Dua Alam

Dua Alam
Eps 6


__ADS_3

Setelah sadar, Aditya masih setia menemani Zahra. Aditya hanya meninggalkannya untuk pergi ke sekolah. "Dit, aku takut" kata Zahra berulang kali setiap Aditya akan pergi, sekalipun hanya untuk ke toilet.


"Aku disini Ra ... aku gak bakal ninggalin kamu ... cuma mau pipis loh masa ngompol sih" perlahan Zahra melepas genggamannya ditangan Aditya.


Dokter bahkan memberinya obat tidur setiap malam supaya Zahra bisa tidur nyenyak.


"Dit"


"Hhmm"


"Adit"


"Kenapa Ra"


"Aditya Hendrawan !!" Zahra mengeraskan suaranya karena daritadi Aditya terus menatapi buku pelajarannya dan mengacuhkan Zahra.


"Allahu Akbar Zahra apaan sih" Seketika Aditya mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya itu, betapa terkejutnya Aditya melihat wajah Zahra sudah basah kuyup karena air mata yang belum juga berhenti.


"Kamu kenapa Ra ?" Dengan penuh kekhawatiran Aditya menghampiri sahabatnya itu dan terus menyeka air mata yang tak kunjung usai.


"Ra ... aku disini, aku ada buat kamu" dengan sangat lembut Aditya mengucapkan kalimat itu sembari menangkupkan kedua tangannya di pipi Zahra.


"Dia ngikutin aku dit, dia ngikutin aku" Zahra terus mengucapkan kalimat yang sama. Aditya paham siapa yang dimaksud Zahra, karena Zahra sudah menceritakannya.


"Sstttt ... Aku bakal jagain kamu, gak bakal ada siapa pun yang nyakitin kamu Ra" Aditya memeluk dan mengusap lembut rambut Zahra.

__ADS_1


Hingga hari kelima Zahra dirawat, tidak sekalipun Zahra melihat orang tuanya menjenguknya, bahkan hanya sekedar menanyakan kabar via handphone. Hanya Aditya yang terus menemaninya, dan ketika Aditya pergi sekolah Mamanya Aditya lah yang menggantikan anaknya untuk menemani remaja 15 tahun itu.


...


...


"Tant ... Zahra mau pulang" kata Zahra ke mamanya Aditya.


"Tante tanyakan dokter dulu ya" Ketika Mamanya Aditya ingin beranjak dari kursi sebelah kasur Zahra, dia malah menahannya.


"Kenapa Ra ?" tanyanya


"Jangan tinggalin Zahra tant"


"Lah, kan Zahra mau pulang katanya, jadi tante bilang ke dokternya dulu ya" Mamanya Aditya berusaha melepas tangan Zahra perlahan namun Zahra malah makin melepaskannya.


"Zahra kenapa tangan kamu dingin banget nak?" Seketika Zahra gemeteran dan kembali tidak sadarkan diri. Mamanya Aditya langsung memencet tombol perawat di sisi kasur Zahra.


...


...


Entah apa alasan kedua orang tuanya tidak menjenguk putri sulungnya itu, seakan tidak peduli mereka tetap menjalani seperti hari hari biasa.


"Ma ... Kita gak jenguk Ka Zahra ?" tanya Marwah ketika sedang makan malam.

__ADS_1


Meskipun tidak pernah akur, rupanya Marwah masih memikirkan kakaknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Kan ada Aditya, lagian ditemenin atau gak juga sama aja" jawab Mamanya dengan santai.


"Yakin gak mau jenguk Ma ?" celetuk Papi Reyhan.


"Hhmmm ... kayak lagi sakit parah aja sih, Zahra itu cuma pingsan karena jatuh dilapangan basket, dia juga sih cari masalah" dengan sedikit emosi Mama Soraya berkicau.


"Ya sudah, pulang kerja Papa jenguk sendiri ajadeh Zahra, gak tega Papa liat dia sendirian" kata Papa Reyhan.


"Ikut ya Pa" timpal Marwah.


"Sendirian apa, kan sama Aditya" celetuk Mama namun Suami dan putri bungsunya hanya diam tanpa berkata apapun lagi karena mereka tau Soraya tak akan pernah mau kalah setiap berdebat.


...


...


"Pa .. kenapasih Mama gak mau jenguk ka Zahra ?" tanya Marwa ketika Papa mengantarnya sekolah dengan mobil.


"Kan Mama udah bilang kakakmu gapapa, jadi gak perlu dijenguk" jawab Papa Reyhan.


"Tapi ... kenapa Papa mau jenguk ?" tanyanya lagi.


"Kamu kenapa mau jenguk ?" Papa Reyhan malah bertanya balik

__ADS_1


"Ya kan biar bagaimanapun dia itu kakakku" jawab Marwah.


"Ya biar bagaimanpun Zahra juga anak Papa" jawab Papa Reyhan seketika membuat Marwah memutar matanya setelah mendengar jawaban Papanya.


__ADS_2