Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
Rencana Ibu


__ADS_3

Hilman melewatkan shalat subuhnya,ia dibangunkan ibunya sedari azan berkumandang namun ia tak bergeming. Pagi ini ibunya membuatkan sarapan sederhana nasi goreng sisa nasi kemarin dan telur dadar beserta teh panas. Ketiga masakan itu masih panas, uapnya mengepul keudara, Hilman sudah bangun ia bahkan sudah asyik dengan telepon genggamnya ia menghubungi Elea pagi-pagi, meminta maaf dan meminta bertemu sore ini dikafe sepulang kerja.


"kamu kirim pesan sama siapa?" tanya ibunya sembari duduk didepan Hilman. "teman bu, " jawab Hilman singkat tentu ia masih ragu untuk berterus terang dengan semua kemelut perasaannya saat ini. "ibu tahu kamu sibuk akhir-akhir ini usaha yang sedang kamu bangun, alhamdulillah sudah lancar kan? Tapi nak rasanya tidak pantas seorang hamba yang sudah diberi segala bentuk rejeki oleh sang penciptanya toh nyatanya meninggalkan penciptanya. " terang ibunya, ibu Romlah tentu tak pernah mendidik Hilman menjadi manusia yang lupa akan kewajibannya dengan Sang Khaliq, tapi kali ini Hilman benar-benar sudah berubah ia menjadi anak yang lebih mementingkan Hpnya ketimpang mengobrol dengan ibunya.

__ADS_1


Jika, ibunya tahu bahwa Elea mengubah Hilman menjadi pribadi yang berbeda pasti ibunya akan menolak keras kehadiran wanita itu. Elea mungkin tak pernah bermaksud membuat Hilman berubah tapi Hilman kini memperioritaskan Elea sekarang setidaknya ibu Romlah merasakan itu. "maaf bu, semalam aku benar-benar capek tidak dengar juga ibu bangunin" timpal Hilman. "nak, ibu ingin bicara soal Sarah dari kemarin tapi kamu serasa tidak ada waktu dengan ibu, kamu asyik dengan pekerjaanmu jika pulang pun kamu asyik dengan duniamu sendiri.


"Hilman, ibumu ini sudah tua nak, sudah sakit-sakitan ibu ingin sekali melihatmu menikah dengan wanita yang ibu pilihkan." jelas Romlah mulai menerangkan maksudnya Hilman terdiam, akhirnya waktu itu datang juga waktu dimana selalu ia hindari kini sudah tiba saatnya ia ambl keputusan.

__ADS_1


"Hilman, jangan pernah menjadikan uasahamu sebagai alasan kamu akan menghindari pernikahan ini ibu tak setuju." lanjutnya "Sarah perempuan baik nak, ia sholeha ia pasti akan menemanimu membesarkan usahamu kelak,kamu akan bersyukur dengan semua keputusan yang ibu pilihkan kepadamu, ibu tidak sembarangan memilihkanmu seorang istri ibu memilih yang terbaik. " lanjutnya lagi Hilman masih tertegun, rasanya ia sudah tidak memiliki alasan untuk menolak ia juga tak mungkin berterus terang soal Elea kepada ibunya.


"bu, aku tidak mencintai Sarah, aku menyukainya sebagai saudara hanya itu" Jawab Hilman mengelak. "cinta bisa tumbuh dengan seringnya kita bersama Hilman, Allah yang menumbuhkan cinta itu didalam setiap Hambanya." kini Hilman menelan ludah selesai sudah percakapan hari itu Hilman tak bisa menolak lagi semua persiapan pernikahannya sudah diatur oleh ibunya ia hanya tinggal menjalani.

__ADS_1


Sekali lagi dalam hidupnya ia tak memilih kuasa untuk menolak kemauan ibunya meski itu menyangkut kebahagiaannya. Hilman melamun seharian dibengkel, kini ia sudah memiliki karyawan, namanya adi anak muda yang baru lulus STM sengaja ia pekerjakan agar bisa mengurangi pekerjaan Hilman. Hilman meraih telepon genggamnya,ia mengirim pesan ke Elea "aku menunggumu di kafe biasa" Hilman meletakkan teleponnya ia segera bergegas mandi dan berpakaian tak sabar rasanya ingin bertemu Elea agar semua kegundahannya lenyap.


__ADS_2