
"Hey ... kembalilah, maaf jika kasar padamu, aku hanya lelah" Kata Zahra yang sedang berbaring menatap langit langit kamarnya dengan berbantalkan kedua tangannya yang dilipat dibelakang kepalanya.
Tanpa disadari, Marwah mengintipnya karena pintu kamar yang sedikit terbuka. Namun ...
"Brakkk ..." pintu itu seakan dibanting keras sehingga mengejutkan keduanya. Marwah yang ketakutan langsung berlari kembali ke ruang makan dimana orang tuanya.
"Kamu kenapa ?" tanya Reyhan, papanya.
"Gapapa Pa" Marwah berusaha menetralkan raut wajahnya. Bagaimana tidak, dia tau kakaknya sedang berbaring lalu siapa yang menutup pintu dengan keras seperti tadi.
"Mana kakakmu ?" tanya Papa.
"A aa anu Pa ... kakak tidur" jawabnya terbata bata.
"Lalu, suara apa tadi ? kalian gak bertengkar lagi kan ?" timpal Mama Soraya.
"Gak ma gak ko ..." masih dalam keadaan kaget dan seakan shock Marwah melanjutkan makan malamnya.
...
__ADS_1
...
Dikamar
"Siapa tadi ? mungkinkah ... " gumam Zahra memandangi pintu kamarnya setelah terdengar suara pintu yang terbanting keras. Padahal yang terbuka hanyalah beberapa centi saja.
Tidak mau ambil pusing dia bersiap untuk mandi dan berfikir untuk melanjutkan tidurnya. Malas sekali untuknya makan bersama di tengah keluarganya, selama ini sebisa mungkin dia menghindar.
Itu sebabnya dia memilih kuliah diluar negeri, namun setelah lulus, Reyhan terus memintanya untuk kembali tinggal bersama dengan mereka. Zahra yang dasarnya sudah penurut mau tidak mau menerima ajakan Papanya.
Tidak begitu lama setelah Zahra selesai mandi dan ingin membaringkan badannya, ada suara ketokan dijendela kamarnya. "Siapa lagi sih" keluhnya dan melangkahkan kaki ke arah jendela.
Zahra baru sadar bahwa dia masih kesal dan merajuk kepada Aditya atas kejadian ditaman siang tadi. Tapi itulah Aditya, dia selalu bisa mengembalikan mood Zahra dengan mudah dengan tingkah manisnya yang terkadang konyol.
Seperti malam ini Aditya rela memanjat balkon rumah Zahra hanya untuk mengetuk jendela kamarnya dan meminta maaf pada sahabat kecilnya itu.
"Mau apa lagi?" Kata Zahra setelah membuka jendela kamarnya.
"Kau tau kenapa aku suka menjahilimu ?" tanya Aditya seraya memasuki kamar remaja 15 tahun itu lewat jendela.
__ADS_1
"Kenapa ?" dengan nada sok kesal Zahra menanyakan alasan Aditya.
"Karena kau terlihat lebih manis ketika sedang kesal" kata Aditya seketika mencolek dagu sahabatnya.
"Bisakah kamu berhenti menggombaliku, gombalin wanita lain diluar sana" Zahra menutupi rasa malunya dengan terus memarahi Aditya.
Dia menepis tangan Aditya sepersekian detik setelah Aditya berhasil mencolek dagunya, lalu Zahra dengan cepat merebut kantong plastik yang masih ditenteng Aditya dan membawanya ke samping tempat tidurnya.
"Kenapa ?" Aditya selalu tersenyum dan bahagia melihat Zahra yang salah tingkah ketika digodainya.
"Kenapa Apanya ?" tanya Zahra sembari membuka bungkusan Mie goreng yang dibawa Aditya.
"Kenapa kamu lebih suka aku goda wanita lain ? kamu rela ?" Aditya duduk dihadapan Zahra dan bertanya dengan nada serius.
Zahra yang baru saja akan melahap mie nya langsung bungkam dan menaruh mie itu kembali ditempatnya.
"Bisakah kita bahas yang lain ? siang tadi kamu sudah buatku kesal dan sekarang ..."
"ok ok ok baiklah, makan mie mu sebelum dingin" jawab Aditya yang juga akan membuka nasi goreng miliknya dan mereka makan malam bersama tanpa bicara apapun.
__ADS_1