
"Ra ... Zahra" seseorang membangunkan dengan menepuk nepuk pipinya. Orang itu adalah Aditya, Zahra pingsan ketika sedang jump shot dan kakinya terkilir sehingga dia jatuh dan membentur lantai lapangan basket.
Sudah tiga hari Zahra tidak sadarkan diri dirumah sakit, lengkap dengan Infus ditangan kanannya.
"aku kenapa dit ?" tanya Zahra setelah selesai mengatur napasnya.
Dari hari pertama Zahra di rawat inap, setelah pulang sekolah Aditya dengan setia menjaganya, setiap pagi Mamanya Aditya membawakannya baju sekolah dan baju ganti untuk pulang sekolah. Setiap malam Zahra berteriak seperti orang terjatuh dari ketinggian dan kembali tertidur pulas.
Aditya menceritakan kejadian itu kepada orang tua Zahra dan Marwah tapi mereka menganggap Zahra mengalami shock seperti yang dikatakan dokter.
Setelah Zahra sadar, Aditya dengan gesit langsung memanggil dokter dan Zahra pun diperiksa.
"Aku berjalan di rumah itu tapi selalu terjatuh ketika ingin memasuki satu ruangan, padahal dari jauh tidak ada lubang apapun dilantai rumah itu dit" Zahra menjelaskan kepada Aditya apa yang dialaminya selama tidak sadarkan diri.
"Apa kamu terus mengalami hal yang sama Ra ?" tanya Adit menatap Zahra serius, bahkan dia yang tadinya duduk di kursi sebelah kasur Zahra kini berpindah posisi duduk di atas kasur dan lebih dekat dengan Zahra.
__ADS_1
Tentunya membuat pikiran Zahra buyar dan beralih kejantungnya yang saat itu tiba tiba berdebar.
"Ra ... halloooo ..." Aditya melambaikan tangannya dihadapan wajah Zahra hingga Zahra kembali tersadar.
"Ya ... apa ... kenapa" Zahra kaget dan dalah tingkah.
"Kangen ya ... gitu banget mandangnya" goda Aditya yang suka mencolek dagu sahabatnya.
"Apaan sih Dit ... Kepalaku cuma lagi sedikit pusing aja" jawab Zahra mengalihkan pembicaraan, padahal sangat jelas terlihat pipinya yang merah merona.
Ketika Aditya ingin menyelimuti Zahra tiba tiba Zahra menggenggam tangannya, "Kenapa ?" tanya Aditya lembut.
"Aku takut tidur Dit ... gimana kalo aku tidur terus aku malah kebangun ditempat asing itulagi" kata Zahra, terlihat sekali dia ketakutan.
Adit berbalik menggenggam tangan sahabatnya itu dan mengusap lembut kepala Zahra dengan satu tangannya. "Aku disini ko ... tenang ya" kata Aditya.
__ADS_1
Selama di rumah itu dia terus mengalami kejadian secara berulang, dari bangun di ruangan tanpa atap yang penuh dedaunan kering, tapi di hari kedua Zahra sudah tidak menginjak pecahan kaca dan tidak menanyakan lagi ketika sosok berjubah datang menjemputnya.
Namun di ruangan mewah dimana sosok cantik yang mengaku ibunya itu berada, Zahra mengganti pertanyaannya menjadi "Kenapa saya disini lagi ? ada apa sebenarnya ?" tanya Zahra.
"Kamu akan mengetahuinya anakku" kata wanita cantik itu dan terus berjalan dan Zahra kembali terjatuh ketika memasuki satu ruangan dirumah itu.
Begitu pula hari ketiga, Zahra tetap menanyakan hal yang sama dan sedikit emosi dengan wanita cantik berselendang kuning berpadu hijau itu, namun jawabannya tetap sama.
Tepat di pintu masuk di ruangan terakhir di rumah tersebut, dimana dirinya selalu jatuh dan mengalami kejadian yang sama, Zahra menghentikan langkahnya. "Kenapa berhenti ?" tanya sosok cantik itu.
"Aku akan jatuh dan selalu mengulang kejadian yang sama" dengan ragu dan takut Zahra menjawabnya, air matanya sudah hampir jatuh karena ketakutan. Seketika sosok cantik itu mengulurkan tangannya "percayalah" katanya.
Setelah terdiam untuk beberapa saat menatap uluran tangan sosok cantik itu, Zahra memberanikan diri untuk menyambut tangan itu. Namun, ...
"Aaaaa ...." Zahra berteriak seakan dirinya tertarik kuat ke arah belakangnya dan terbangun di rumah sakit. Sampai Zahra sadar, dia masih berfikir siapa yang menariknya menjauh dari sosok cantik itu.
__ADS_1