
Sudah sejak pertama kali bertemu, Aditya sangat menyukai Zahra yang kala itu adalah tetangga barunya. Memang usia mereka masih anak anak, tidaklah pantas anak anak berumur 7 tahun sudah jatuh cinta, dan mungkin itu yang dinamakan cinta monyet.
Tapi seiring waktu, mereka yang selalu bersama setiap hari, rumah yang berhadapan dan sekolah yang selalu sama membuatnya semakin dekat dan nyaman. Hingga Aditya selalu mengabaikan setiap wanita yang mengejarnya dimasa sekolah.
Sejak SMP Aditya selalu menjadi siswa populer, bukan ketua osis ataupun basket tapi dia hanya siswa biasa yang tidak mengikuti ekskul apapun.
"Ikutlah ekskul musik Dit, kamu kan suka nyanyi, main gitar juga jago" saran Zahra ketika mereka duduk dikelas dua SMP.
"Nanti makin banyak fans ku, kamu malah ngambek" jawab Aditya yang selalu menggoda Zahra.
Tampang Aditya yang berkharisma dan senyumnya yang manis membuat banyak orang mengaguminya meski dia bukan ketua atau anggota apapun.
Terlebih saat mereka sudah menduduki bangku SMA. Dimana para remaja sudah semakin pintar merawat diri, level ketampanan Aditya semakin bertambah. Bukan hanya siswi tapi guru wanita pun mengaguminya.
"Hey ... tumben gak sama Aditya" tanya seseorang saat Zahra makan sendirian di kantin sekolahnya.
"iyanih, dia masih belum selesai pelajaran pak bambang kan emang suka rada lama" jawab Zahra sambil menepuk kursi disebelahnya mengisyaratkan temannya boleh duduk disana.
"btw kalian pacaran kan ?" tanya temannya karena melihat mereka selalu bersama dan mesra seperti sepasang kekasih. Apalagi Zahra yang terlibat manja jika bersama Aditya, berbeda jika sedang tidak bersama sahabatnya itu Zahra lebih terlihat cuek dan mandiri.
__ADS_1
"Gak lah ngapain pacaran sama cowok gila gitu, kita itu sahabatan dari kecil" jawab Zahra dengan entengnya tanpa disadari ucapannya terdengar oleh Aditya yang baru saja mau menghampirinya di meja kantin.
Tapi, setelah mendengar perkataan Zahra, Aditya malah melewati mejanya tanpa mampir dan menoleh kearahnya. Zahra yang baru sadar Aditya melewati mejanya langsung memanggil sampai harus berdiri dan berteriak agak keras tapi bukannya berbalik, Aditya malah terus melangkah meninggalkan kantin.
"Yang tadi Aditya ka?" tanyanya ke teman disebelahnya.
"Iya. Aditya" jawab temannya.
"kenapa lagi sih anak itu, budeknya kumat" gumam Zahra kesal.
"merajuk kali dia Ra, kamu bilang cuma sahabatan"
"gapapa Ra ?" tanya temannya sambil menyodorkan minum kearahnya.
"lagian kamu sih ada ada aja ngomongnya" kata Zahra, tapi didalam benaknya pun terpikir hal yang sama.
...
...
__ADS_1
Selama ini Aditya selalu menuruti setiap keinginan Zahra, termasuk bersekolah di SMA pilihan Zahra. Bahkan selama ini Aditya gak pernah pacaran atau dekat dengan wanita lain.
Sangking dekat dan perhatiannya Aditya bahkan sangat mengetahui setiap hal tentang Zahra. dari apa yang disukai ataupun yang tidak.
"Apa iya Aditya suka sama aku ?" gumam Zahra yang kemudian lamunanya di buyarkan oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk ..." dia fikir Marwah atau Mamanya lah yang mengetuk, betapa kagetnya dia melihat seseorang yang baru saja difikirkannya sekarang sudah ada dihadapannya.
"Ngapain lagi sih?" tanyanya sambil melempar bantal ke arah sahabatnya, siapa lagi kalo bukan Aditya.
"Lewat jendela salah, lewat pintu juga salah, lewat mana jadinya?" gerutu Aditya yang tetap melangkahkan kakinya mendekat dengan Zahra yang selonjoran di sofa dekat jendela kamarnya.
"Lewat hati" entah bagaimana ucapan itu bisa terucap dari mulut Zahra, dia langsung menutup mulutnya setelah dua kata itu terlontar.
"mulai nakal ya tetangga manisku" Aditya tersenyum menggoda, sedangkan Zahra langsung merubah posisinya menjadi duduk disofa itu.
"Apaan sih, mau apa kesini ? bentar lagi aku mau keluar ada latihan basket" kata Zahra.
"Mau temenin kamulah, lagi suntuk nih" jawab Aditya, padahal ingin sekali dia menanyakan ucapan Zahra ke temannya dikantin tapi sepertinya mood sahabatnya itu lagi gak baik. Padahal mood Zahra gak baik juga karena memikirkan Aditya yang tiba tiba cuek meninggalkannya di kantin.
__ADS_1