
"Ra ... jawab dong ... angkat telponku" gumam Aditya sambil mondar mandir dikamarnya.
Semenjak Aditya tidak mendapatkan izin liburan kerumah Neneknya bersama Zahra, dia masuk kekamarnya dan tertidur hingga teriakan Mama membangunkan dirinya.
"Sudahlah Dit mungkin Zahra tidur, lagian tengah malam gini kamu telponin dia malah ngeganggu" kata Mamanya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar.
Aditya menaruh hp nya di nakas sebelah tempat tidurnya setelah mengirimkan pesan singkat ke Zahra.
"Ko perasaan Adit jadi gak enak ya Ma" tanya Aditya yang kini terduduk ditepi tempat tidurnya.
Mamanya menghampiri dan ikut duduk disebelah anaknya, di usapnya rambut Aditya dengan lembut layaknya seorang ibu menyalurkan kasih sayang ke anaknya.
"kamu terlalu khawatir padanya sampai tidak memperdulikan dirimu sendiri nak" kata Mamanya yang langsung mendapat tatapan tidak percaya dari Aditya.
"Ma ... Aditya mau tidur, bisakah Mama kembali ke kamar dan menemani Papa saja, kasihan Papa" kata Aditya.
__ADS_1
Akhirnya atas permintaan Aditya, Mamanya beranjak dan pergi meninggalkannya sendiri dikamar.
...
...
Ditempat lain, Zahra tertidur didalam mobil yang kini berubah menjadi kereta kuda, ada Aditya disebelahnya dan seseorang yang mengendalikan laju kuda didepannya.
"Adit ... kita dimana ?" Gadis belia itu terbangun dan cukup terkejut melihat bahwa dirinya sekarang berada diatas kereta kuda, bukannya Mobil seperti sebelum dia tertidur.
Dan tibalah mereka disebuah istana, "Ini rumah Nenekmu ?" Zahra menoleh kepada Aditya disebelahnya karena memang selama ini dia belum pernah kerumah Neneknya Aditya.
Zahra merasa aneh karena dia berada didepan istana yang terlihat kuno, bukan rumah pedesaan yang sering diceritakan Aditya kepadanya. Apalagi disekitarnya hanyalah hutan belantara tanpa satupun rumah lain disekitar istana.
Seketika dia tersadar bahwa dia bukan sedang berada dirumah Neneknya Aditya ataupun di dunia nyata. "Kamu siapa ?" Zahra mendorong Aditya hingga tersungkur dan terbangun lagi dengan cepat berubah menjadi sosok bertubuh besar dengan banyak bulu tebal menyelimuti hamoir keseluruhan badannya.
__ADS_1
Zahra berteriak histeris karena makhluk yang selama ini tidak pernah dilihatnya itu sangatlah menyeramkan dengan mata merah menyala dan tanduk di kepalanya.
"Kamu siapa. Apa maumu. Pulangkan aku" Zahra menghujani makhluk besar itu dengan berjuta kalimat yang membuat makhluk itu semakin memajukan badannya mendekat kepada Zahra.
"Aku calon suamimu sayang" jawab Makhluk besar itu membuat mata Zahra melotot bahkan mulutnya menganga sanking terkejut dan tidak percaya atas bualan si Makhluk besar.
"Kau pikir ini negeri dongeng, kau mau apa ? aku menciummu lalu kau jadi pangeran tampan. Hah ?" Zahra berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk melawan makhluk yang mengaku sebagai calon suaminya.
"Ketahuilah bahwa kau memang jodohku, itu sebabnya kau dilahirkan" seketika pemandangan sekitar yang tadinya diluar istana menjadi di dalam istana dalam sekejap membuat Zahra bergidik ngeri.
"Najis !! tidak akan pernah" bentak Zahra yang kemudian membuatnya terbang karena mendapat tamparan keras dari makhluk besar.
"Bawa dia kekamarnya" kata makhluk besar ketika Zahra tidak sadarkan diri akibat tamparannya.
"Baiklah tuan, laksanakan" kata beberapa pelayan istana dengan serempak dan langsung membopong Zahra memasuko sebuah kamar mewah dan megah.
__ADS_1
Disatu tempat tidur yang dipenuhi kelopak bunga mawar Zahra ditidurkan, untuk beberapa saat menjadi hening dan Zahra ditinggalkan sendirian dikamar yang super besar itu.