Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
part II kado pernikahan.


__ADS_3

Elea mengusap air matanya, tak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang seakan seluruh energinya tersedot, ia meringkuk di sudut kamarnya. Hilman lelaki berengsek itu telah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Seperti filem romantis kenangan bersama Hilman kembali menari-nari didepannya. Kini, ia semakin terisak rasanya baru kemarin ia menjadi wanita paling bahagia sekarang dipatahkan oleh takdir, ia menjadi wanita paling tersakiti.


Hilman telah merengguk seluruh kebahagiaannya, ia masih meringkuk disudut kamarnya, entah sudah berapa banyak ia mengeluarkan air mata malam ini. Dadanya sakit, suaranya parau. Berkali-kali Hilman menghubunginya tak ia gubris. Telepon genggamnya kini ia banting di kasur. Ia lemah, ia tak berdaya. Seakan seluruh dunianya hancur.


Bagaimana tidak, lelaki yang dengannya ia merangkai seluruh mimpinya, lelaki yang dengannya ia berikan seluruh cinta tulusnya, lelaki yang dengannya ia serahkan hampir seluruh tubuhnya ia nikmati. Kini telah merangkai mimpi dengan orang lain. ia semakin terisak, bulir-bulir air matanya tak berhenti menetes.


Kini ia harus melihat seluruh impian dan cita-citanya hidup bahagia dengan lelaki terkasihnya terwujud, tapi bukan dengannya melainkan bersama wanita lain. Elea memegangi kepalanya, ia merasakan sakit kepala hebat tenggorokannya kering. Ia mencoba bagkit meraih bantal diranjangnya dan berbaring disamoing ranjang. Ia sudah tak punya kuasa untuk naik ketempt tidur. Tubuhnya babak belur fisik dan mentalnya kini sedang lelah. Ia mencoba tertidur dalam kesedihan dan air mata.


Hilman sampai dirumhnya, ia disambut Sarah namun Hilman acuh. Ia langsung saja masuk ke dalam kamar, malam sudah larut Sarah sengaja tak menghubunginya ia hanya menunggunya pulang. Sarah sudah memiliki firasat Hilman akan menyelesaikan semua masa lalunya.


Hilman ganti baju dan mandi dan siap untuk tidur, "sudah shalat isya mas?" Sarah memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


Hilman tak menjawab, ia hanya membenamkan dirinya di kasur, ia lelah ia tak mau berbasa basi sekarang ia hanyabingin tidur. Ia masih sangat kecewa dengan semua yang telah terjadi dalam hidupnya.


Hilman ingin marah tapi marah kesiapa, ia tak bisa melampiaskan kemarahnnya ke Sarah, gadis ini tak bersalah. Hilman tak bisa tidur, Sarah yang tidur disampingnya terlihat damai. Hilman memandangi Sarah cukup lama, ia merasa tenang setelah melihat wajah Sarah, wajah gadis ini begitu teduh.


Hilman masih memandangi Sarah, ia telah berdosa melukai dua wanita sekaligus. Hilman menyentuh wajah Sarah dengan lembut, membuat Sarah membuka matanya. Sarah, memandang Hilman lekat-lekat, Hilman juga memandangi Sarah. Ia masih memegang wajah Sarah, dan perlahan mendekatkan wajahnya kewajah Sarah. Hilman mencium bibir Sarah, Sarah memejamkan mata. Hilman menarik diri, ia masih memegang wajah Sarah sambil mengus-usap bibir Sarah lembut.


"kamu, selalu menjadi gadis penggoda setiap kali didalam kamar, selalu menggoda dan membuat kelaki-lakianku tertentang". Ucap Hilman lirih. Sarah mendekatkan bibirnya ke bibir Hilman ia mencium Hilman sambil memejamkan mata. Mereka berciuman dengan penuh mesra, malam itu Hilman melupakan Elea lagi


Sarah, masih berada dipelukan Hilman sekarang ia memeluk Hilman erat seakan menandakan bahwa Hilman miliknya dan tak ingin ia bagi dengan wanita manapun didunia ini. Hilman masih mendekap Sarah, Sarah dengan manja menggoda Hilman. "apakah malam ini akan berubah jadi malam yang panas lagi?" tanya Sarah.


