
Setelah pertemuan kedua itu kini Elea maupun Hilman seakan dimabuk dengan perasaannya masing-masing, Elea hampir tidur larut setiap malam begitupun dengan Hilman kedua manusia ini sedang menikmati candu asmara meski tak ada yang berani dari keduanya untuk berterus terang terlebih dahulu.
Elea masih sibuk dengan khayalannya seolah Hilman turut serta hadir disebelahnya. Membelainya dengan lembut dan mengucapkan selamat malam kepadanya. Elea benar-benar sudah dimabuk asmara, malam itu Elea sudah berinisiatif akan menemui Hilman lagi mengajaknya berkenalan dan meminta nomor telepon genggamnya. Elea tidur pulas malam itu ia sudah bertekad dan sebagai perempuan yang dewasa ia tidak akan malu jika memulai perkenalan lebih dulu.
__ADS_1
Sementara itu Hilman masih terjaga silih berganti senyuman Elea dan Sarah terbayang dipelupuk matanya sehingga ia sulit terlelap. Bagaimana jika kedua perempuan itu menginginkannya, sedang Hilman tidak bisa memilih antara mengecewakan ibunya atau mengikuti kata hatinya. Jika sudah mencakup lebahagiaan ibunya Hilman selalu kalah selama ini ia menjadi anak yang sangat berbakti, ia sudah bertekad akan selalu membuat ibunya bahagia meski harus mengorbangkan kebahagiaannya.
Ibunya selalu berharap Hilman menjadi anak yang selalu menurut, dan kini dengan menjodohkan Sarah dan Hilman ibunya merasa bahwa Hilman akan sangat bahagia. Bukankah Sarah adalah pilihan yang tepat rasanya tak ada celah untuk menolaknya menjadi seorang istri. Tapi Hilman sudah memiliki tambatan hati, seorang wanita sederhana yang berhasil membuatnya bergetar.
__ADS_1
Pertemuan keduanya dengan Elea sudah cukup meyakinkannya bahwa Elea adalah satu-satunya perempuan yang ia sukai. Setiap inci dalam dirinya bisa membuat Hilman terpesona. "Besok, aku akan mengajakanya berkenalan. Rasanya aneh meski aku bahkan tak tahu namanya namun seakan ia perempuan yang sudah lama mengisi kekesongan hatiku." gumam Hilman. Ia akhirnya terlelap bersama bayang-bayang senyuman Elea yang mempesona.
Sarah juga sangat dekat dengan ibu Hilman, sejak ibunya meninggal dua tahun lalu ibu Hilman-lah yang selalu menghiburnya, mendukungnya dan menemaninya melewati waktu-waktu sulit. ia sudah menganggap ibu Hilman adalah ibunya sendiri. Jadi rasanya tidak ada alasan bagi Sarah maupun Hilman untuk menolak perjodohan ini toh semuanya juga sudah saling dekat dan seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
Namun Sarah tidak tahu bahwa tidak semua ingin manusia sejalan dengan takdirnya. Terkadang sang pencipta ingin hidup kita berbelok agar kita tahu seberapa tangguh dan kokoh kita menapaki jalan berbelok itu,meski pada kahirnya takdir jualah yang menentukan kisah akhirnya.
Begitupun antara ia dan Hilman rasanya Sarah terlalu percaya diri bahwa perjodohannya dengan Hilman akan membawa cerita indah dalam hidupnya. Ia lupa bahwa hati selalu tak bisa ditebak, perasaan manusia sangat mudah berubah dan sebagai Hamba kita hanya bisa memohon pada sang pemilik perasaan.
__ADS_1