
Sesampai dirumah Neneknya Aditya. Wanita berumur lebih dari setengah abad sudah berdiri di terasnya seakan tau akan dikunjungi anak, menantu dan cucunya.
Tersirat bahagia dibalik senyum dengan pipi yang sedikit berkerut. "Cucuku ..." katanya sambil membentangkan tangan, disambut denga Aditya yang mendahului orang tuanya dan langsung memeluk Neneknya.
Rumah kecil sederhana, dengan halaman yang luas, letaknya agak tinggi dari rumah rumah warga yang lain. Banyak ayam cemani di halaman rumah Nenek. juga burung hantu bertengger di pojok terasnya, menguatkan kesan seram disana.
"Ibu tau kami akan kemari ?" tanya Mamanya Aditya.
"Tentu" jawab Nenek yang menggiring mereka masuk kerumah dan terlihat sudah ada santapan untuk mereka makan.
"Makanlah, lalu istirahat. kita bicarakan lagi keperluan kalian besok" kata Nenek yang tidak dibantah oleh mereka.
...
...
Di alam lain, Zahra terlibat sudah terbiasa bangun di kamar besarnya dan ikut sarapan bersama Makhluk besar menyeramkan itu. Seakan dia sudah pasrah dengan nasibnya. "Bahkan aku tidak bisa membayangkan menikah dan menjalani hidup dengan manusia jelek, sekarang malah berjodoh dengan setan mengerikan" gumannya sambil mengunyah makanan itu.
__ADS_1
Tanpa disadarinya selama ini Makhluk besar itu bisa mendengar setiap perkataan Zahra meskipun dari dalam hati.
"Setidaknya bukan hatiku yang busuk" jawab Makhluk itu yang tiba tiba mengagetkan Zahra. Dia menunduk karena merasa bersalah.
Setelah sarapan dia meminta izin untuk keluar istana supaya bisa mendapatkan suasana baru. "Aku sungguh bosan melihat dinding dinding istana ini" katanya.
"Silahkan, tapi ketahuilah sejauh apa kamu jalan jalan tidak bisa membawamu kembali ke rumah mu, karena sekarang dunia mu disini" kata Makhluk itu. Zahra hanya mengangguk pasrah dengan jawaban yang diterimanya.
...
...
"Andai saja aku bisa menikmatinya bersama keluargaku" guman Zahra. Tanpa disadarinya, dari jendela atas Makhluk besar itu memperhatikannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu" katanya sembari mengepalkan tangannya.
Dia tau benar perjuangannya belum berakhir, dia masih harus menghadapi Ibu kandung Zahra yang pasti sedang mencarinya. Sedangkan usia Zahra masih 16 tahun dan dia tidak bisa menyalurkan hasratnya sebelum Zahra berumur 17 tahun.
__ADS_1
Zahra berjalan jalan di taman istana yang penuh dengan berbagai jenis bunga sehingga mengeluarkan aroma yang sangat wangi. Suara gemericik air sungai yang khas serta ikan yang nampak banyak bekejaran didalam sungai. Sesekali kupu kupu hinggap di bajunya dan terbang kembali, burung burung berkicau dan berterbangan di alam bebas.
"bahagia sekali mereka hidup dengan bebas" gumam Zahra.
"Kamu juga akan segera bebas" tiba tiba terdengar bisikan suara entah dari mana, membuat Zahra menoleh kesana kemari mencari asal suara namun sudah tidak terdengar lagi.
Zahra ingat bahwa makhluk besar itu bisa mendengar suara hatinya jadi sebisa mungkin dia tidak berfikir macam macam dan hanya berharap suara tadi petunjuk supaya dia bisa segera keluar dan bebas dari makhluk besar menyeramkan.
...
...
Sama dengan apa yang dilakukan Zahra. Aditya yang terbangun sebelum fajar langsung keluar halaman rumah Neneknya. Membentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata sembari menghirup udara segar pagi itu.
"biasanya sih kalo kebiasaannya sama, jodoh" tiba tiba Neneknya duduk dipendopo dihalaman rumahnya.
"Kapan nenek duduk disana ? tadi gak ada" kata Aditya yang langsung mendapat senyuman dari neneknya.
__ADS_1
"Nenek dari tadi disini, kamu terlalu menikmati alam, bahkam gak sadar sepatumu menginjak kotoran ayam" goda Neneknya membuat Aditya sontak mengangkat dan mengecek sepatunya, benar saja. banyak kotoran ayam di halaman rumah Nenek.