
"Udah baikan ? yakin ?" tanya Aditya sambil membantu Zahra turun dari tempat tidurnya.
"Mama Papa mana Dit ?" Tanya Zahra.
"Aku bilang mereka gak usah kesini karena udah ada aku yang jagain kamu, kalo ada mereka nanti terganggu kamu mau pandang pandangin aku gak puas" jawab Aditya sekalian menggoda Zahra. Benar saja, wajah Zahra memerah mendengar kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu.
"Kamu ini ya Dit, ingat umur" celetuk Mamanya Aditya yang saat itu juga ada diruang inap Zahra, membantu teman anaknya itu bersiap siap pulang.
Bagaimana bisa remaja 15 tahun itu sudah pandai menggombal. "ini pasti turunan papanya deh" gumam mamanya Aditya.
"Tapi tadi malam Papamu jenguk ko sama si Marwah, kamunya aja tidurnya terlalu nyenyak kayak badak" celetuk Aditya yang langsung menciptakan raut cemberut diwajah Zahra.
...
...
Permintaan Zahra untuk pulang disetujui dokter karena memang tidak ada luka ataupun penyakit serius pada Zahra, kemungkinan kecapean yang membuatnya sampai tidak sadarkan diri tiga hari lamanya. Namun, ...
Sesampainya dirumah, Zahra bahkan tidak disambut oleh Mama Soraya yang sibuk arisan ditaman belakang rumahnya.
__ADS_1
"Maaf merepotkan Nyonya, sini biar saya bantu bawakan" kata pembantu dirumah Zahra.
"Mama mau ikut kekamar atau ..." tanya Aditya namun terhenti karena Mamanya langsung menjawab.
"Mama tunggu disini aja ya Dit ... selamat istirahat ya Ra, semoga cepat sembuh" kata Mamanya Aditya.
"Aamiin ... makasih tante" jawab Zahra.
"Yaudah Adit bantu Zahra ke kamarnya dulu ya Ma" kata Aditya yang kemudian berjalan ke kamar Zahra sembari membopong sahabatnya itu.
...
...
"Bi ... Anak saya, Aditya masih di kamar Zahra ?" tanya Mamanya Aditya kepada pembantu Zahra yang terlihat keluar dari dapur.
"Maaf nyonya saya kurang tau, nyonya mau nyusul atau saya yang lihatkan ?" tanya pembantunya.
"boleh saya aja yang nyusul bi ?" tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari pembantu Zahra.
__ADS_1
...
...
"Lama ya ma ? maaf ya, Zahra tadi masih ketakutan jadi Adit temenin dulu sampe tidur" Aditya berbisik setelah Mamanya masuk ke kamar Zahra dan menepuk perlahan pundaknya yang sedang menunggui Zahra ditepi tempat tidurnya.
"kamu juga butuh istirahat, pulang yuk" Ajak mamanya kepada Aditya dan anaknya itu langsung patuh dengan ucapan Mamanya.
Memang benar dari kecil Mama Soraya terlihat jelas jika tidak memperdulikan Zahra. Terlebih Mama Soraya sangat memanjakan putri bungsunya, Marwah. Sehingga membuat Marwah menjadi gadis manja yang tidak pernah mau kalah. Dia selalu terlihat sempurna dan baik didepan orang lain, bahkan orang tuanya. Tapi sebenarnya dia sangat suka membuat kakaknya terlihat buruk didepan siapa saja.
"Apa Mama benar benar gak memperdulikanku ?" Zahra memandangi langit langit kamarnya setelah bangun. Tadinya dia mencari Aditya tapi pembantunya kalo sahabatnya itu pulang bersama mamanya.
Zahra tidak mau kalau harus tambah menyusahkan Aditya dan keluarganya jadi dia lebih memilih diam berbaring di atas tempat tidur sambil memandangi langit langit kamarnya yang memang di lukis layaknya langit biru cerah dengan awan putih yang indah.
Zahra seketika menyimpulkan senyumnya melihat gambar burung di langit langit kamarnya, Aditya menggambar penuh setiap sisi kamar Zahra karena Aditya sangat pandai melukis dan Zahra menyukainya.
"Hubungi aku jika sudah bangun, lapar, atau butuh teman" sebuah oesan singkat dari Aditya masuk di handphone milik Zahra yang masih tergeletak di atas meja samping kasurnya.
Seketika pesan singkat itu dengan mudah membuat Zahra tersenyum. "Aku akan baik baik saja, istirahatlah" diapun membalas pesan singkat dari sahabat terbaiknya itu.
__ADS_1