Dua Pendamping

Dua Pendamping
Dirumah Sriwati


__ADS_3

Tak lama mereka sampai didepan Rumah Sriwati. Rumahnya ternyata kontrak an bedeng panjang. Rumah Sriwati sangat sederhana. Pintu dibukakan oleh Gilang Adik Sriwati. Tuan Rafi melangkah masuk kedalam Rumah itu dia mengamati tidak ada benda mewah sedikit pun dalam rumah itu.


Sri Wati membuat kan minuman


"Jadi Sri kalian cuma bertiga tinggal disini?"


"Iya Tuan, Ayahku sudah lama meninggal sejak kami kecil"


"Jadi Ibu mu tulang punggung dirumah ini"


"Iya Tuan saya dan Ibu berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari"


Sedang asyik mengobrol datang seorang Bapak kontrakan.


"Sri Sri.."


"Iya Pak"


"Sri ingat kontrakan mu habis dalam 2 Minggu ini kalau kamu tidak bisa bayar kamu harus segera pindah"


"Baik Pak" Sri hanya bisa menghela nafas.


Tuan Rafi hanya bisa memperhatikan kejadian tersebut.


Tak lama sambil dipapah Gilang Adik nya Sri.


Ibu Sriwati keluar dari kamar menemui Tuan Rafi.


Ibu Sri Kelihatan terkejut melihat pemuda sangat tampan dengan penampilan seperti seorang direktur.


"Maaf nak siapa namamu"


"Nama saya Rafi Ibu"

__ADS_1


"Kalau saya boleh bertanya benarkah kamu akan menikah Dengan anak saya Sri"


"Iya Ibu"


"Seperti yang kamu tahu nak kami hanya orang biasa, Saya sengaja mengundang mu agar bisa melihat keadaan kami sesungguhnya, agar kamu tidak menyesal memilih Sri sebagai istrimu. Dan sebagai Ibu saya tentu berharap anda bisa membuat nya bahagia. karena dari kecil Sri sudah banyak mengalami kesulitan, dari kurang kasih sayang dari ayahnya karena meninggal dan kami harus berjuang terus untuk tetap bertahan hidup. Dan permintaan Saya nak maukah kamu berjanji menyayangi nya dan membahagiakan nya?"


"Saya berjanji Ibu"


"Hanya itu saja yang Ibu sampaikan. Kira kira kapan pernikahan nya akan dilangsungkan"


"Dirumahku Ibu"


"Baiklah Rafi. Ibu menyetujui nya. Ibu tinggal Istirahat dulu ya."" ya Ibu"


Ibu Sri pun kembali ke kamar nya.


"Apakah anda ingin kembali ke kantor tuan Rafi"


"Kamu mengusir ku Sri"


"Jadi akan pindah kemana kamu? karena kontrakan mu habis"


"Saya belum tahu Tuan. Saya akan bekerja paruh waktu untuk mencari tambahan setidaknya saya bisa memperpanjang 1 bulan tuan"


"Kamu tidak perlu begitu Sri aku mempunyai beberapa rumah dan apartemen. Ibumu dan adikmu bisa tinggal disana


Sedangkan kamu harus tinggal bersama ku dan Istri ku Rose. Besok aku akan menyuruh karyawan untuk membantu pindah rumah."


"Baiklah Tuan, saya akan membalas segala kebaikan Tuan"


"Tentu kamu harus membalas nya"


Tak lama Tuan Rafi pun pamit dari rumah Sriwati.

__ADS_1


Ibu Sriwati memanggil Sriwati.


"Sri dimana kamu bertemu dengan Rafi


seperti


nya dia bukan orang sembarangan. atau mungkin ada yang kamu rahasia kan"


"Dikenalkan teman Ibu"


Sriwati hanya bisa tertegun dia hanya bisa berbohong untuk saat ini. karena kondisi jantung ibu nya . Dia tidak mungkin mengatakan kalau akan menjadi hanya istri kedua. Dan Sri pun tidak tahu berapa lama akan bisa bertahan karena dia bisa saja dibuang. Kalau Tuan Rafi dan Nyonya Rose tidak membutuhkan nya lagi.


Sampai dirumah Tuan Rafi langsung bergegas kelantai 2 untuk menemui Rose.


"Istriku Rose"


"Ya suamiku, bagaimana pertemuan mu dengan ibunya Sri, apakah berjalan lancar"


"Ya istri ku ternyata keadaan keluarga nya sangat memperhatinkan"


Tuan Rafi pun menceritakan semua yang ia alami.


" Aku bermaksud membantu nya supaya Ibunya Sri dan adik nya bisa tinggal dirumah dekat kantor ku, Rumahnya tidak terlalu besar tapi sangat nyaman untuk mereka"


"Baiklah Suamiku aku sangat setuju"


Kemudian Tuan Rafi mengedipkan mata nya. dan meminta Kode bahwa ia ingin dilayani malam ini"


Malam semakin gelap dan larut.


Mereka pun bermesraan. Tuan Rafi mulai mengecup mesra bibir dan leher jenjang istrinya.


Nyonya Rose. pun tak mau kalah membalas nya. Seraya membisikan kata. Suamiku apabila kamu sudah mempunyai istri kedua nanti. Aku mau kamu masih tetap mesra seperti malam ini.

__ADS_1


Tuan Rafi langsung memeluk dan mendekap istri nya sampai mereka kelelahan sendiri. dan akhirnya tertidur lelap tanpa sehelai benang pun yang menutupi.


Mereka hanya berharap semua akan berjalan lancar.


__ADS_2