Hilman merasa tertantang dengan ajakan Sarah dengan cepat ia melucuti seluruh pakaian Sarah, ia sudah mencium Sarah berkali-kali dengan ganas tapi kali ini sudah tak seganas yang lalu. Hilman melucuti seluruh pakaiannya dan kembali keatas Sarah mereka sudah siap bertarung lagi. Sarah sudah mulai mahir meladeni setiap gerakan Hilman. Silih berganti mereka saling menindih.

__ADS_1


Seperti biasa, setelah mengahabiskan malam yang panas dan panjang Hilman terlelap lelah ia tudir pulas sekali. Sarah sudah selesai shalat Tahajjud, ia menangis diatas sajadahnya, ia tahu hati Hilman masih milik wanita lain tapi Sarah masih berjuang, ia tak mau menyerahkan lelaki yang sudah bertahun-tahun ia cintai dalam diam, yang sudah bertahun-tahun pula ia sebut dalam doa-doa panjangnya menjadi milik wanita lain. Ia jelas tak ikhlas.


Suara sholawat-sholawat Nabi sudah terdengar sangat jelas di toa masjid. Ini menandakan sebentar lagi memasuki waktu shalat subuh, Sarah membangunkan Hilman, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya, Hilman membuka matanya. Senyum Sarah sudah mereka disampingnya. Hilman memperbaiki perasaannya, ia lalu duduk sebentar di kasur lalu meraih handuk yang disodorkan Sarah.


Hilman mandi, lalu berpakain ke masjid. Sekarang ia sendiri ke masjid dan memilih mengendarai motornya, paman made sudah pulang tadi pagi, ia tidak bisa meninggalkan toko kelontongnya lama-lama ditutup,itu satu-satunya penghasilan mereka. Meski paman made tidak dikarunia anak ia masih sangat giat bekerja.


Sesampainya di masjid, Hilman disambut mertuanya. Dan Subuh ini Hilman jadi imam di masjid. Setelah beberapa tahun akhirnya Hilman menjadi imam lagi. Sarah mendengar suara Hilman, hatinya sejuk. Salah satu juga alasan kenapa Sarah begitu menyukai Hilman karena Hilman memiliki suara merdu ketika mengaji.


Elea pagi ini masih tergolek di pembaringannya, ia masih tak bisa bergerak. Matanya bengkak, ia memaksakan diri mengambil telepon genggamnya yang sejak semalam tergeletak di sudut kasur. Ia mengirim pesan kepada andini bahwa hari ini ia tak masuk, ia kurang sehat.


Ia melihat ada puluhan panggilan dari Hilman,ia tak gubris. Bahkan pesannya pun tak ia baca. Ia sudah tak punya kuasa meladeni Hilman meski hatinya masih sepenuhnya mencintai Hilman. Ia hanya pura-pura terlihat tak senang kepada Hilman meski hatinya masih begitu mengingikannya. Ingin rasanya ia tarik semua kata-katanya semalam tapi Elea masih punya hati dan harga diri. Dan sekarang harga dirinya sedang terluka.

__ADS_1


Elea kembali memjamkan matanya, matahari sudah meninggi ia masih berbaring, ia tak punya niat untuk ngapa-ngapain hari ini. Ia hanya ingin terus baring dan menangis. Ia membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya wajah Hilman terbayang, ia ingat bagaimana ia menghabisakan malam bersama diatas motor, saling bergandengan tangan berjalan beriiringan sambil tertawa. "Akh, Hilman sampai kapan aku harus menangisi penghiatannmu?" gumam Elea.


Ia kini menjadi wanita lemah, Elea yang tangguh dan mandiri seakan hanyut bersama dengan kepergian Hilman. Elea wanita malang ini mencintai diwaktu dan orang yang salah. Seandainya saja waktu bisa diulang ia akan memilih mendorong motornya ke bengkel lain agar tak bertemu Hilman dan akhirnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


__ADS_2