
"Pergilah, aku lagi gak mau diganggu" kata Zahra entah dengan siapa, lalu kemudian Marwah, adiknya masuk ke kamar dan mengejutkannya.
"Bicara sama siapa ?" tanya Marwah tapi Zahra yang kaget berusaha menetralkan ekspresinya dan tidak menjawab pertanyaan adiknya.
"butuh apa kamu kesini ?" tanya Zahra mengalihkan pertanyaan adiknya.
"Ditanya apa malah tanya yang lain lagi, bukannya jawab" gumam marwah. Zahra yang mendengarnya hanya diam tenang sambil menunggu adiknya meminta sesuatu kepadanya.
"ka ... aku kan pengen liburan sama temen temen, mau ikut gak ? tadi mama bilang ajak kakak tapi ku harap kakak nolak sih" kata Marwah membuat Zahra mendengus kasar.
"pergilah dan bilang aku gak mau ikut" jawab Zahra yang duduk ditepi kasurnya sambil membelakangi adiknya yang sedari tadi berdiri di sisi kasur yang lain dikamarnya.
"baguslah" kata Marwah dan setelah itu dia pergi dengan senang.
...
"Bisakah kau tidak menggangguku" kali ini suara Zahra terdengar lebih keras dan tentunya dengan emosi.
__ADS_1
Bagaimana tidak, setelah seharian belajar disekolah dan mengikuti ekskul disekolahnya dia harus suguhkan sikap keluarganya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing. Lalu, ketika Zahra memutuskan untuk tidur dan beristirahat, kakinya malah ditarik terus menerus oleh seseorang yang tidak kasat mata.
Ya !! Entah sejak kapan, Zahra pun tidak mengingatnya bahwa dia seringkali bisa melihat sosok tak kasat mata dan makin Zahra bertambah usianya sekarang mereka bisa mengobrol.
Ruhi, gadis kecil tak kasat mata dengan umur berkisar 10 tahun yang selama ini menemani Zahra bermain dan berkeluh kesah. Namun hari ini Zahra benar benar lelah dan tidak ingin bermain. Jadi, ketika Zahra membentaknya, Ruhi langsung melangkah mundur dan menghilang.
Sesaat setelah itu Zahra mendudukan tubuhnya dikasur dan menghela nafas dalam dalam "harusnya aku gak sekasar itu ke dia" gumam Zahra.
"Ada apa ribut ribut ?" Mendengar teriakan Zahra yang mengejutkan kedua orang tuanya membuat mereka menghampiri anak sulung mereka, Marwah pun tidak luput dari samping orang tuanya.
"Makin kesini ka Zahra makin aneh Ma" bisik Marwah yang menempel disamping Mama Soraya saat melihat Zahra dikamarnya.
Papa Reyhan hanya melirik sebentar putri bungsunya lalu mereka pergi meninggalkan kamar Zahra.
...
...
__ADS_1
"Yakin gapapa ?" Tanya Aditya kepada Zahra yang bengong di bangku taman.
Aditya sengaja mampir kerumah Zahra dan mengajaknya jalan . Zahra langsung menyetujuinya dan meminta untuk makan di warung pinggir jalan dekat taman dan kemudian mereka jalan jalan ke taman yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahan mereka.
"Gapapa Dit ..." tidak seperti biasanya, kali ini Zahra terlihat tidak bersemangat. Padahal sebelum ini, Meskipun Zahra memiliki masalah dengan keluarganya dia akan tetap terlihat santai dan ceria. Namun ...
"Aku tau kamu punya masalah, kita sudah lama bersama dan kamu gak bisa bohong kepadaku. Gapapa kalo kamu gak mau cerita, nanti aja kalo kamu siap" kata Aditya yang sedari tadi menggenggam erat tangan sahabat sekaligus tetangganya.
Zahra merebahkan kepalanya ke pundak Aditya dan memeluk erat tangan sahabatnya itu. Aditya yang bingung dengan tingkah Zahra seketika mengelus lembut rambut Zahra dengan tangan satunya. Dia menyibak rambut Zahra dan mengaitkannya ke belakang telinga.
"Sudah seminggu Ruhi tidak mendatangiku" tiba tiba Marwah bersuara dan menceritakan kegelisahannya.
"Bukannya bagus, kamu gak perlu berkomunikasi dengan mereka lagi" jawab Aditya yang selama ini tau dan percaya bahwa sahabatnya memiliki indera ke enam.
Zahra melepaskan pelukannya dan bangkit dari kursi lalu berjalan meninggalkan Aditya tanpa berkata apapun. Aditya yang bingung dan kaget langsung mengejar Zahra dan menarik tangan sahabatnya.
"Hey ... jangan marah ... maaf" kata Aditya tapi tidak direspon Zahra yang terus melanjutkan langkahnya.
__ADS_1