
Zahra menghilang dari rumahnya. Papa Reyhan mempertanyakan keberadaan putri sulungnya itu kepada istri dan putri bungsunya setelah dua hari dari kepergian Zahra. Akhirnya Mama Soraya dan Marwah pun baru menyadari ketidakhadiran Zahra dua hari terakhir ini. Dengan bersamaan mereka mengecek kamar Zahra yang ternyata kosong dengan kondisi jendela kamar tak terkunci.
"Anak nakal, bikin malu orang tua" Amarah Mama Soraya membara mengetahui Putri sulungnya yang baru 16 tahun itu sudah berani kabur dari rumah.
"Mau jadi apa dia diluar sana" keluh Nama Soraya.
"Sudah Ma sudah !! jangan lanjutkan omelanmu itu, sadar gak sih kenapa Zahra kabur" Papa Reyhan menghentikan omelan istrinya dan kemudian beranjak pergi keluar dari kamar Zahra.
"Papa mau kemana ?" tanya Marwah dengan sedikit takut.
"Papa mau ke kantor polisi, melaporkan kakakmu" kata Papa Reyhan sembari menuruni tangga dan menuju keluar rumah.
...
...
...
Sementara didalam istana, Zahra baru saja terbangun dikamar yang berukuran sangat besar layaknya istana. "Aku dimana ?" Zahra bertanya pada dirinya sendiri sembari memijat kepalanya yang terasa sakit, lalu telaoak tangannya berpindah kepipinya yang masih terasa nyeri.
Bagaimana tidak, makhluk besar itu menamparnya hingga melayang dan tersungkur lumayan jauh. Membuat sisa luka di pelipis dan sisi bibirnya.
__ADS_1
"Aawww ... perih banget ... Ruhi, tolong aku" Zahra meringis dan menangis ketakutan sambil memeluki kedua lututnya di atas tempat tidur.
"Kau sudah bangun sayang ?" suara itu membuat Zahra memundurkan badannya hingga mentok di sandaran tempat tidur.
Sosok makluk besar itu berjalan menghampiri Zahra dan mendekatkan tangannya yang ingin menyentuh pipi mulus gadis belia itu.
"Akhirnya, setelah menunggu lama aku bisa menyentuhmu sayang" Setelah dia berhasil mengelus pipi Zahra, ingin rasanya makhluk besar itu mendapatkan lebih dari sekedar mengelus pipinya.
Namun saat pikiran kotornya itu datang tiba tiba dia menarik cepat tangannya yang terasa panas seperti terbakar ketika menyentuh tubuh gadis belia itu.
"Belum saatnya kau mendapatkannya" suara entah dari mana menggelegar di ruangan itu. Membuat makhluk besar itu harus rela meninggalkan gadis pujaannya didalam kamar besar dan menguncinya dari luar.
...
...
...
Kabar itu cepat berhembus, terutama ketelinga Aditya yang rumahnya hanya berseberangan jalan.
"Dimana kamu Ra, aku akan lebih tenanh jika kamu beneran kabur, tapi aku gak yakin" Aditya sangat mengkhawatirkan sahabat yang juga dicintainya itu karena dia yang paling mengetahui setiap kejadian yang menimpa Zahra. Namun, Mamanya melarang Aditya untuk ikut campur atas hilangnya Zahra.
__ADS_1
"kamu yang akan dipersalahkan jika kamu ikut campur urusan mereka" kata Mamanya Aditya yang tidak bisa dibantah anaknya, Suaminya pun tak ikut campur karena dia tau Mamanya Aditya hanya ingin melindungi Anak lelaki satu satunya mereka.
...
...
Disatu kamar rahasia dimana hanya Mama Soraya yang mengetahui letak ruangan itu. Dia duduk bersila dan menyatukan kedua telapak tangannya didada, dengan mata terpejam dan mulutnya komat kamit seakan membaca suatu doa atau mantra.
Didepannya sudah ada dupa yang dibakar beserta sesajen lain dan tidak lupa cermin besar tepat dihadapannya.
"Bukankah kau akan mengambilnya diusia 17 tahun ?" tiba tiba ucapan itu terucap dari mulut Mama Zahra beberapa saat setelah ia membuka matanya
"Ya, namun suatu hal membuatku harus mengambilnya lebih cepat" Seseorang di dalam cermin itu berbicara, wajah dan bentuk badannya sama seperti Mama Soraya, seperti layaknya anak kembar yang sedang mengobrol.
Tanpa disadarinya, Marwah mengintip dari balik pintu. Bocah 9 tahun itu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Mama" satu kata itu terucap sebelum dia menutup mulutnya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Didalam kamarnya dia duduk dilantai bersandar pada sisi tempat tidurnya. Bagaimana bisa Mamanya akan menyerahkan kakaknya kepada makhluk halus. Apa mereka sudah memiliki perjanjian sebelumnya. Tapi bukankan kedua orang tuanya itu tidak percaya hal mistis. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah Mamanya tau dimana keberadaan kakak kandungnya itu.
Banyak sekali pikiran bergelantungan di benak Marwah. Selama ini dia selalu berusaha merebut kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya untuk kakaknya supaya dia akan menjadi anak satu satunya. Bukankan sebentar lagi terwujud, kakaknya menghilang sekarang karena Mamanya sendiri yang menyerahkan kepada Makhluk halus tapi kenapa dia merasa kacau. Sedih, takut, marah, semua menjadi satu.
"Sayang ... Marwah ..." suara Mama Soraya memanggilnya dengan lembut dan seakan tidak terjadi apapun dia melangkahkan kaki kekamar putri bungsunya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Nak ?" dengan raut wajah panik Mama Soraya mendapati anaknya baru saja beranjak dari posisi duduknya dan seakan kaget dengan kedatangan Mamanya sendiri.
"Ggg gak ... gak ... Gapapa Ma" seakan masih ada rasa takut dia menjawab Mamanya.