sekaligus sahabat dari Genta. Hobinya fotografi makanya Genta menyuruhnya untuk ikut sekaligus juga mereka memang sudah sering mendaki bersama.
"Eh kenalin gua Pian. Kac*ngnya Genta." Pian mengenalkan dirinya sendiri pada Alan dan Dita.
"Alan," Seru Alan sambil menjabat tangan Pian.
"Dita," ujar Dita juga sama.
__ADS_1
"Eh nanti ada orang baru ya Ta, dia kayaknya ketinggalan rombongan tadi gua liat celingak celinguk sendiri."
"Jadi gua ajakin bareng, nanti sebelum nanjak gua nyamperin dia dulu."
"Lumayan mau gua deketin, tadi bahkan dia ga mau gua kasih no WA, kayaknya jual mahal deh. Jadi pengen gua pepet." Pian bercerita panjang kali lebar tetapi Genta masih asik dengan coklat panasnya.
"Gua nikahin aja apa ya? Cantik banget sumpah tadi pas ketemu kayaknya bangun tidur gitu. Bangun tidur aja cantik kan ya. Ya cocok lah buat gua," seru pian lagi. Yang mendengarkan hanya Dita karna memang jujur Pian ini cukup tampan atau ya memang tampan. Stylenya juga bagus enak dipandang dan omongannya manis.
Genta menyeruput coklat panasnya sampai habis lalu pergi meninggalkan Pian, Dita dan Alan sudah paham karna sebentar lagi akan briefing. Mereka berjalan kearah mobil dan mendapati Alana yang ingin turun dengan cara mundur.
'Astaga anak ini!' seru Genta didalam hati.
*Dug*
Kepala Alana hampir terkatuk langit langit mobil bila saja Genta tidak menaruh lengannya diatas kepala Alana. Sehingga benturan itu terhalangi oleh lengan Genta yang kekar.
"Ihh Bapak kemana ajaa?" tanya Alana langsung berbalik. Sekarang Alana dan genta sedang hadap hadapan. Alana duduk didalem mobil dan genta berdiri di luar mobil sambil memegang kepala Alana.
"Lain kali kalo mau turun itu yang bener jangan mundur mundur." Genta menarik lengan Alana untuk turun dari mobil karna perjalanan mereka akan dimulai.
"Lagian Bapak saya yang lain kemana? Udah naik ya? Masa saya ditinggal sih pak."
"Belum Alana tadi kita duduk diwarung," jawab Genta lebih halus.
"Ouhhh," seru Alana sambil menggaruk lengannya.
"Nih pake tas kamu bentar lagi kita bakalan nanjak." Genta membantu memakaikan tas carrier Alana yang berukuran sedang. Karna isinya hanya pakaian ganti dan pakaian hangat Alana, air minum Sleeping bag dan alat mandi berukuran kecil.
Dita datang bersama Alan langsung membuka bagasi mobil dan mengambil tas mereka masing masing.
Sebelum Dita memakai tasnya ia terlebih dahulu mengecek keadaan Alana. Memposisikan tas Alana agar nyaman saat dibawa mendaki. Mengecek baju, celana dan sepatu yang Alana kenakan, mengeluarkan sarung tangan dan kupluk Alana dan dipindahkan pada Kantung tas bagian atas agar mudah diambil.
Sebelumnya Alana dan yang lainnya sudah ketoilet terlebih dahulu.
"Loh udah ada disini aja?" tanya Pian bingung.
"Om ped--" seru Alana tertahan.
'Ingat ini Gunung. Ga boleh bicara sembarangan Alana.'
"Ouhh udah kenal ya? Yaudah kenalin gua Pian." Pian menyodorkan lengan kanannya untuk bersalaman dengan Alana.
Selama beberapa deting Alana hanya menatap tangan itu bimbang ingin menjabat atau tidak. Tetapi setelah melihat muka Genta yang kembali sinis Alana buru buru menjabat tangan Pian.
__ADS_1
" Alana."
'Harus sopan, ingat!! Jangan bangunin beruang kutub!'