Dua Alam

Dua Alam
Eps 25


__ADS_3

Papa Reyhan yang sudah lebih baik sekarang dipercayakan untuk membantu tetangganya menjaga toko mereka untuk mencukupi kehidupannya yang kini tinggal sebatang kara. Sesekali dia menjenguk istrinya yang senakin parah saja, wanita itu tidak mau keluar kamar dan sangat sulit untuk perawat atau dokter berkomunikasi dengannya, bahkan untuk memberinya makan. Mama Soraya tidak akan makan kecuali bersama Papa Reyhan.


Semenjak Papa Reyhan membaik dan mengunjungi istrinya, Mama Soraya baru mau makan dan tidak perlu dipaksa serta tidak mengkonsumsi obat penenang lagi seperti sebelumnya.


"Katakan Ma, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, aku tau kamu pasti tau sesuatu tentang semua ini" Itulah pertanyaan yang setiap hari dilontarkan Papa Reyhan kepada istrinya sambil terus menyuapkan makanan kepadanya.


Namun jawaban Mama Soraya masih sama "Aku tidak tau, aku tidak mau, aku takut, jangan ganggu aku, ini bukan salahku, dia bukan anakku" hanya itulah yang bisa terucap dari mulutnya.


...


...

__ADS_1


...


Neneknya Aditya masih setia menunggu cucunya dimulut goa yang ada dibalik air terjun di kampungnya. Kampungnya yang sepi itu membuat wilayah disekitar air terjun sepi dan jarang dikunjungi. Meskipun ada satu dua orang yang melintas, mereka sangat tau pekerjaan dan kebiasaan Neneknya Aditya sehingga tidak menggubris atau mencampurinya. Karena selama ini kampungnya dijaga oleh Nenek.


...


...


...


Ketika mendengar pertanyaan makhluk itu tadinya Zahra tetap diam tanpa mengangkat kepalanya. Namun seakan tersulut emosi, makhluk itu mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih keras dan raut wajah yang penuh amarah. Hingga kepala Zahra refleks terangkat dan memandangnya dengan wajah yang basah serta mata sembab.

__ADS_1


Makhluk itu melangkahkan kaki mendekati calon istrinya. "Aku sudah bilang terima takdirmu, kenapa kau masih menangis ?" tanyanya lagi sembari memegang dagu remaja cantik itu hingga membuat mereka saling bertatapan dengan jarak dekat. Sungguh wajah makhluk itu sangat menyeramkan, terlebih dari jarak sedekat itu yang mungkin tidak sampai sejengkal jaraknya.


"Aku sudah mencoba menerima takdirku tapi kau mengurungku disini tanpa alasan" dengan rasa takut dan khawatir makhluk itu akan marah, Zahra berusaha mengungkapkan jawabannya.


Makhluk itu menekan kewajah Zahra dengan satu tangannya, hingga terasa rahang Zahra seakan mau lepas. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan, kau pasti tau kenapa aku mengurungmu disini" Kata makhluk besar itu.


Seketika terdengar suara lagi ditelinga Zahra yang pastinya bukan suara dari makhluk itu yang menggema diruangannya. Melainkan suara Aditya "Ra ... teruslah bicara supaya aku tau dimana harus mencarimu" kata Aditya yang langsung mengingatkan Zahra bahwa suara dalam hati pun bisa menuntun Aditya untuk menjemputnya.


"Lepaskan tanganmu dan temani aku disini. Bukankah kau calon suamiku, tidak bisakah kau menemani calon istrimu yang sedang takut ini?" Zahra terus berbicara dan meminta makhluk itu menemaninya, setidaknya sampai Aditya mengisyaratkan jika dia sudah dekat dengannya.


Karena tergoda dengan Zahra, Makhluk besar menyeramkan itu luluh dan duduk didepan calon istrinya. Makhluk itu menceritakan bagaimana dia menunggu Zahra dan perjanjian dengan Mama Soraya yang sebenarnya membuat Zahra menjadi sakit hati namun tetap berusaha terlihat tenang dan menerima makhluk besar menyeramkan yang menganggapnya calon istri sekarang.

__ADS_1


__ADS_2