
Hari demi hari, Bulan demi bulan. Sudah tiga bulan Zahra menghilang, tiga bulan juga Papa Reyhan koma. Bahkan ketika ulang tahun Marwah ke 10 tahun, dia tidak bisa merayakannya bersama keluarga dan teman teman seperti tahun sebelumnya.
"Kak ... Kamu dimana sih, aku janji kalo kamu kembali aku gak bakal isengin atau gangguin kamu lagi" gumam Marwah yang dalam perjalan menuju rumah sakit sepulang sekolahnya.
Semenjak Papa Reyhan dirawat, Marwah membawa semua barangnya dan ikut menginap di rumah sakit. Sedangkan Mama Soraya hanya beberapa kali saja menjenguk suaminya. Dia sekarang tidak memikirkan lagi perjanjian dengan makhluk besar itu karena Zahra sudah ditangannya. Sekarang dia memikirkan untuk menata hidupnya dan keluarganya menjadi lebih baik.
Karena sejak dia mengetahui Zahra bukanlah sepenuhnya anaknya, dia sudah sangat membenci dan jijik dengan putri sulungnya itu. Tapi, sekarang hampir setiap hari ada saja hal aneh mengganggunya, sesekali dia marah dan menuduh makhluk besar itu dan kembali ke ruangan rahasianya untuk berkeluh.
"Aku tidak ada urusan lagi denganmu. Enyahlah dan jangan buatku marah" kata sosok dibalik cermin itu.
"Lalu, siapa yang selama ini menggangguku ? bahkan makhluk itu tidak mau memberitahuku" gumam Mama Soraya berfikir tentang kejadian aneh yang dia alami semenjak Zahra menghilang.
Bagaimana tidak, dia sering memimpikan Zahra menangis dan meminta tolong padanya.
Terkadang dia terbangun di lantai kamar bahkan di dapur dan taman padahal jelas jelas Mama Soraya tidur di tempat tidurnya.
__ADS_1
Sesekali benda disekitarnya bergerak tidak wajar seakan ada yang menggerakkannya. belum lagi tawa anak kecil yang dia sering dengar dirumahnya.
...
...
"Mama ... tumben kesini jam segini" tanya Marwah yang menoleh ke Mamanya yang sedang berdiri di ambang pintu rumah sakit tempat Papa Reyhan dirawat.
"Mama hanya ingin bersama Papa dan kamu" Dengan nada lirih dia mendudukan dirinya dihadapan anaknya dan menatapi suaminya yang bahkan tak kunjung bangun.
"Bangunlah Pa, Mama capek" katanya yang sekarang mulai meneteskan air matanya. Membuat Marwah bertanya tanya dalam hatinya karena setaunya Mama Soraya adalah wanita kuat yang selalu menutupi kesedihannya. Selama Papa Reyhan koma, Tidak pernah sekalipun dia melihat Mama Soraya menangis seperti sekarang dilihatnya.
...
...
__ADS_1
"Apa kamu sudah menghubungi Ibu ?" Tanya Papanya Aditya kepada istrinya.
"Belum, kurasa tidak perlu" jawab Mamanya Aditya yang belum berhenti khawatir. Dia sangat takut jika anak dan keluarganya terlibat dengan hal mistis. Karena dia pun paham bagaimana kehidupan alam ghoib dari ibunya sendiri.
Papanya Aditya memegang tangan istrinya berharap kekhawatiran istrinya berkurang "Percayalah, semua akan baik baik saja" katanya menciumi punggung tangan istrinya.
Seketika Mamanya menoleh kebelakang, dimana Aditya duduk memandangi keluar jendela mobil. "gak bisakah kita mengurungkan niat ini Pa?" tanyanya kepada suaminya.
Aditya yang mendengar ucapan Mamanya langsung menatap tajam ke arah Papanya seakan menunggu jawaban.
"Kita lihat nanti ya, lagian kita sudah lama gak ketemu Ibu, Kita kan gak bisa bantu banyak tergantung Ibumu bisa membantu apa tidak" itulah jawaban yang paling pas untuk menengahi Aditya dan Mamanya.
"Paaa ... Awass !!" Tiba tiba ada seseorang berdiri di tengah jalan dan tertabrak mobil mereka. Namun, ketika Lelaki umur 40an tahun dan putranya itu turu mengecek sekitar, mereka tidak menemukan siapapun.
"Apa yang kita tabrak tadi Dit ?"
__ADS_1
"Entahlah Pa"
"Mungkin ..." Seakan tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Mereka saling bertatapan sebentar sebelum akhirnya memutuskan kembali kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan yang masih satu jam lagi.