Dua Alam

Dua Alam
Eps 14


__ADS_3

Seketika Mama Soraya mendudukan Marwah ditepi tempat tidurnya. Mengelus rambut panjang anaknya yang masih duduk gemetar disebelahnya seakan itu bukanlah Mamanya.


"Kamu gak perlu takut nak, mama melakukan ini untukmu" kalimat itu membuat mata Marwah terbelalak refleks memandang Mama Soraya disebelahnya.


Dia sedikit menjauhkan badannya dari Mama Soraya "Apa maksud Mama" tanyanya.


Tentu Mama Soraya tau putrinya itu menguping namun dia harus tetap santai dan meneruskan percakapannya dengan makhluk didalam cermin tadi. Karena cepat atau lambat putrinya pun akan tau kebenarannya, jadi dia tidak ingin menutupinya lagi.


"Mama dan Papa menikah diusia muda namun kami harus menunggu untuk mendapatkan anak hingga akhirnya Mama hamil, Tapi ..." Mama Soraya menggantungkan ceritanya seakan tidak kuat untuk mengingat masa lalunya tersebut.


Sedangkan Marwah hanya diam menunggu kelanjutan cerita Mama Soraya tanpa ingin bertanya apapun.

__ADS_1


"Zahra bukanlah anak Mama sepenuhnya" Tanpa bisa ditahannya lagi air mata Mama Soraya mengalir deras dari matanya.


"Maksud Mama ? Ka Zahra ..." entah apa kalimat yang harus dilanjutkan Marwah tentang kakaknya karena dia tidak bisa berfikir dan mengira ngira.


Setelah bisa menetralkan perasaannya lagi, Mama Soraya kembali melanjutkan ceritanya.


"Harusnya bukan sekarang kamu mengetahuinya nak, umurmu belum cukup untuk mengerti semuanya. Tapi ketahuilah Mama sangat menyayangimu dan akan melakukan apapun untukmu" Kata Mama Soraya mengelus dan mencium kepala anaknya lalu dia beranjak meninggalkan Marwah dikamarnya.


"Lalu, Ka Zahra anak siapa ? hubungannya dengan perbuatan Mama dikamar itu apaan ? apa yang sebenarnya terjadi ?" pertanyaan yang makin bertambah membuatnya sering melamun memikirkannya.


Ditambah Mamanya yang berpesan supaya siapapun terutama Papanya tidak boleh tau tentang hal ini. Tanpa memberikan ancaman, Marwah sudah takut duluan dan menuruti keinginan Mama Soraya.

__ADS_1


Setelah lebih dari dua minggu sejak menghilangnya Zahra, Polisi menutup kasusnya dan menganggap Zahra kabur, bukan diculik atau kejadian lainnya. Papanya yang mulai frustasi dan menyesal karena menganggap anaknya kabur karena tekanan yang diberikan istrinya dan dia sebagai kepala rumah tangga hanya menurut saja meskipun dia tau istrinya dangat berlebihan jika memarahi putri sulungnya itu.


Kecanduannya bekerja membuat waktu bersama keluarganya berkurang dan dia mengenang setiap moment kebersamaan dan mengingat bagaimana dia menunggu kelahiran Zahra yang bahkan kehadirannya ditunggu bertahun tahun.


"Dimana kamu Nak, Papa rindu ..." Papa Reyhan menangis didalam kamar putri sulungnya sambil memegang bingkai kecil foto Zahra yang sedang tersenyum manis sembari menaruh dua jari telunjuknya dipipi.


Zahra tidak pernah foto sendirian, kebanyakan fotonya bersama Aditya. Seketika Papanya melihat foto Aditya dan mengingat bahwa Zahra pernah beberapa kali bercerita tentang dia sering melihat makhluk tak kasat mata dan sesekali mimpi buruk.


"Aditya mungkin tau tentang ini" Ketika pikiran itu terbersit dibenaknya, Papa Reyhan langsung menaruh kembali bingkai foto anaknya dan bergegas untuk mendatangi sahabat anaknya tersebut.


Dia selama ini terlalu fokus untuk bekerja dan mencari Zahra, putri sulungnya. Dan ketika sekarang dia ingin mencari Aditya, yang rumahnya hanya berseberangan ternyata Aditya dan keluarganya sudah pindah beberapa hari lalu tanpa disadarinya.

__ADS_1


Terlihat rumah Aditya yang tergembok dari luar dan ketika Papa Reyhan masih berusaha mengetuk pintu dan memanggil Aditya, tetangga sebelahnya memanggil dan memberitahu bahwa mereka sudah pindah rumah keluar kota.


__ADS_2