Dua Pendamping

Dua Pendamping
Ah..Tuan Rafi


__ADS_3

Sementara itu Dirumah sakit keadaan Ibu Sriwati mulai membaik. beliau mulai duduk dan nampak nya wajahnya mulai segar.


Tak selang berapa lama Sriwati muncul dari pintu dan langsung memeluk ibunya. Ibunya sedikit heran.


"mengapa nak, kamu tidak usah kwatir ibu sudah sehat dan dokter mengatakan 2 hari lagi ibu sudah boleh pulang"


"Ibu aku membawa kabar gembira Minggu aku akan menikah, ibu mau merestuinya kan?


"Mengapa mendadak sekali Sri, Apakah dia lelaki yang baik"


"Ya Ibu dia lelaki yang baik"


"Kalau memang itu pria pilihan mu ibu merestuinya nak , tapi bisakah setelah ibu pulang nanti dia menemui Ibu terlebih dahulu?"


"Baiklah Ibu"


Keesokan harinya Sriwati tetap masuk kerja ke Butik nya Nyonya Rose.


"Maaf Nyonya boleh kah saya meminta sesuatu?"


"Ada apa Sri, apa biaya pengobatan ibumu masih kurang?"


"Bukan itu Nyonya, Ibu saya kondisi nya sudah mulai membaik, dan besok sudah boleh pulang. Maaf Nyonya Ibu saya ingin bertemu dengan calon suami. karena ini sangat mendadak, maukah Nyonya mengizinkan nya?"


"Baiklah Sri saya akan menelpon Tuan Rafi agar bisa membuat jadwal agar bisa menemui Ibumu"


"Terimakasih banyak Nyonya, dan Nyonya apabila saya telah menikah nanti bolehkah saya tetap membantu Anda bekerja di butik ini"


"Nanti saya Fikirkan dulu ya Sri"


Sri mengangguk dan pergi melanjutkan pekerjaan nya.


Tak terasa hari berganti Ibunda Sri telah pulang kerumahnya. Sedangkan Sri Wati diperintahkan Nyon nya Rose untuk menjemput Tuan Rafi untuk menemui Ibunya Sri.


Dengan kebingungan Sriwati berjalan ke kantor nya Tuan Rafi yang sangat besar dan mewah.


Karena dicurigai seorang satpam menghampiri nya.


"Maaf Nona, seperti nya anda kebingungan, anda sedang mencari siapa"


"Eh iya maaf saya sedang mencari Tuan Rafi"

__ADS_1


"Baiklah saya akan menelpon sekretaris nya terlebih dahulu, siapa nama anda"


"Sriwati"


Satpam tersebut kemudian menelpon sekretaris nya tuan Rafi menanyakan apakah Tuan Rafi mau menerima nya. dan akhirnya Sriwati diantar satpam tersebut menuju kantor nya Tuan Rafi"


Sriwati mengetuk pintu.


"Masuk" terdengar suara dari dalam


Sriwati masuk dengan sedikit takut.


Didalam ruangan yang cukup luas Tuan Rafi sudah menunggu dengan wajah tampan nya dan senyuman lembut.


Sriwati tidak berani memandang ke wajah Tuan Rafi.


Tuan Rafi memandang dari kaki hingga kepala, mengapa gadis ini begitu mungil.


Sri menggunakan Dress kantor yang sangat sederhana dengan sepatu usangnya.


"Mengapa kamu hanya diam saja, bukankah kita akan menemui Ibumu, apakah kamu hanya mematung disitu saja"


Tuan Rafi berdiri dan berjalan mendekati sri Wati. Tak sadar Sri Wati berjalan sedikit mundur. Dia hanya bisa menunduk.


Hei Gadis mungil lihat tinggi badanmu hanya sedadaku. dalam hati tuan Rafi bergumam.


Karena berjalan mundur kaki Sriwati tak sengaja membentur kaki kursi dan hampir terjerembab ke belakang.


Untung Tuan Rafi dengan sigap memeluk dan menangkap tubuhnya yang mungil.


"Hei belum apa-apa kamu sudah mencoba menggoda ku"


" Maaf maaf Tuan saya tidak sengaja terjatuh"


Berusaha melepaskan pelukan Tuan Rafi dan wajahnya berasa panas dan memerah.


"Mari kita berangkat"


Kemudian Tuan Rafi berjalan keluar diikuti Sriwati dari belakang.


Ketika sampai di mobil sopir membuka kan pintu Tuan Rafi duduk dibelakang.

__ADS_1


Ketika Sriwati hendak duduk didepan bersama sopir karena dia merasa segan untuk duduk berdua dengan Tuan Rafi.


"Hei Sri, siapa yang menyuruh mu duduk di depan, sebenarnya siapa yang akan kamu nikahi! Aku atau sopir ku"


"Baik Tuan" Sriwati pun pindah ke kebelakang.


Karena masih polos dan lugu Sriwati duduk menjaga jarak dan menjauhi Tuan Rafi.


Entah mengapa Ketika hendak mobil berjalan ada sepeda motor yang tiba-tiba mengebut didepan mobil.


Karena mengerem mendadak tubuh Sriwati terhempas ke tubuh Tuan Rafi. Tak sengaja bibir Sriwati mencium bibir Tuan Rafi. Mata Sriwati terbelalak. dan wajahnya nya malu sekali. apalagi ada sopir yang memperhatikan nya.


Wajahnya menjadi merah muda.


Ketika hendak melepaskan diri. Tangan Tuan Rafi menahan tubuhnya . Wah pasti kalah kuat. Sri begitu imut dan mungil.


Dan Entah mengapa Tuan Rafi menikmati nya.


Dan belahan melepaskan dekapannya.


"Hei Sri lagi-lagi Kamu menggoda ku, apakah kamu sudah tidak sabaran, dan mengapa wajahmu merah dan matamu berkaca-kaca. Apakah kamu baru pertama berciuman.


Sriwati tidak berani menjawab. Dia hanya sibuk mengelap bibirnya . Wajar ini adalah ciuman pertama nya dan dia merasa benar benar tidak romantis sama sekali.


Dalam hati Tuan Rafi bingung sendiri mengapa dia merasa tertarik dengan Sri gadis polos yang mungil. Dibandingkan dengan Stella yang yang memiliki dandanan yang vulgar.


Tuan Rafi dengan sengaja menggenggam tangan Sri, sangat dingin.


"Mengapa kamu terus mengelap bibir mu, apakah karena bersentuhan dengan bibir ku""


"Maaf Tuan..."


Sri Wati per lahan Henda k melepaskan genggaman tangan Tuan Rafi. Tapi tidak bisa lagi lagi dia kalah tenaga.


"Hei Sri aku hanya berusaha menghangatkan tangan mu? jangan berani kamu melepaskan


Fokus ke jalan , mengapa kita dari tadi tidak sampai sampai, apakah kamu sengaja mengajak ku berputar putar"


Tubuh Sriwati merasa menggigil


"Tidak Tuan, masuk lorong sebelah kiri rumah paling ujung berwarna biru Tuan ,Kita akan segera sampai"

__ADS_1


__ADS_2