DOSEN ATAU SUAMI?

DOSEN ATAU SUAMI?
DAS (MERONA)


__ADS_3

Alana masih asik dengan mimpinya tanpa menyadari matahari sudah mulai naik dan hari sudah mulai siang.


Genta memandang wajah istrinya sambil mengelus elus rambut Alana, kegemaran baru Genta sepertinya.


'Dulu kita pernah dekat Alana, dan Saya baru sadar setiap kali saya menatap kamu. Saya jatuh cinta berulang kali.'


Sepertinya mereka semakin akur, Alana terlihat sangat nyaman tidur di dalam dekapan Genta tadi malam. Begitu juga Genta yang tangannya tidak pegal saat menjadi bantal untuk kepala Alana.


Mereka menghabiskan malam pertamanya dengan perbincangan perbincangan penting mengenai kepribadian dan masalah pribadi mereka masing masing. Mencoba saling mengerti satu sama lain.


Genta ingin menutup matanya lagi karna dirinya masih lelah setelah acara semalam.


Kring!! Kring!!


'sial!'


Handphone Genta yang berada di atas nakas berdering nyaring, nyaris membangunkan Alana dari mimpi indahnya. Buru buru Genta mengambil handphone itu dengan satu tangannya dan mengecilkan volumenya.


Genta perlahan mengangkat kepala Alana lalu memindahkannya keatas bantal dan bangun dari kasur, Genta pergi ke dalam kamar mandi karna sepertinya panggilan itu penting.


......_____________......


Alana bangun setelah dirasa Genta tidak lagi memeluknya.


'Gila! Itu mimpi ya?' Alana terperajat dari tidurnya.


"Yah, mimpi doang ya? Pak Genta kayaknya tidur dikamar lain deh," seru Alana pelan.


"Ck, kalo beneran enak banget kali ya? Kalo kayak gitu bahagia sih Gua jadi istrinya."


Alana bangkit dari tempat tidur dan meminum air putih yang tersedia diatas nakas samping tempat tidurnya. Setelah itu Alana langsung membuka handphonenya dan menemukan banyak sekali telpon dari orang tidak dikenal.


Alana langsung memblokir nomer itu dan mematikan handphonenya. Ia menghelai napasnya berat.


'Sial! Jangan lagi deh!'


Alana memutuskan untuk pergi ke kamar mandi setelah dirasa dirinya bingung ingin melakukan apa, Alana mulai berjalan kearah kamar mandi dan menemukan kamar mandi yang tertutup rapat.


Ceklek!!


Alana membuka pintu kamar mandi pelan.


"---tapi Saya sedang Honeymoon, tidak bisakah kalian orang kantor yang mengurusi masalah ini? Setidaknya setelah 2 hari saya bisa pulang, tapi kalau untuk besok Saya rasa Saya akan sangat mengecewakan istri Saya! " Genta sedang mondar mandir di dalam kamar mandi dan terlihat sangat raut wajah marahnya. Genta juga memijit mijit pelipisnya.

__ADS_1


'*Loh ternyata si Bapak ada disini.'


'Yang semalem beneran ga ya*??'


"Lalu seburuk itu kah kinerja kalian tanpa kehadiran Saya! Bagaimana kalau Saya tidak ada? Mau bangkrut perusahaannya?!! "seru Genta agak meninggikan suaranya lalu mematikan handphone.


Genta duduk diatas closet yang tertutup lalu mengacak rambutnya sambil menunduk.


Alana berjalan mendatangi Genta dan berdiri di depan Genta.


Genta mendongak menatap Alana, wajahnya benar benar kusut. Bagaimana bisa dalam satu malam perusahaan saingannya itu dapat membuat saham perusahaan Genta turun sangat drastis. Sedangkan Genta sedang tidak ada ditempat untuk menanganinya.


"Sejak kapan Kamu berada disitu, Alana?"


Alana tersenyum dan dengan halus mengusap rambut Genta yang berantakan sambil merapihkannya lagi.


Genta menghelai napasnya berat dan memeluk pinggang Alana erat.


"Saya mau pulang aja Pak, kangen Mamah." Alana menatap Genta sendu, sebenarnya dia masih ingin berada di sini. Karna hotel ini benar benar nyaman.


"Harusnya kita masih disini satu minggu lagi Alana, Saya sudah menyiapkan beberapa tour yang akan Kita jalani selama disini." Genta menutup matanya untuk meredakan amarahnya.


