Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
Lelaki yang Tepat


__ADS_3

Elea kembali membolak balikkan badannya, matanya enggan terpejam. Ia membayangkan banyak hal semalam ia dikirimin foto undangan oleh Andini, andini kini akan melepas masa lajangnya. Ia tersenyum bahagia, ia akan akan datang ke kota Andini mengahadiri resepsinya.


Ia membayangkan juga masa depannya yang menikah dan punya anak, tapi dengan siapa. Ia tersenyum kecut hatinya belim siap menerima siapa-siapa apalagi yang usianya sekarang siapa kira-kira yang akan menerimannya.


Pagi itu Elea berkemas agak tergesah karena ijin cutinya selama tiga hari baru di setujui semalam. Elea hanya membawa beberapa potongan baju,ia juga akan menginap di hotel selama disana. Elea mengemasi barangngya mobil grab yangbia pesan sudah datang. Ia langsung menuju bandara.


Bali, kota yang Indah bukan. Elea menuju hotel akad pernikahan berlangsung besok ia masih sempat ketemu andini sebelum akad, ia janjian dengan Andini di lobi hotel. Andini sudah menunggu disana dengan calon suaminya, dan lelaki yang tentu tak asing bagi Elea Raka. Yah lelaki itu juga ada disana menunggu Elea.


Elea bergegas menuju kearah mereka bertiga, rencana hari ini mereka akan mengecek gedung untuk besok. Elea duduk didepan berseblahan dengan Raka yang fokus mengemudi. Elea mencuri-curi pandang kepada Raka ia baru sadar Raka lelaki yang berkarisma.


Mereka bertiga sampai di gedung, setelah bertemu dengan WO nya persiapan sudah 90% mereka sangat senang dan puas. Elea berkeliling melihat-lihat semua pernak-pernik. Ia masih merasa ia juga berhak suatu hari nanti akan di sibukkan dengan acara seperti ini. Ia menatap meja akad dengan lama, kapan Allah kirimkan seseorang yang akan memegang tangan ayahnya. Pikirnya polos sambil tersenyum geli.


Masih asyik dengan lamunannya Raka mendekat "hem..." Raka berdehem dan membuat Elea berbalik. "Andini dan pacarnya sedang lunch,katanya saya di suruh anterin kamu pulang ke hotel,mereka ada pertemuan dengan keluarga inti katanya" Raka menjelaskan.


"oke, makasih yah" balas Elea. "kita makan siang dulu gimana,aku tahu restoran enak disekitar sini," ajak Raka. Elea mengangguk. Mereka berdua pun makan bersama, layaknya teman tidak ada yang spesial dari oertemuan mereka pada saat itu bahkan setelah acara pun selesai Elea masih biasa-biasa saja ke Raka.


Semua sudah beres Elea sudah dibandara lagi, tiga hari di bali cukup menguras tenanganya, meski ia hanya datang sebagai tamu tapi Andini kerap melibatkannya. Elea mengantuk, ia tidur sepanjang jalan.

__ADS_1


Pagi itu Elea bergegas ke kantor,banyak meeting dengan editor hari ini. Elea masih belum menyelesaikan desain sampul beberapa novel yang masuk.


Elea masih mematung di teras rumahnya,ia memandangi taman kecil dan ikan yang berenang bebas. Ia masih suntuk hari ahad yang bosan. Segelas kopi dan roti lapis menemani paginya, sudah dari tadi ia termagu. Tiba-tiba suara telepon membuyarkan lamunannya.


"assalamualaikum ibu, ia ibu aku baik-baik saja, ini lagi ngopi-ngopi cantik di teras," jawab Elea. Rupanya telpon dari ibunya ia ingin Elea segera pulang ada yang ingin ibunya bicarakan katanya.


Elea pagi itu memutuskan pulang ke rumah ibunya 4 jam perjalanan darat dan nyetir sendiri membuat seluruh badan Elea rubuh. Ia kini sampai di rumahnya, rumah masa kecilnya itu yang menyimpan kenangan. Rumah yang selalu ia rindukan untuk pulang kemanapun ia menginjakan kaki di belahan bumi ini.


Elea masuk kekamarnya, ia terlelap. Ibunya sibuk menyiapkan makanan di dapur sedang ayahnya ke ladang mengambil daun singkong untuk dijadikan lalapan. Elea bangun tepat sebelum duhur, ia mandi dan makan. Masakan ibu selalu juara sesederhana apapun itu.


