Dua Alam

Dua Alam
Eps 23


__ADS_3

Aditya berjalan mengikuti langkah Neneknya menuju ke air terjun tempatnya bertapa dan belajar ilmu dengan Neneknya. Sesampai disana doa duduk dibatu besar yang ada didalam goa dibalik air terjun itu.


Selang satu jam Aditya selesai bertapa ditemani Neneknya yang memegang nampan penuh dengan sesajen khasnya. "Jalani gua ini, didalam akan kamu temukan cahaya sebagai penunjuk jalanmu, begitu pula sebaliknya ketika kamu pulang bersama Zahra" kata Nenek menjelaskan dan direspon Aditya dengan anggukan.


Setelah begitu lama memeluk neneknya, Aditya menyusuri jalan didalm goa itu, jalannya lurus tanpa ada cabang sama sekali sehingga membuatnya yakin akan tujuannya. "Aku datang Ra, aku datang" batin Aditya bersorak sepanjang jalan.


Tanpa disadari, suara hatinya itu terdengar hingga telinga Zahra yang sekarang berada di dalam kamar berbeda dengan biasanya. Kali ini Zahra dikurung diruangan bawah tanah yang gelap dengan hanya ada satu sumber penerangan disana.


Tangan dan kakinya terikat, mulutnya tersumpal. Dia bahkan tidak mengerti kenapa kembali disiksa setelah beberapa bulan ini Makhluk itu bersikap lembut. Zahra merasa tidak melakukan kesalahan karena selalu menurutinya. Namun Makhluk itu tidak mau menjawab atau berkata apapun padanya.


Kini Zahra hanya bisa menangis tanpa tau akhir hidupnya seperti apa hingga suara hati Aditya terdengar ketelinganya. "Aditya ..." gumam Zahra. Namun seketika Zahra teringat bahwa suaranya akan selalu terdengar meskipun dia bicara dalam hati.

__ADS_1


Tidak mau terkena masalah dan menggagalkan Aditya yang dia yakini mau menjemputnya. Zahra kembali diam dengan harapan Aditya menemukannya.


...


...


Sosok cantik berselendang, kembaran ghoib mama Soraya kini berada didalam goa bersama Neneknya Aditya. Mereka berdiskusi dan akhirnya Neneknya Aditya menyetujui untuk memberi jalan kepada sosok cantik itu dan menyusul serta membantu niat baik cucunya.


Nenek menyetujuinya karena setelah mendengar ceritanya ternyata mereka adalah satu generasi dikehidupan sebelumnya. Mereka adalah sahabat baik, namun kini mereka hidup didunia yang berbeda.


...

__ADS_1


...


Marwah begitu lelah dengan kehidupannya, hingga akhirnya dia meninggalkan Papanya sendirian dirumah, dia juga tidak pernah menjenguk Mamanya di rumah sakit jiwa.


Kini gadis 10 tahun itu menjual minimarket yang sebenarnya adalah asset terakhir keeluarga mereka dengan bantuan RT setempat dan alasan pengobatan orang tuanya. Padahal dia membawa uang sebanyak itu dan kabur hingga tidak satupun yang mengetahuinya.


Sekitar satu minggu setelah Marwah kabur, Tetangga yang menengok ke rumah kecilnya itu melihat Papa Reyhan terbaring lemah dilantai dapur karena tidak sanggup melakukan aktifitas. "Sudah tiga hari saya pingsan, terbangun, hingga pingsan lagi disana. Semenjak Marwah pergi saya tidak bisa melakukan semuanya dengan benar" kata Papa Reyhan dengan lemahnya terbaring diruang inap rumah sakit.


"Pergi ? maksud Bapak Reyhan ..." Pa RT ingin bertanya namun terhenti karena ingin memilih kalimat yang pas.


"Anak bungsu saya itu sengaja pergi dan membawa uang hasil menjual minimarket kami. Saya mengerti mungkin dia lelah, tapi saya tidak menyangka anak seumur Marwah bisa berfikiran seperti itu" Jelas Papa Reyhan hingga meneteskan air matanya karena rasa kecewa kepada Marwah dan juga teringat bagaimana dewasanya Zahra jika bertindak.

__ADS_1


"Papa merindukanmu Ra ... Sangat merindukanmu ... pulanglah, Papa harap kamu baik baik saja" kata Papa Reyhan dalam hati seraya mengingat masa masa dimana putri sulungnya masih didekatnya.


__ADS_2