"Wah kayaknya asik tuh! Tapi tugas Saya numpuk pak, Saya juga ragu kalo ngambil izin satu bulan. Nanti semester ini saya ga lulus," seru Alana sambil mengusap usap rambut Genta sedangkan Genta masih memeluk pinggangnya. Menenggelamkan kepalanya diperut Alana.


"Dih ga mau ya Pak! Nanti anak Saya kalo isi biodata, Ibunya cuman lulusan SMA. Ogah banget, mending kalo ga kuliah karna ga ada uang. Kalo ga kuliah cuman karna malas dan sudah punya suami kaya, mending kalo Bapak ada terus. Kalo Bapak ga ada nanti hidup Saya gimana? "


"Jadi Saya sebagai seorang Istri yang baik hati dan pintar ini harus memiliki sebuah skill untuk menghidupi dirinya sendiri," seru Alana sambil bersidekap.


"Meskipun Saya sadar, Saya salah jurusan. Tapi yang penting Papah sama Mamah ga jantungan marahin Alana mulu."


"Tapi Kamu beneran tidak papa?" tanya Genta sambil menatap Alana. Dirinya benar benar merasa bersalah karna seharusnya ini adalah waktu mereka untuk melakukan pendekatan.


Alana pura pura berfikir dan menunjuk nunjuk jarinya kearah kepala seolah sedang berfikir keras.


"Harus ada gantinya sih, Pak."


Genta menatap Alana sambil menaikan satu Alisnya tanda bertanya.


"Pulang kerumah Mamah dulu ya Pak, Saya belum berani bener deh kalo tinggal berdua aja sama Bapak." Alana sekarang mengeluarkan muka memohonnya.


"Loh kenapa? Memangnya Saya akan memakan kamu?"


"Iya Pak Saya takut dimakan Bapak," ujar Alana asal.

__ADS_1


"Ck, Alana!"


"Satu minggu aja Pak, nanti baru kita pindah kerumah Bapak. Supaya kita saling tau dulu kebiasaan kebiasaan kita masing masing."


"Nanti kalo kita berantem ada yang nolongin, Pak."


"Untuk apa Saya bertengkar dengan kamu dan Saya bukan Bapak Kamu!" sahut Genta sambil menatap mata Alana lekat. Yang ditatap malah menggigiti bibirnya.


"Saya kan mahasiswi Bapak, mahasiswi itu anaknya dosen, Pak."


"Kamu mahasiswi Saya doang?"


"Iya Pak, Saya kan mahasiswi Bapak."


"Kalau gitu, kerjakan tugasmu Alana! Makalah minggu kemaren kamu hanya copas milik Dita. Kamu mau buat ulang atau nilai kamu dan Dita saya kasih 0!!" Genta menatap mata Alana lebih lekat tetapi tidak mengintimidasi Alana.


"Loh Pak! Bapak ga sayang banget sih sama Istri sendiri. Harusnya Bapak kasih keringanan dong!!" ujar Alana menatap balik mata Genta dengan sengit.


"Loh berarti Kamu istri Saya dong?"


"Pake nanya lagi! Iya lah Saya ini Istri sah Bapak ga usah ngadi ngadi deh. Saya ini Istri yang merangkap menjadi mahasiswi!! " ujar Alana sambil menunjuk nunjuk dirinya.


"Berarti sekarang Kamu Istri Saya bukan mahasiswi Saya."


"Loh Saya juga mahasiswi Bapak di kampus."


"Tapi kan sekarang di hotel bukan di kampus jadi sekarang saya bukan dosen kamu."


"Ya iya," seru Alana memelan.


"Terus ngapain manggilnya Bapak terus?"


"Emangnya Bapak mau dipanggil apa? Mas gitu? Mas mas tukang sayur dong!"


"Tidak buruk kok!" seru Genta.


"Ahh... Bapak! Saya ga bisa manggil Bapak kayak gitu... Udah kebiasaan," seru Alana memelas.


Genta pun tertawa kecil melihat Alana yang kesal, gemas sekali Alana ini.


"Iya deh, yaudah ayo makan. Tadi aku suruh waiterss untuk antar makanannya kekamar," Seru Genta sambil mengacak rambut Alana.


"Eh iya nih... Sa... Saya udah laper ayo makan!" ujar Alana gugup.

__ADS_1


Genta ingin sekali tertawa karna melihat wajah memerah Alana kali ini. "Iya, ayo sayang."


__ADS_2