Setelah makan Elea duduk di ruang tàmu ayahnya menghampirinya. Tak lama ibunya juga datang membawakan kopi untuk ayahnya. Mereka bertiga duduk sambil mengobrol.


"anaknya sekolah di turki,tàpi sudah selesai katanya dan sekarang lagi di indonesia. Ia pulang sebentar mengahadiri pernikahan sepupunya" sambung ibunya.


"apakah kamu tidak keberatan nak, ato kamu sudah punya calon, ibu dan ayah tak mau memaksamu soal ini kamu sudah cukup dewasa untuk itu". Ibunya memang tak pernah memaksakan kehendaknya. Semua keputusan Elea dalam hidupnya ia selalu putuskan sendiri. Tapi kali ini beda, Allah ternyata melibatkan orang tuanya.


"apakah menurut ibu dan ayah dia baik untuk Elea?" Elea kini ingin keputusan itu ada di orang tuanya,Elea sudah cukup puas dengan semua keputusan amburadulnya dalam hidup.

__ADS_1


"kami berdua mengira, dia anak yang baik. Beberapa kali ia datang kesini dengan ayahnya, kami dengan senang hati menerima jika kamu tak keberatan nak". Yakin ibunya


"elea, akan mengikuti keputusan ibu dan ayah" Elea menangis bukan karena ia tak tahu siapa calonnya tapi karena ia tahu ayah dan ibunya tak akannsalah pilih untuknya. Kini ia pasrahkan semuanya kepada Allah mudah-mudahan keputusannya tepat.


"kamu mau ketemu dulu nak,?" elea menggeleng. Kali ini ia tak ingin terjebak, ia kini percayakan kepada orang tuanya saja. Elea masuk kamar, ia shalat istikhara agar menambah keyakinannya. Kini Elea sudah percaya bahwa ia menyakini keputusannya benar.


Elea tidak bisa tidur malam itu, ia agak sedikit menyesal menolak pertemuan dengan lelaki yang meminangnya. Tapi ia tak mungkin bilang ke ibunya untuk bertemu kan, elea tentu gengsi.


Pagi itu rombongan dari pihak lelaki datang kerumah Elea, mereka datang secara resmi untuk melamar Elea. Rumah orang tua Elea sudah dari subuh penuh sesak, tetangga sudah berhuyun-huyun datang membuat makanan dan penyambutan rombongan pelamar.


Elea masih dikamarnya setelah shalat subuh ia mandi dan berhias sedikit, abaya dengan warna nude dipadukan hijab panjang menutupi separuh tubuhnya. Ia sangat elegan dan cantik hari ini. Ia akan dipinang oleh laki-laki yang namanya saja bahkan ia tak tahu. Ia cuma berharap Allah benar-benar membimbingnya kelak menjadi istri yang sholeha.


Ba'dah duhur Elea sudah duduk terdiam di kamarnya, ia masih menerka-nerka bagaiman sosok lelaki yang akan mendamoinginya kelak, apa ia harus menceritakan masa lalunya. Tapi ia takut bagaimana jika ia tak menerimanya.


Elea masih berselancar dengan pikirannya, suara sholawat terdengar di depan rumah. Rupanya rombongan pelamar sudah datang. Elea membuka kaca jendelanya sedikit ia tak melihat wajah yang ia kenal. Masih sibuk mencari siapa sosok lelaki itu, taoi ia tak temukan yang kira-kira cocok dengan diskriosi ibunya kemarin. Ia kecewa namun ia bisa apa.


Semua rombongan sudah masuk kerumah, mereka kini membicarakan rencana pernikahan. Pernikahan akan di langsungkan pekan depan, mereka tak bisa menunggu lama. Gedung dan semua katering serta gaun akan di tanggung sepenuhnya pihak lelaki.

__ADS_1


Elea kini dipanggil keluar, setelah mengucapkan Bismillah ia keluar kamar dengannsangat anggun. Ia menunduk tak berani mengangkat kepalanya. Calon mertuanya tertawa renyah, ia mengenal Elea sejak masih kecil sekarang ia sudah sedewasa ini, ia memuji kecantikan Elea. Elea masih bigung siapa sosok didepannya kini.


__ADS_2